Hikayat Kanji Rumbi Pante Raja

oleh

OLEH SULAIMAN TRIPA, Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala dan Pengajar Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Pante Raja, Pidie Jaya

BAGI kami generasi yang lahir 1970-an, kanji sebagai makanan khas berbuka puasa, memiliki makna mendalam. Setidaknya sebelum saya berangkat kuliah ke Banda Aceh tahun 1996, bubur nasi yang kaya rempah ini masih menjadi primadona. Indikatornya dapat dilihat dari banyaknya orang yang antrean demi mendapatkan satu porsi kanji. Satu kuali (beulangong) kanji seakan tak cukup kala itu. Untuk satu porsi waktu itu, takarannya pun tak lebih dari setengah liter.

Kanji dimasak di lampoh meunasah. Tidak di tempat lain, apalagi di rumah warga tertentu. Menurut para orang tua di kampung saya, orang Aceh lebih sensitif, karena kalau masak kanjinya bukan di tempat umum, walau mereka tahu bahwa itu milik kampung, mereka tidak semua mau mengambil bagian.

Ada alasan tertentu yang menyebabkan kanji sangat ditunggu-tunggu. Pertama, kemampuan ekonomi masyarakat yang rendah, tidak banyak yang mampu menyediakan makanan berbuka semewah kanji. Kedua, pimpinan kampung turun tangan untuk menyediakan kanji yang dananya diambil dari sumber pemasukan kampung, misalnya dari sejumlah sewa tanah meusara kampung. Generasi sekarang mungkin tak paham bahwa kampung memiliki harta khusus sebagai pemasukan yang dioperasionalkan untuk kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan.

Jumlah orang yang mampu menyumbang untuk masak kanji dalam porsi besar juga sangat terbatas. Apa yang dinamakan dengan rumbi, hanya ada dua atau tiga kali dalam sebulan. Rumbi adalah isian tertentu, baik ayam, bebek, atau udang yang dimasukkan ke dalam bubur kanji. Jarang ada daging sapi untuk rumbi. Jumlahnya pun sangat terbatas. Satu beulangong, kadang-kadang hanya mampu diisi dengan satu ekor ayam saja. Tak heran mengapa ayam itu harus disuir-suir sekecil mungkin agar semua yang antre bubur dapat merasakan aroma ayam di dalam kanji tersebut.

Ada kreativitas lain dari kami yang masih anak-anak. Masing-masing kami membuat satu pacuk dari bambu yang ukurannya tak lebih dari ukuran satu gelas. Kami tidak akan mengambil jatah dari kanji yang dibawa pulang ke rumah. Di tempat kanji dimasak, papan penuh paku untuk menggantung pacuk milik masing-masing kami. Indah tidaknya bentuk pacuk menggambarkan tingkat kreativitas pemilik dalam menyiapkannya.

Begitulah keadaan masa lalu, setidaknya saya rasakan hingga awal ‘90-an. Berbeda dengan kondisi sekarang, banyak keluarga sudah punya banyak pilihan untuk berbuka. Ditambah kondisi ekonomi yang sudah membaik sehingga mampu membeli apa pun saat belanja di pasar. Anak-anak seusia saya tahun 1980-an pun kini punya banyak uang di kantong atau di dompetnya.

Apa yang berbeda? Penyumbang untuk kebutuhan kanji sudah semakin banyak. Rumbi tersedia setiap hari, baik ayam, bebek, udang, bahkan sejumlah jenis daging, termasuk daging rusa. Volume beras yang ditanak jadi bubur juga sudah lebih banyak dari sebelumnya. Dibanding mereka yang antre, stok kanji lebih banyak, sehingga seorang warga bisa dapat lebih dari satu liter.

Ketika era transisi, dua tahun setelah reformasi 1998 hingga 2004, karena kondisi daerah yang kurang kondusif, kanji juga tidak selalu tersedia di meunasah. Dalam lima tahun tersebut, peran-peran kelembagaan meunasah drastis berkurang. Banyak meunasah yang tak aktif karena terimbas kondisi yang tidak kondusif itu. Apalagi untuk berpikir memasak kanji rumbi.

Setelah tsunami, banyak hal berubah. Meunasah sebagai ruang publik, lebih semarak. Termasuk di dalamnya aktivitas memasak kanji. Bubur kanji masih dianggap sebagai makanan tradisional yang dimasak dari beras beserta berbagai jenis rempah-rempah yang dicampur di dalamnya. Berbeda dengan cara bikin bubur pada umumnya yang dipersiapkan nasi lebih dahulu, bubur kanji justru beras dan bumbunya dimasak sekaligus. Beras dari awal dimasukkan ke dalam air beserta bumbu, ketika sudah mendidik ditambahkan santan, dan jika ada rumbi akan dimasukkan ketika santan sudah matang. Begitulah cara simpel memasak kanji rumbi di kampung saya, Pante Raja, Pidie Jaya.

Berbagai rempah yang menimbulkan aroma khas kanji dimasukkan. Di antaranya bawang merah, baweang putih, jahe, jintan, ketumbar, kapulaga, jintan, dan merica. Tak terkecuali cengkih, serai, pala, pandan, dan daun temurui. Rata-rata membutuhkan waktu dua hingga tiga jam untuk memasak satu beulangong kanji yang terdiri atas 4,5 bambu beras.

Di Pante Raja, biasanya ada tim khusus yang menangani masak kanji selama sebulan. Mereka tidak digaji secara khusus. Jika dihitung-hitung lebih banyak muatan pengabdian dalam menggawangi dapur umum demi terhidangnya kanji rumbi setiap hari sepanjang puasa Ramadhan.

Khusus di kampung saya, tahun 1980-an hingga sekarang, sudah lima generasi berganti. Dua generasi sudah almarhum. Yang satu sudah tidak mampu memasak. Satu lagi minta istirahat. Generasi sekarang, kanji dimasak oleh dua orang, masing-masing bernama Sulaiman dan Ismail. Keduanya mirip nama nabi. Dua orang inilah selama sebulan rutin menyiapkan kanji rumbi.

Mereka mulai beraktivitas sehabis shalat zuhur. Kemudian, kanji akan dibagikah seusai shalat Asar. Biasanya orang-orang akan membawa wadah (rantang atau cambung) untuk mengambil kanji ketika mereka berangkat ke meunasah untuk shalat Asar.

Sejak kuliah tahun 1996, praktis selama Ramadhan tidak setiap hari saya bisa bersama teman-teman di kampung. Apalagi sejak mulai mengajar tahun 2006 di Universitas Syiah Kuala, setiap bulan puasa selalu ada saja aktivitas yang wajib dilaksanakan di kampus atau di Banda Aceh.

Saya berusaha setiap awal puasa pulang kampung. Alhamdulillah, seperti bulan puasa sebelumnya, tahun ini pun demikian. Bagi kami, kesempatan memulai dan berbuka di hari-hari awal, terutama bersama ibunda, secorak kearifan lokal yang sangat penting. Cok beureukat.

Setiap puasa, kanji menjadi menu wajib yang selalu ada setiap hari sepanjang puasa. Hingga sekarang. Kanji rumbi menghadirkan pesona tersendiri di bulan mulia ini. Saya masih bisa merekam sejak kecil, bagaimana kanji dan rumbi jadi idola. Bahkan hingga sekarang, tradisi ini belum berubah. Mungkin pantas disebut, inilah ketegaran budaya ala kanji rumbi. ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!