Sumanto Tak Lagi Makan Mayat, Kini Dia Jalani Puasa dan Tarawih, Ikut Dampingi Pengasuhnya Ceramah

oleh

Uri.co.id – Masih ingat Sumanto (47) yang dulu gemar memakan daging mayat?

Sejak keluar dari penjara pada 24 Oktober 2006 silam, Sumanto sempat tinggal di panti rehabilitasi mental An-Nur, Bungkanel, Purbalingga.

Pria berkumis asal Desa Pelumutan, Purbalingga, Jawa Tengah itu kini masih menjalani perawatan jiwa di kompleks Rumah Sakit Khusus Jiwa H Mustajab, Desa Bungkanel, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.

Kini ia telah menjadi ‘manusia baru’ yang siap menjalani kehidupan sebagaimana mestinya.

Banyak perubahan yang terjadi pada Sumanto selama menjalani perawatan di rumah sakit itu.

Ia menjadi lebih dekat dengan Tuhan dan melakukan beberapa pekerjaan.

Selain melaksanakan ibadah puasa, Sumanto juga ikut melaksanakan shalat tarawih selama bulan Ramadhan.

Serambinews Melansir Kompas.com, pagi itu banyak orang lalu lalang di kompleks Rumah Sakit Khusus Jiwa H Mustajab, Desa Bungkanel, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.

Tingkah lucu kadang dipertontonkan mereka.

“Jangan foto saya, saya bukan artis, tadi saya lihat kameranya menghadap ke saya,” kata salah seorang pasien perempuan kepada wartawan sambil berjalan menuju apotek.

Tingkah aneh lain ditunjukkan oleh ibu paruh baya yang berada di sekitar area rawat inap.

Saat melihat kerumunan wartawan, ia mendekat dan memperkenalkan diri sebagai guru sebuah bimbingan belajar.

Demikian gambaran aktivitas di rumah sakit milik KH Supono Mustajab ini.

Tempat di mana 225 orang pengidap gangguan jiwa, termasuk Sumanto yang sempat menghebohkan Indonesia karena memakan bangkai manusia ini, menjalani pengobatan.

Menurut Supono, selama bulan Ramadhan Sumanto dan rekan-rekannya tidak menjalani puasa.

Namun, mereka tetap mengikuti shalat tarawih berjamaah di kompleks rumah sakit sekaligus kediaman KH Supono.

“Sumanto kadang-kadang puasa, tapi tidak wajib karena gila,” kata Supono saat ditemui di rumahnya, Purbalingga, Jawa Tengah, Selasa (14/5/2019).

Selama bulan Ramadhan ini Sumanto lebih banyak beraktivitas di kompleks rumah sakit.

Menurut rencana, menjelang lebaran nanti Sumanto akan pulang menemui orang tuanya menyerahkan bingkisan.

“Sudah 18 tahun di sini, sudah seperti rumahnya sendiri, karena sudah ditolak lima kali (saat akan kembali ke kampung halamannya). Katanya nanti kalau mau lebaran mau pulang mau kasih uang sama Bapak Ibu, terus kasih pakaian, dia ngomong sendiri,” kata Supono.

Sumanto kini menjadi “partner” KH Supono dalam mengisi ceramah di berbagai kota.

Meski mengalami gangguan jiwa, banyak masyarakat yang penasaran dengan tingkah konyol Sumanto yang kadang tidak terduga.

Supono mengatakan setelah lebaran akan melakukan roadshow ceramah bersama Sumanto di 24 kota, antara lain di Pemalang, Pekalongan, termasuk di antaranya di Pulau Sumatera.

“Mulai hari kedua bulan Syawal Sumanto ikut saya mengisi pengajian di 24 tempat, full tanpa henti. Sumanto jadi bintang tamunya, karena banyak yang ingin lihat orang makan orang, malah yang ingin ketemu kiainya sedikit,” kelakar Supono.
Sumanto

Sumanto (Kolase)

Sebelumnya  Sumanto begitu jadi perbincangan publik karena perilakunya pada tahun 2003 silam.

