Menjauhi Perilaku Sombong

oleh

MARWAN NUSUY IILYAS, B.HSC, MA

Kepala Dinas Kominfo Aceh

Ramadhan adalah bulan pengendalian diri dari segala bentuk sikap tidak terpuji yang tentunya dilarang dalam Islam. Ramadhan memiliki momentum penting dalam rangka peningkatan amal kebaikan bagi orang-orang yang bertakwa.

Bulan ini penuh keberkahan, ibarat berlian yang sangat berharga dan merupakan momentum yang sangat baik dalam rangka memperbaiki hubungan dan komunikasi dengan Allah Swt dan juga dengan sesama manusia dengan cara menjauhi sifat-sifat tercela yang dikategorikan sebagai penyakit hati.

Salah satu penyakit hati dan berimbas kepada kebinasaan adalah sifat sombong atau takabbur. Dalam pergaulan sehari-hari sering kita mendengar istilah sombong yang ditujukan kepada seseorang atau kelompok orang yang menurut penilaian orang lain adalah sombong, baik dalam perkataan maupun tingkah lakunya.

Fenomena ini dapat terjadi pada semua lapisan masyarakat, mulai dari yang kaya atau miskin, orang berilmu atau awam, muslim atau kafir, dan lain-lain. Sombong merupakan salah satu penyakit hati dalam diri manusia, sehingga dapat menutup dirinya dari tuntunan Allah Swt.

Dalam pandangan Islam, sombong adalah istilah lain dari takabbur, bermakna menolak yang benar, merasa dirinya lebih dan merendahkan orang lain. Rasulullah Saw bersabda: “Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia”. (HR. Muslim).

Ada tiga jenis sombong; sombong kepada Allah, sombong kepada Rasulullah, dan sombong terhadap sesama manusia.

Diuraikan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya bahwa iblis pada mulanya merupakan makhluk yang sangat mulia, bergelar Al-Haris dan ditugaskan sebagai penjaga surga. Iblis juga telah berhasil menumpas jin-jin yang mula-mula menghuni bumi karena jin-jin tersebut telah membuat kerusakan, mereka telah membunuh sebagian yang lain.

Keberhasilan itu membuat iblis merasa sombong sehingga berkata: “Aku telah melakukan sesuatu hal yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun”. Allah mengetahui perkataan iblis, namun malaikat tidak mengetahuinya.

Allah kemudian menciptakan Adam dari tanah dan ketika penciptaan Adam telah sempurna, maka Allah Swt berfirman: “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, sujudlah kalian kepada Adam, maka sujudlah mereka kecuali iblis, ia enggan dan takabbur dan adalah ia termasuk golongan orang-orang kafir”. (QS. Al-Baqarah: 34)

Sedangkan sombong kepada Rasulullah adalah menolak segala ajaran yang dibawa oleh Rasulullah Saw. Kesombongan terhadap Rasulullah dapat dibaca dalam berbagai kisah baik pada masa Nabi Muhammad Saw maupun pada masa Nabi-nabi sebelumnya. Salah satunya adalah kisah Fir’aun ketika mengejar Nabi Musa As yang hendak meninggalkan Mesir.

Dalam perjalanannya Nabi Musa serta rombongan yang sedang dibuntuti Fir’aun dan pasukannya tiba di depan lautan luas yang terbentang. Pada saat itu Allah Swt menyuruh Nabi Musa menghentakkan tongkat ke tanah, dan mendadak sudah ada beberapa ruas jalan di atas permukaan laut.

Nabi Musa serta rombongan terus berjalan sampai ke seberang lautan, sementara Fir’aun dan pasukannya tambah bersemangat mengejar rombongan Nabi Musa. Ketika Fir’aun dan pasukannya tiba di tengah laut, tiba-tiba jalan yang sudah terbentuk sebelumnya mendadak ditelan air laut. Saat itulah Fir’aun dan pasukannya tenggelam ke dasar laut.

