Mahasiswa Kecam Kontes Model | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Mahasiswa Kecam Kontes Model

Foto Mahasiswa Kecam Kontes Model

* Pihak Hotel Minta Maaf
* Even di Aceh Harus Syar’i

BANDA ACEH – Puluhan mahasiswa dari Gabungan Mahasiswa Banda Aceh-Aceh Besar menggelar demo di Bundaran Simpang Lima, Banda Aceh, Selasa (1/3). Mereka mengecam penyelenggaraan model hunt di Hotel Grand Nanggroe Banda Aceh yang modelnya berpakaian tak sopan. Kecaman juga disuarakan untuk pencatutan nama Aceh dalam ajang Miss Indonesia.

Demo berlangsung setengah jam dimulai pukul 11.30 WIB. Peserta demo dari Universitas Abulyatama (Unaya), Politeknik Venezuela, Politeknik Kesehatan, dan Universitas Iskandar Muda (Unida).

Koordinator Aksi, Alfarisi meminta pemerintah menindak tegas panitia penyelenggara kontes model, agency, dan pihak hotel tempat acara itu berlangsung. Even yang mereka gelar itu sudah melecehkan kearifan lokal dan melanggar syariat Islam.

“Komitmen pihak hotel dalam mendukung syariat Islam di Aceh juga harus dipertanyakan. Saya yakin, panitia dan pihak hotel sudah tahu jika penampilan dengan pakaian yang tidak diperbolehkan di Aceh, tapi mereka tetap melaksanakan,” ujar Alfarisi.

Presiden Mahasiswa Unaya, Muslim, juga menyorot kasus Miss Indonesia. Menurutnya, pemerintah harus mengambil tindakan tegas, karena hal itu sudah berulang kali terjadi.

Menurutnya, surat protes dari Disbudpar Aceh tidak cukup. Gubernur dan Wali Nanggroe harus menuntut permintaan maaf dari kontestan yang mewakili Aceh dan pihak penyelenggara Miss Indonesia itu.

Menanggapi dua peristiwa kontroversi itu, Muslim menduga ada upaya pihak tertentu untuk menghancurkan syariat Islam di Aceh dengan cara memengaruhi generasi muda.

Ketua Pelajar Islam Indonesia (PII) Aceh, Alimuddin Armia juga mengecam perhelatan modeling tersebut. Dengan kejadian itu, kekhususan Aceh dengan syariat Islam, dia nilai sudah tercoreng. PII meminta Pemko Banda Aceh dan kepolisian mengambil sikap tegas dengan memberi sanksi kepada pihak hotel, panitia, dan sponsor, apalagi acara itu tanpa izin.

 Permintaan maaf
Sementara itu, Operasional Manager Hotel Grand Nanggroe, M Hartanto Budiman melalui kuasa hukumnya, Safaruddin SH, secara khusus menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat Banda Aceh karena telah menyewakan tempat untuk Indonesian Model Hunt pada 28 Februari 2016.

Pihaknya juga berkomitmen menjadikan hotel tersebut sebagai model hotel bersyariah di Kota Banda Aceh.

Pernyataan itu dia sampaikan di hadapan Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal SE, Ketua MPU Banda Aceh, Tgk H A Karim Syaikh, Kepala Satpol PP dan WH Banda Aceh Yusnardi, Asisten Setdako Banda Aceh, Bachtiar SSos, Kabag Humas Wirzaini Usman, dan beberapa staf lainnya dalam konferensi pers di Ruang Rapat Wali Kota, Banda Aceh, Selasa (1/3).

Pihaknya juga menandatangani surat pernyataan agar tidak mengulanginya lagi perbuatan serupa. “Terhadap keteledoran ini, pihak manajemen hotel meminta maaf. Ke depan kita akan lebih selektif lagi (dalam menerima tamu atau memberikan izin tempat kepada penyelenggara acara). Kita juga berkomitmen untuk menjadikan hotel Grand Nanggroe sebagai model hotel bersyariah,” katanya.

Safaruddin menambahkan, pihak manajemen berjanji tidak akan memberikan sewa fasilitas hotel untuk kegiatan yang bertentangan dengan syariat Islam. “Jika kami melanggar, kami siap dipanggil kembali oleh Wali Kota dan ditindak sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku,” ujar Safaruddin.      

Ketua MPU Banda Aceh, Tgk H A Karim Syaikh di akhir pertemuan mengatakan, semua pelaku usaha di Banda Aceh harus mendukung pelaksanaan syariat Islam. Pemko pun punya kewajiban melindungi usaha yang menjalankan syariat Islam, termasuk usaha hotel.

 Jadi pelajaran
Di sisi lain, kontes model yang berakhir dengan penghentian oleh Wali Kota Banda Aceh, karena melanggar syariat Islam itu, masih saja memicu reaksi dari berbagai kalangan.

Wakil Rektor UIN Ar-Raniry, Dr Syamsul Rijal MAg berharap kejadian ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak yang akan menggelar berbagai even di Aceh. “Aceh harus bebas dari benturan kultural. Semua even yang digelar sejatinya sejalan dengan spirit syar’i. Jika tidak, maka akan selalu ada benturan kultural,” kata Syamsul menanggapi heboh kontes  model di Grand Nanggroe yang dibubarkan Ibu Wali Kota itu.

Dia katakan, menghindari benturan kultural itulah salah satu perwujudan damai Aceh. Damai Aceh tak boleh dimaknai sebatas damai tidak ada lagi tindak kekerasan dan atau ‘perang’ vertikal antara Aceh dan pusat. “Damai di sini juga bersifat multiperspektif, tidak terjadi benturan kultural, tidak ada benturan sosioekonomi, tidak ada benturan politik. Itulah esensi damai yang sangat amat diperlukan, sehingga Aceh lebih sejahtera dan sejajar dengan provinsi lain dari multisisi berkehidupan,” kata Syamsul.

Kebijakan Wali Kota Banda Aceh membubarkan kontes model itu dinilai Wakil Rektor UIN tersebut sebagai bagian dari upaya menghindarkan adanya benturan. “Segenap aktivitas yang dilegalkan harus sejalan dengan spirit syar’i. Jika tidak, maka akan muncul benturan kultural yang pada gilirannya merusak tatanan nilai normatif keacehan.”

 PHRI panggil
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Aceh, Hendra Budiansyah mengatakan, pihaknya segera memanggil para manajer hotel di Aceh. Pemanggilan itu sehubungan dengan digerebeknya kontes model bertajuk Indonesia Hunt 2016 di Hotel Grand Nanggroe, Minggu (28/2) oleh Wali Kota Banda Aceh.

Hendra Budiansyah yang juga Wakil Ketua DPRK Banda Aceh itu menjelaskan, pemanggilan tersebut untuk duduk bersama membicarakan banyak hal menyangkut perhotelan, terutama menyangkut penggerebekan kontes model oleh Wali Kota Banda Aceh.

Menurutnya, pertemuan itu nantinya juga lebih khusus untuk menyamakan visi menyangkut setiap kegiatan, termasuk kegiatan seni yang diselenggarakan di hotel harus terbuka dan ada izin dari polisi.

Selain itu, kata Hendra, pihak hotel juga tak boleh sembarangan menerima order kegiatan sebelum mengetahui persis agenda dan tujuan dalam kegiatan itui. Apalagi, tambahnya, jika kegiatan itu di luar seni dan budaya Aceh yang selama ini lazim dilaksanakan. (mis/mas/mun) (uri/inaldy/eryance/RG)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id