Mereka Gagal, Tapi Parnasnya Beruntung

oleh

Berdasarkan hasil rekapitulasi penghitungan suara Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh, para politisi Partai Aceh (PA) yang mencoba maju ke DPR-RI melalui beberapa partai nasional, ternyata semuanya gagal karena tak memperoleh suara yang memadai untuk merebut kursi empuk perlemen pusat.

Menurut catatan harian ini, ada delapan pentolan PA yang maju sebagai caleg DPR RI pada Pemilu 2019. Umumnya mereka adalah anggota DPRA yang masih menjabat hingga Oktober tahun ini. Di daerah pemilihan 1 Aceh, Abdullah Saleh SH naik melalui Partai Gerindra, partai afiliasi politik PA untuk pencalonan ke DPR RI.

Juga dari dapil I, ada Tgk Anwar yang memilih Partai NasDem sebagai kendaraan politiknya menuju Senayan. Namun sayang, meski meraih 42.319 suara pemilih, Ketua Komisi IV DPRA ini gagal melenggang ke DPR RI. Masih di dapil 1, ada Jufri Hasanuddin naik melalui Nasdem, politisi PA yang mantan bupati Aceh Barat Daya inipun gagal.

Di dapil II, kader PA yang gagal ke Senayan ada Tgk Muharuddin (mantan Ketua DPRA) dan Effendi yang kini menjabat Ketua Komisi III DPRA naik melalui Nasdem. Lalu ada Azhari Cagee melalui PBB, Kautsar Muhammad Yus (mantan Ketua Fraksi PA DPRA) melalui Partai Demokrat, dan Ermiadi Abdul Rahman ST (mantan Ketua Kimisi 1 DPRA) naik melalui PAN.

Fakta akhirnya mereka memang gagal ke Senayan. Tapi, kegagalan itu bukan karena faktor ketokohannya, tapi ada faktor-faktor lain yang membuat mereka tak beruntung. Sebaliknya, partai-partai nasional yang menjadi kendaraan bagi kader partai politik lokal ini sebetulnya sangat beruntung. Sebab, para kader PA itu menyumbang banyak suara untuk parnas yang mereka tumpangi. Lihatlah bagaimana Tgk Anwar yang menyumbang 42 ribu lebih suara badannya untuk Partai Nasdem. Demikian juga Kautsar, Muharuddin, dan lain-lain yang cukup mendongkrak suara parnasnya.

Dalam pemilu legislatif ini persaingan berlapis-lapis. Mulai persaingan antar caleg di dapil, hingga persaingan yang lebih seru lagi adalah antarcaleg separtai di satu dapil. Sedangkan faktor-faktor yang menyebabkan mereka gagal utamanya adalah karena mereka sebagai “penumpang” di parnas bisa jadi tidak mendapat dukungan mutlak dari mesin-mesin parnas bersangkutan. Mesin-mesin partai itu biasanya berkerja untuk kader “kandungnya”.

Soal pemilihan parnas, mereka hampir bisa kita katakan tidak salah pilih. Sebab, ketika mereka memilih Nasdem, Demokrat, PBB, dan Gerindra kondisi parnas ini kala itu memang sedang meyakinkan sehingga pantas menjadi pilihan. Namun, di hari-hari menjelang pencoblosan partai-partai yang tidak termasuk koalisi Prabowo-Sandi memang tergerus habis popularitasnya di Aceh, terutama Nasdem.

Jadi, tidak tepat jika ada pendapat yang menganggap bahwa para kader parlok penumpang parnas memang sulit terpilih menjadi anggota legislatif pusat. Semua caleg tetap memiliki peluang yang sama, perbedaannya ditentukan sejauh mana masing-masing caleg yang bersangkutan mengelola berbagai dinamika dan variabel politik yang ada untuk merebut peluang,

Kemudian, faktor “lucky” atau keberuntungan dapat membuat seorang caleg dapat lolos menjadi anggota legislatif di tingkat mana pun. Namun, hal pasti bahwa faktor keberuntungan ini tidak akan berpihak kepada semua caleg. Faktor keberuntungan ini tak pernah bisa diatur oleh siapapun, tetapi akan turut menentukan kesuksesan seorang caleg menjadi anggota legislatif. Tentu sebagian besar atau semua caleg mengharapkan faktor keberuntungan ini. Tetapi tak usah berharap secara berlebihan, agar setiap caleg tetap berusaha sebagaimana mestinya. Lihatlah, ada yang sudah empat kali maju terus lolos, ada juga sebaliknya sudah empat kali maju belum pernah berhasil. Ada juga yang sudah tiga kali maju melalui kendaraan berbeda-beda baru sekarang sukses besar! Jadi, keberhasilan itu ditentukan oleh banyak faktor, mulai faktor kendaraan, usaha, “lucky”, dan tentu saja dana! ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!