Kalau Masih Ada Sabu, Senjata pun Pasti Ada

oleh

SECARA terpisah, Serambi mewawancarai Zakaria Saman alias Apa Karya, mantan menteri pertahanan GAM yang sangat mengerti seluk-beluk pasokan senjata ke Aceh saat masih berkecamuk konflik belasan hingga puluhan tahun lalu.

Namun, kata Apa Karya, semua senjata yang pernah digunakan oleh GAM sudah dilucuti seusai terjalinnya kesepakatan damai antara RI dengan GAM paa 15 Agustus 2005 silam.

Apa Karya tidak yakin, senjata yang diserahkan kepada Panglima Kodam (Pangdam) IM, Mayjen TNI Teguh Arief Indratmoko kemarin adalah senjata sisa konflik. Karena, menurutnya, semua senjata GAM tempo dulu, sudah dilucuti. “Bandum katajok untuk dikoh watee thon 2005, panena lom bude. Meubude brok hana takubah, meudeh kon jeut tapeh, tapeuget keu parang. (Semua sudah kita kasih untuk dipotong tahun 2005, mana ada lagi? Senjata tua saja tidak kita simpan, kalau ada bisa kita tempah untuk parang),” kata Apa Karya.

Jika memang senjata itu disebut sisa masa konflik, harusnya yang menerimanya harus menanyakan dari mana senjata itu berasal, apakah benar dari konflik Aceh dan dari mana yang bersangkutan mendapatkan senjata tersebut. Jangan-jangan senjata itu bukan senjata sisa masa konflik, melainkan senjata yang selama ini dikuasai oleh kelompok-kelompok kriminal bersenjata di Aceh, terlebih para sindikat narkoba.

“Sabe dipeugah sisa konflik, hana lee atanyan, chi periksa keudroe, ata pane, bek peugah sabe ata konflik, nyan konflik pane. (Selalu dibilang sisa konflik, nggak ada lagi itu, coba periksa sendiri, dari mana, jangan selalu bilang sisa konflik),” kata Apa Karya.

Saat ini, lanjut Apa Karya, bukan perkara sulit untuk mendapat senjata, bahkan dia yakin banyak senjata ilegal terus beredar di Aceh. Paling mudah mendapatkan senjata dari para gembong atau mafia narkoba yang menjalankan bisnis haram mereka di Aceh.

Dari merekalah, menurut Apa Karya, senjata-senjata selama ini berasal. “Lon, meunyoe bude hana hireun. Bude nyan, di Beureunuen jeut tabloe, asai meuturi ngon awak mafia sabei, jeut tabloe. Meunyoe mantong na sabei, mantong na bude, abeh sabei, abeh bude. (Saya, tidak heran. Senjata, di Bereunuen bisa kita beli, asalkan kenal sama orang jual sabu. Jika masih ada sabu-sabu, tetap masih ada senjata, habis sabu-sabu, habis senjata),” ujar Apa Karya.

Apa Karya mengatakan bisa beli senjata di Beureunuen, Pidie, adalah makna kiasan. Maksud Apa Karya, begitu mudahnya sekrang senjata bisa dibeli atau didapatkan. Dulu saat akan pelucutan senjata pada tahun 2005, Apa Karya memang telah menyampaikan kepada pihak Aceh Monitoring Mission (AMM) bahwa nanti setelah konflik berakhir, senjata tetap akan ada di Aceh melalui kelompok-kelompok kriminal.

“Apa lagi senjata sangat mudah masuk melalui mafia narkoba seperti saat ini, dalam (paket) sabu-sabu tetap ada sepucuk senjata mungkin. Jadi, menurut saya, berantas dulu narkoba, berantas dulu sabu-sabu, setelah itu tidak akan ada lagi senjata,” pungkas Apa Karya. (dan) ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!