PT Medco Turunkan Tim

oleh

* Periksa Sumber Bau di Blang Nisam

IDI – PT Medco E&P Malaka terus berkoordinasi dengan instansi terkait dalam penanganan laporan warga tentang adanya bau di sekitar wilayah operasi. Hal itu dikatakan, oleh Manager Field Relations Blok A Medco E&P Malaka Dedi Sukmara, dalam siaran pers yang diterima, Serambi, Selasa (14/5/2019).

“Perusahaan juga segera menindaklanjuti setiap laporan warga yang diterima dengan mengirimkan tim teknis ke area yang dilaporkan oleh masyarakat,” jelas Dedi Sukmara.

Terkait adanya laporan terbaru tentang kemunculan bau dari warga, pada Senin (13/5), jelas Dedi, pihak perusahaan telah mengirimkan pekerja ahli ke wilayah Blang Nisam untuk melakukan pengecekan laporan tersebut. “Tim medikal perusahaan telah berkoordinasi dengan pihak Puskesmas setempat untuk menindaklanjuti informasi warga,” jelasnya.

Sebelumnya, jelas Dedi, informasi ini juga telah diteliti oleh pihak Badan Pengelola Migas Aceh (BPMA) dan tim dari Pemerintah Aceh melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral pada, 27-29 April, di gampong sekitar wilayah operasi.

“Dari hasil pengecekan, ditemukan beberapa fakta yaitu kadar udara dalam batas aman dan tidak ditemukan gas beracun yang terdeteksi oleh alat multi gas detector. Perusahaan akan melaksanakan rekomendasi dari tim peneliti Pemerintah untuk meneruskan kajian teknis pemantauan kadar udara di sekitar wilayah operasi dan akan terus berkoordinasi terhadap hasil kajian tersebut,” jelasnya Dedi.

Sebelumnya diberitakan, warga lingkar tambang CPP Blok A, PT Medco, dari lima gampong di Kecamatan Indra Makmu, Aceh Timur, mengeluhkan bau menyengat diduga bau gas dari kawasan operasi CPP Blok A.

“Baunya seperti bau telur busuk, atau seperti bau dari septic tank. Kami baru saja merasakan baunya,” ungkap M Nuraqi, tokoh masyarakat Indra Makmu, Senin (13/5) siang.

“Dugaan kita sumber bau dari proses produksi gas di CPP Blok A, tapi itu hanya dugaan kita. Karena itu, kita berharap kepada Pemkab Aceh Timur, dan pihak terkait untuk segera menemukan sumber baunya, karena hal ini telah terjadi berulang kali sejak lima bulan lalu. Jika tidak, akan berpotensi menimbulkan konflik antara warga dengan perusahaan,” ungkap Nuraqi.

Nuraqi mengatakan, Lima gampong yang terdampak bau busuk seperti gas ini, yaitu Gampong Alue Ie Mirah, Blang Nisam, Suka Makmu, Alu Ie Itam, dan Seuneubok Cina. “Bau menyengat, akan tercium saat arah angin mengarah ke kita, beberapa menit kemudian jika arah angin berbalik, bau akan hilang dengan sendirinya,” jelas Nuraqi.

Sementara itu, terkait keluhan masyarakat ini, Ketua Forum Keuchik Aceh Timur, Mauzir SH, meminta Medco dan pemerintah untuk segera menindaklanjuti keluhan warga terkait bau menyengat yang dirasakan warga sekitar kawasan operasi CPP Blok A.

“Jangan gara-gara investasi ini menimbulkan dampak yang merugikan masyarakat. kita berharap PT Medco, dan pemerintah segera mengatasi bau ini,” pinta Mauzir, seraya meminta pemerintah, berperan aktif mengawasi berjalan operasional PT Medco sehingga tidak menimbulkan dampak yang merugikan masyarakat.

Sementara itu, anggota DPRA asal Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky, meminta kepada Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLKH) Aceh untuk membuka ke publik hasil tim peninjauan dan pemeriksaan sampel udara dan air yang diduga menimbulkan bau di kawasan lingkar tambang PT Medco di Aceh Timur.

Desakan tersebut disampaikan politisi muda Partai Aceh ini menyusulnya adanya laporan keluhan bau menyengat di kawasan sejumlah desa dalam Kecamatan Indra Makmu, Aceh Timur, kawasan lingkar eksploitasi gas oleh perusahaan Medco. “Saya dapat laporan tadi malam. Ternyata bau ini sudah terjadi beberapa waktu yang lalu,” ungkap Iskandar, Selasa (14/5).

Menurut dia, hasil laboratorium dinas lingkungan hidup Aceh itu, penting untuk disampaikan ke publik supaya tidak menimbulkan asumsi publik seolah-olah hasil kerja tim ditutup-tutupi dan terkesan membela perusahaan tambang migas. “Laporan ke kita bahwa tim dari DLHK sudah turun. Maka penting hasilnya seperti apa. Biasa hasil labor itu tertulis,” tegasnya.

Al-Farlaky juga menyampaikan, dirinya akan menyurati secara khusus kepada DLHK Aceh untuk meminta hasil laboratorium. “Kalau bahaya bilang bahaya, jangan ada kesan tidak baik dan masyarakat kita disana yang menerima imbas tidak baik. Bisa mengganggu kesehatan mereka semisal anak-anak balita,” ungkapnya lagi

Ditambahkan Iskandar, berdasarkan laporan yang diterimanya, bau pertama kali Desember 2018, lalu Februari 2019, dan April 2019. Setiap peristiwa interval bau mencapai 6 hingga 6 hari.(c49) ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!