Cara Madinah Manjakan Jamaah Umrah

oleh

Laporan Mursal Ismail, Wartawan Serambi Indonesia dari Madinah

INGIN keliling Madinah, Arab Saudi, tapi biro perjalanan umrah Anda hanya melayani terbatas di sekitar Masjid Nabawi? Jangan khawatir, toh Anda bisa memanfaatkan Bus Jawlah (berputar-putar) di Stasiun Pusat Kota Madinah dekat pintu 22 Masjid Nabawi, seperti yang kami rasakan Sabtu, 11 Mei 2019 pagi.

Bus ini membawa kami mengelilingi Kota Madinah dengan tujuan 12 lokasi penting bersejarah, tempat Nabi Muhammad saw berjuang, setelah beliau dan pengikutnya hijrah dari Mekkah ke Madinah.

Semua destinasi wisata di Madinah ini layak untuk dikunjungi, mulai dari Masjid Nabawi, Pemakaman Baqi’, Museum Alquran, Gerbang Al Salam, Medan Pertempuran Gunung Uhud, Mal Al-Noor, Jalan Sultana, Masjid Alqiblatain, Perang Parit, Masjid Quba, dan Stasiun Kereta Hejaz.

Bus Jawlah milik Pemerintah Arab Saudi ini beroperasi setiap hari pukul 05.30-21.30 waktu Arab Saudi. Harga tiketnya 40 rial per orang.

Sesampai di dalam bus, Anda boleh memilih duduk di dalam atau di luar bak terbuka sehingga bebas menikmati pemandangan Kota Madinah tanpa terhalang kaca.

Menariknya lagi, setiap penumpang diberikan head set untuk dihubungkan ke bagian samping tempat duduk, seperti layaknya saat kita menumpang pesawat Garuda. Melalui perangkat ini Anda bisa mendengar audio seputar berbagai tempat tujuan wisata yang sedang dilalui atau disinggahi. Salah satunya dalam bahasa Indonesia.

Dari 12 lokasi itu, kami hanya singgah di tiga tempat paling bersejarah dalam perjuangan Nabi Muhammad saw di Madinah. Pertama, Gunung Uhud. Diinformasikan, bukit yang terpisah dari gunung lainnya itu adalah bukit dikirim Allah dari surga. Dari atas gunung ini, Rasulullah Muhammad saw memimpin pertempuran memerangi kaum Kafir Quraisy yang datang dari Mekkah menyerang Nabi Muhammad dan pengikutnya di Madinah.

Banyak kaum kafir mati dalam peperangan itu, tapi tak sedikit pula kaum muslimin syahid, termasuk paman Rasulullah, Hamzah yang kini makamnya di bawah gunung tersebut.

“Ini suatu bukti perjuangan Rasulullah, sahabat, dan semua pengikut beliau dulu yang sampai berdarah-darah memperjuangkan Islam, sehingga kita semua sekarang bisa menikmati nikmatnya agama Allah ini,” kata seorang Mutawwif dari sebuah travel Malaysia di lokasi pemakaman Uhud.

Selain pemakaman, di lokasi tersebut kini juga ada Masjid Uhud, serta pasar yang juga banyak jual oleh-oleh dari Arab Saudi.

Selanjutnya, kami menunggu Bus Jawlah lainnya di halte dekat Gunung Uhud. Meski ganti bus, Anda jangan khawatir kembali dikenakan ongkos, melainkan tetap berlaku ongkos yang sudah bayar tadi. Syaratnya hanya menunjukkan tiket di awal tadi.

Dalam perjalanan, kita kembali bisa memasang head set untuk mendengar setiap tempat yang dilalui, semisal kawasan parit yang dibuat Rasulullah dan para pengikutnya dalam menghalau kaum kafir yang ingin menyerang mereka.

Tanpa terasa, kami sudah tiba di Masjid Alqiblatain (masjid dua kiblat). Sangat banyak wisatawan datang ke sini, termasuk kami. Bagaimana tidak, di masjid ini, dulu Rasulullah yang sedang mengimami suatu shalat lima waktu, tiba-tiba di rakaat kedua berbalik kiblat.