Anak sulung dari lima bersaudara itupun harus mendekam di balik jeruji besi karena kasus pencurian mayat.

Kala itu, Sumanto percaya bahwa daging mayat yang dimakannya bisa memberikan kekuatan supranatural. Ia mengaku telah memakan daging dari tiga mayat berbeda.

Perilaku menyimpang Sumanto hanya tinggal kenangan kelam masa lalu.

Serambinews melansir Trinbunjateng, sejak keluar dari penjara pada 24 Oktober 2006 silam, Sumanto tinggal di panti rehabilitasi mental An-Nur, Bungkanel, Purbalingga.

Sumanto sebenarnya sangat ingin pulang ke kampung halaman. Tapi apa daya, ia selalu ditolak warga di sana.

Mau tidak mau, ia pun harus rela menghabiskan waktunya berada di panti rehabilitasi.
Sumanto saat berada di panti rehabilitasi Annur Karanganyar, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, Kamis (22/6/2017). ( Jateng/Khoirul Muzaki)

Sumanto saat berada di panti rehabilitasi Annur Karanganyar, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, Kamis (22/6/2017). ( Jateng/Khoirul Muzaki) ()

Selama tinggal di panti An-Nur, Sumanto telah memperlihatkan progres perubahan sikap yang cukup signifikan.

Ia menjadi lebih dekat dengan Tuhan dan melakukan beberapa pekerjaan.

Hal itu diungkapkan pengurus panti rehabilitasi sekaligus orang yang merawat Sumanto, Haji Supono.

“Aktivitas saya bantu-bantu pak Haji (Supono) cabut-cabut rumput, bertani, ikut pengajian, pokoknya ikut pak haji,” ujarnya.

Menurut Supono, Sumanto mampu membaca Alquran. Pada beberapa kesempatan, Sumanto juga mengumandangkan azan.

Malah, Sumanto mendapat kepercayaan menyampaikan ceramah saat diundang ke acara pengajian.

Di samping itu semua, ada satu momen di mana Sumanto membuat sang pengasuh dongkol tapi kemudian merasa terharu.

Ya, Sumanto pernah diberi tugas untuk mengurusi burung kicau milik Supono.

Untuk diketahui, Supono memang pecinta burung. Beberapa sangkar burung pun terlihat tergantung di atap selasar panti An-Nur.

Ada tujuan tersendiri mengapa sang pengasuh memberi kepercayaan itu.

Ia berharap, Sumanto akan mempunyai keterampilan merawat burung dan hal itu bisa berguna di kehidupannya kelak.

Namun, bukannya merawat burung Supono, Sumanto malah bikin ulah.

Ia melepaskan burung-burung yang diketahui mempunyai harga cukup mahal itu.

Melansir dari Jateng, ulah Sumanto itu bikin sang pengasuh tepuk jidat.

“Saya pasrahi untuk beri pakan burung, eh malah dilepas burungnya, haduh,”kata Supono.

Tidak mungkin bila Supono memarahi Sumanto karena hal tersebut.

Ditambah lagi, alasan bijak sekaligus konyol yang dilontarkan Sumanto justru membuat Supono terharu.

Menurut Sumanto, ia melepaskan burung sang pengasuh karena merasa iba.

Ia tidak tega burung-burung harus terpenjara dalam sangkar dan tidak bisa menghirup udara bebas.

“Itu kan burung berhak hidup bebas, kasihan kalau dikurung,” kata Supono menirukan jawaban Sumanto.

Masih melansir dari Jateng, perasaan Supono campur aduk.

Ia mendongkol, geli sekaligus terharu dengan jawaban Sumanto.

Supono memaklumi perbuatan Sumanto. Menurutnya, nasib Sumanto tak berbeda dari burung-burung di sangkar.

Ia tak bisa ke mana-mana, terpenjara di sisa usian karena ulah masa lalunya.

Nasib burung masih lebih baik, ketika dilepaskan, mereka masih diterima alam.

Beda halnya dengan Sumanto, ia mau pulang ke kampung halaman pun malah mendapat penolakan dari warga.(*) ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!