Ceramah di Masjid Raya Baiturrahman, Daud Pakeh: Jangan Contoh Puasa Ular, tapi Contohlah Puasa Ulat

oleh

Ceramah di Masjid Raya Baiturrahman, Daud Pakeh: Jangan Contoh Puasa Ular, tapi Contohlah Puasa Ulat

Uri.co.id, BANDA ACEH – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Aceh, Drs HM Daud Pakeh mengajak masyarakat Aceh memanfaatkan bulan Ramadhan sebagai momen meningkatkan keshalihan.

Ajakan itu disampaikan Kanwil Kemenag Aceh ini saat menyampaikan ceramah tarawih di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, Sabtu (11/5/2019) bertepatan 6 Ramadhan 1440 H.

“Mari tingkatkan ketakwaan, tebarkan kedamaian, kebaikan, rawat persaudaraan dan jaga kebersamaan,” ujar M Daud Pakeh.

Selain meningkatkan kualitas ibadah menuju insan yang bertakwa, Daud Pakeh juga mengajak masyarakat untuk merajut ukhwah dan menjaga persaudaraan.

“Ramadhan adalah momen yang tepat untuk menebarkan kebaikan, kedamaian, menjaga kebersamaan dan persatuan,” katanya.

Ia menjelaskan bahwa saat berpuasa, sebenarnya manusia juga berlatih untuk tidak melakukan sesuatu yang tidak dibolehkan oleh agama dan juga sesuatu yang dapat merusak persaudaraan.

Maka selama Ramadhan, satu bulan umat muslim dituntut untuk menjaga lisan dan perbuatan dari sesuatu dilarang dalam agama.

Juga tidak menebar kebohongan atau hoax, fitnah dan adu domba, karena semua umat muslim adalah saudara.

“Puasa melatih untuk menjadi muslim sejati. Seperti Rasulullah bersabda: Seorang muslim adalah orang yang perkataan dan perbuatannya selamat dari menyakiti orang lain. Saat ini ukhwah dan persaudaraan kita kian rapuh, silaturrahmi kian pudar, hoax, kata-kata kotor, fitnah, saling mengejek dan juga persoalan khilafiah telah mampu meretakkan persaudaraan kita,” jelas Daud Pakeh.

“Seharusnya momen Ramadhan mampu menurunkan tensi kita, karena puasa mendidik kita untuk bersabar. Allah memerintahkan hamba-Nya yang beriman untuk melaksanakan ibadah puasa supaya melahirkan pribadi yang muttaqin,” lanjut Kakanwil Kemenag Aceh itu.

Menurutnya, jika persaudaraan telah rusak maka persatuan yang menjadi sumber kekuatan akan hilang dan sirna ditelan keangkuhan dan kesombongan yang pada akhirnya hanya akan menyisakan kehancuran dan penyesalan.

“Kalaupun diantara kita ada perbedaan, mari kembali kepada kaidah Nata’awan ‘ala ma ittafaqna wa natasamah fima ikhtalafna. Kita saling tolong menolong pada perkara yang kita sepakati, dan saling toleran pada apa yang kita perselisihkan,” ajak Kakanwil.

Mari belajar puasa dari puasa dua jenis hewan, yaitu puasa ular dan puasa ulat.

“Ular jika ingin panjang umurnya, maka harus ganti kulit dengan cara berpuasa, begitu juga dengan ulat, jika ingin lebih lama umurnya maka ia juga berpuasa, dalam istilah ilmiahnya mengalami metamorfosis,” ujarnya.

Sebelum puasa namanya ular juga ular. Setelah puasa namanya juga ular. Sebelum puasa makanan ular adalah katak. Setelah puasa makanan ular juga katak. Sebelum puasa perilaku ular adalah melata. Setelah puasa ular juga tetap melata.

“Puasa ular berbeda dengan ulat. Sebelum puasa namanya ulat. Setelah puasa namanya menjadi kupu-kupu. Sebelum puasa makanan ulat adalah daun dan merusak tanaman, setelah puasa, makanan ulat sari putik bunga. Sebelum puasa, cara jalan ulat menggeliat. Setelah puasa ulat dapat terbang,” ujar Kakanwil.

“Oleh karena itu, puasa seharusnya mampu menghijrahkan diri kita agar semakin Taqwa, ” tegas Daud Pakeh.

Diakhir ceramahnya, Daud Pakeh mengajak jamaah berlomba dalam kebaikan, karena itu merupakan salah satu kunci sukses umat Islam, baik di dunia maupun di akhirat.

Dengan cara berlomba-lomba melakukan kebaikan atau disebut dengan fastabiqul khairat (firman Allah surat al-Baqarah: 148), kita dapat melakukan sesuatu yang lebih baik.

“Semangat kompetisi dalam berbuat kebaikan merupakan energi positif untuk meraih prestasi tinggi dan menjadi yang terbaik di mata Allah,” tutup Kakanwil Kemenag Aceh.(*) ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!