Ya, ternyata di rakaat pertama dan kedua, Rasulullah Muhammad dan pengikutnya shalat mengikuti kiblat ke arah Baitul Maqdis, Palestina. Kemudian, Allah Swt langsung menurunkan wahyu memerintahkan Muhammad dan pengikut berbalik kiblat ke arah Kakbah, Mekkah.

“Saat berbalik arah itu, sehingga Nabi Muhammad yang mengimami shalat, posisinya jadi paling belakang. Kemudian jamaah memberi ruang, sehingga Nabi Muhammad melangkah ke depan dan mengimami shalat ke arah kiblat Kakbah,” jelas seorang penjaga di masjid itu.

Jamaah umrah asal Tangse, Pidie, Tgk Rusli, mengatakan dulu banyak yang tidak mengetahui hikmah sejarah ini. Tetapi kini baru sadar bahwa jika sekiranya Allah tidak menurunkan wahyu untuk berbalik kiblat, maka bisa saja kini sebagian kiblat umat muslim ke Masjid Al-Aqsa di Palestina yang hingga kini masih diperebutkan, bahkan mungkin dikuasai Yahudi.

Karena sejarah ini pula, maka Masjid Alqiblatain hingga kini memiliki tanda dua kiblat, meski yang digunakan tetap kiblat ke Kakbah.

Selesai dari masjid ini, kami naik Bus Jawlah lainnya menuju Masjid Quba. Di dalam bus, tanpa terasa, air mata saya keluar mendengar kisah melalui head set itu.

Di lokasi ini, penduduk Madinah dulunya keluar rumah menyambut kedatangan Nabi Muhammad saw dan pengikutnya yang hijrah dari Mekkah (Kaum Muhajirin). Mereka dengan suara merdu mengucapkan “Thalaal badru alaina…” Intinya mereka sangat senang menyambut kedatangan Rasulullah dan rombongan, sehingga Nabi Muhammad pun membangun masjid pertama di lokasi ini pada tahun 1 Hijriah atau 622 Masehi yang diberi nama Masjid Quba.

“Nabi Muhammad terlihat mengangkat pasir dan batu di bahunya saat membangun Masjid Quba ini,” demikian salah satu isi audio tentang masjid itu.

Tetapi kaum Muhajirin ini hanya bisa satu malam di lokasi ini, walau semua penduduk Madinah (kaum Anshar) ketika itu meminta Rasulullah dan rombongan menetap di rumah mereka, tapi Rasulullah dengan bijaksana menjawab, “Kami akan berhenti di mana onta akan berhenti nantinya.”

Akhirnya onta Nabi pun berhenti di kawasan lainnya di Madinah, yakni di tanah milik dua anak yatim piatu, sehingga Nabi Muhammad membeli tanah tersebut.

Kemudian di lokasi itu, Rasulullah membangun rumah dan Masjid Nabawi. Saat ini, bekas lokasi rumah Rasululullah itu sudah menjadi Taman Raudhah, yakni makam Nabi Muhammad dan dua sahabatnya Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Lokasinya persis di dalam Masjid Nabawi yang masih tetap bisa diziarahi hingga kini.

Sedangkan para sahabat, juga memiliki rumah di sekitar Masjid Nabawi. Hal ini tak lepas karena kebaikan penduduk Madinah yang meminta para sahabat nabi itu menjual tanah di Mekkah dan hijrah ke Madinah sehingga kelompok Anshar ini memberikan apa saja, termasuk tanah sebagai tempat tinggal kepada kaum Muhajirin itu. Seperti diketahui, Nabi Muhammad menjanjikan kelebihan kepada setiap umatnya yang shalat di Masjid Quba dan Masjid Nabawi.

Begitulah sekilas sejarah perjuangan Nabi Muhammad saw yang kami dengar dari audio otomatis dalam Bus Jawlah. Begitu pula cara Madinah memanjakan jamaah umrah atau haji di Tanah Haram itu.

Semua jamaah dari berbagai negara yang tak bisa berbahasa Arab, tetap bisa mengelilingi dan mengetahui sejarah Islam di Madinah melalui perangkat yang sudah disiapkan ini. Selain dalam bahasa Indonesia, juga bisa di-setting dalam tujuh bahasa negara lainnya. Tentu salah satu cara ini juga bisa dilakukan di Banda Aceh untuk menggaet wisatawan kan? (*) ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!