Dalam kehidupan sehari-hari tidak jarang kita menemukan beragam tingkah laku dalam pergaulan, baik dalam urusan formalitas maupun dalam interaksi sehari-hari. Terkadang sikap atau ucapan kita kurang pada tempatnya, sehingga ada yang menganggapnya sebagai sombong.

Imam Al-Ghazali menyebutkan ada tujuh hal yang dapat berpotensi seseorang berperilaku sombong apabila tidak dapat dikendalikan dengan baik.

Pertama, sombong karena ilmu pengetahuan. Ditempatkan ilmu pada urutan pertama oleh Imam Al-Ghazali menandakan bahwa orang yang mempunyai ilmu hendaknya menjadi hati-hati dalam penerapan atau pengamalan yang mencakup ucapan (lisan/tulisan), perbuatan dan akhlak.

Di samping sebagai salah satu faktor yang dapat meningkatkan derajat seseorang, ilmu juga dapat membuat pemiliknya binasa apabila perilaku sombong lebih menonjol dalam dirinya.

Kedua, sombong karena amalan. Kesombongan ahli ibadah dari sudut pandang keduniaan apabila tersirat kesan dalam hatinya supaya orang lain menganggapnya sebagai orang yang paling mulia di hadapan manusia. Sementara dilihat dari unsur agama, apabila menganggap dirinya saja yang akan masuk surga, sementara orang lain dianggap sebaliknya.

Ketiga, sombong karena keturunan. Keturunan seseorang dapat menyebabkan takabbur karena terlalu bangga (excessive pride), sehingga menganggap dirinya lebih tinggi derajat daripada orang lain. Allah Swt berfirman: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13).

Keempat, sombong karena kecantikan. Kecantikan dan ketampanan wajah apabila tidak dikelola dengan baik dapat menjadi faktor pemicu seseorang merendahkan orang lain. Dalam hal ini, bukan berarti Islam melarang umatnya terhadap hal-hal yang bagus dan cantik.

Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan mencintai keindahan”. (HR. Muslim).

Kelima, sombong karena kekayaan. Tidak jarang kita lihat, semakin banyak kekayaan yang dimiliki seeorang maka semakin pelit dia. Hal ini berbanding terbalik dengan anjuran dalam Islam, semakin banyak harta yang dimiliki seseorang, maka seharusnya semakin dermawan dia, sehingga Allah akan senantiasa menambah rezekinya.

Sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari perubahan sikap seseorang yang telah diberikan kemudahan rezeki dan terkesan meremehkan orang lain, baik dalam perkataan maupun sikapnya.

Keenam, sombong karena kekuasaan. Sudah banyak contoh pemimpin-pemimpin dunia yang jatuh akibat kesombongannya atau keangkuhan orang-orang di sekelilingnya yang berimbas kepada ketidaklanggengan kekuasaannya. Ada penguasa yang ditumbangkan oleh perempuan, mahasiswa maupun pekerja.

Ketujuh, sombong karena banyak teman, kerabat, saudara maupun pengikut. Mungkin seseorang tidak sombong disebabkan kekayaan, kecantikan, keturunan, kekuasaan, amalan maupun ilmu pengetahuan yang dimiliknya, tapi secara berlebihan selalu membangga-banggakan orang-orang penting sebagai kerabatnya.

Sifat sombong dapat menyebabkan seseorang menjadi binasa karena sangat dibenci oleh Allah Swt (QS. An-Nisa: 36), dibenci oleh sesama manusia (QS. Lukman: 18), dapat mematikan hati (QS. Al-Mukmin: 35).

Sombong juga dapat menyebabkan tidak mensyukuri nikmat Allah (QS. Al-Isra: 83), serta orang-orang sombong akan dimasukkan dalam neraka oleh Allah Swt (QS. An-Nahl: 29). Semoga kita tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang sombong atau takabbur. Amiin. Email: [email protected] ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!