Kanji Rumbi, Sajian Khas Ramadhan

oleh

HAWA panas menguar ke udara. Bersama kepulan asap tipis yang menebar wangi rempah. Dua pria dewasa, terlihat berkutat dengan masing-masing sendok kayu di tangan. Di hadapannya, dua wajan besi dengan api yang menjilat-jilat.

Pemandangan ini terlihat sepanjang Ramadhan tiba. Saat Serambi menyambangi Masjid Al-Furqan, Gampong Beurawe, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, Selasa (14/5), warga setempat tengah menyiapkan kanji rumbi. Ya, itulah santapan primadona saban bulan puasa. Diwariskan dari generasi ke generasi dan lestari hingga kini.

“Kanji rumbi Masjid Beurawe sudah ada sejak tahun 1998 hingga sekarang. Dananya dari sumbangan jamaah dan jumlahnya cukup untuk buka puasa sekampung,” ujar Iqbal, warga Gampong Beurawe, yang dipercaya menjadi koki.

Bersama tiga temannya, ia mulai meracik kanji ba’da zuhur. Membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam untuk memasak kanji rumbi. Bentuk dan rasanya mirip bubur ayam. Namun seperti lazimnya makanan Aceh lainnya, rempah selalu hadir menguatkan citarasa.

Sebut saja kunyit, ketumbar, dan kapulaga. Ditambah bumbu yang dihaluskan di antaranya berupa bawang merah dan bawang putih. Tak ketinggalan butiran garam dan olesan mentega sebagai penguat rasa. “Kalau khasiat makan kanji rumbi untuk berbuka puasa badan jadi hangat, jadi bisa untuk mengusir angin juga,” imbuh Iqbal.

Saban hari sepanjang Bulan Ramadhan, pengurus Masjid Beurawe memasak tujuh bambu beras untuk bubur. Selain beras, udang dan suwiran ayam hadir untuk menambah kelezatan kudapan berbuka itu. Ditambah potongan wortel dan kentang sebagai sayur. Serta taburan daun bawang, daun seledri, dan daun pandan yang wanginya menggugah selera.

Saban sore tiba, warga berduyun-duyun ke Masjid Beurawe dengan wadah di tangan. Tertib mengantre kanji rumbi yang dituangkan sang koki. Ya, di tengah ‘gempuran’ makanan yang menawarkan citarasa masa kini, warga Beurawe masih setia merawat kuliner tradisi.(nurul hayati) ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!