Illiza: Saat Kampanye Saya Pernah Ditolak

oleh

PENGANTAR – Euforia pesta demokrasi Pemilu 2019 belum usai. Hajatan lima tahunan itu tentu menghadirkan calon petahana dan wajah-wajah baru di kursi legislatif. Meski data resmi penetapan calon terpilih harus menunggu keputusan KPU RI paling telat 22 Mei mendatang, namun nama-nama caleg yang diperkirakan akan menduduki kursi DPRK hingga DPR RI sudah bisa diketahui dari jumlah suara badan yang mereka raih sesuai dengan hasil rekapitulasi suara oleh Komisi Independen Pemilihan (KIP) kabupaten/kota.

Untuk daerah pemilihan Aceh, sebanyak 13 nama (tujuh nama dari dapil I dan enam nama dari dapil II) yang diperkirakan lolos ke Senayan, sudah diketahui. Satu dari 13 orang wakil Tanah Rencong itu adalah Hj Illiza Sa’aduddin Djamal SE. Lolosnya mantan wali kota Banda Aceh sebagai wakil Aceh ke DPR RI, menyentak publik. Pasalnya, ia menjadi satu-satunya wakil rakyat perempuan dari Bumi Serambi Mekkah yang terpilih ke lembaga legislatif tingkat pusat.

Lolosnya politisi Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini sekaligus meruntuhkan hegemoni caleg lelaki yang mendominasi kursi DPR RI dari Aceh dalam 15 tahun terakhir. Untuk diketahui, terakhir kali Aceh mengirim wakil perempuannya ke Senayan pada tahun 2004 lalu. Kala itu pemilu masih menganut sistem lama dan pesertanya hanya tiga partai–PPP, Golkar, dan PDI–Nurdahri Ibrahim Naim (PPP) menjadi satu-satunya delegasi Aceh ke Senayan.

Bertempat di Hotel Al Hanifi, Lampriek, Banda Aceh, Jumat (10/5), Illiza berbagi cerita tentang jalan panjang dirinya menuju Senayan dalam wawancara khusus dengan wartawan Serambi Indonesia, Nurul Hayati dan Muhammad Anshar. Berikut petikan wawancaranya:

Apakah kemenangan ini sudah Anda prediksi?
Kisahnya lumayan, karena awalnya saya mendaftar sebagai calon anggota DPRA, tapi perintah dari partai untuk maju ke DPR RI. Sami’na wa atha’na, saya sebagai kader harus siap maju dalam level apa pun. Maju sebagai caleg DPR RI, ini kan perjalanan yang sudah Allah tentukan. Saat berjuang, ini kan kali pertama harus melewati 15 kabupaten/ kota. Ternyata nggak mampu kita keliling semua kabupaten/ kota.

Kira-kira apa dasar partai menunjuk Anda untuk maju sebagai Caleg DPR RI?
Saya kurang paham juga ya, karena memang partai tidak mengatakan alasan. Tapi, mungkin dilihat dari sisi pengalaman, pernah jadi anggota legislatif level kota, pernah jadi wakil wali kota dan wali kota, serta elektabilitas dari survei-survei hasilnya bagus. Satu-satunya perempuan yang duduk di eksekutif, punya nama dan dikenal itu jadi modal. Saya sangat terbantu dengan hal-hal tersebut. Sehingga, kemana pun saya pergi ternyata mereka sangat welcome. Rekam jejak kita di perpolitikan juga pernah ada, tentu itu akan lebih mudah kita komunikasikan sesuatu kepada konstituen.

Apa tantangan yang paling berat dalam perjalanan menuju kursi DPR RI?
Berjuang itu harus benar-benar dengan cara yang benar. Memang, perjuangan ini saya lakukan tidak memberikan iming-iming, tidak memberikan apa pun seperti cenderamata, pakaian atau sembako. Tapi, saya datang dengan diri saya sendiri. Ada memang pernah ditolak di suatu tempat, padahal saya sudah siap untuk hadir. Tapi, kemudian dibilang kalau tidak bawa apa-apa tidak usah datang. Bagi saya, kalau seperti itu bagus kita tidak datang. Ada yang mengundang dan mereka bilang ‘kami punya pengajian, kami tunggu ibu datang.’ Lalu, saya datang memberi tausiyah dan diskusi ringan. Tapi, ternyata suara di situ bagus. Di satu sisi saya tidak diterima karena tidak bawa sesuatu, tapi di sisi lain justru Allah siapkan majelis yang lebih besar dan ternyata itulah tempat ikhlasnya suara keluar.

Bagaimana pengalaman Anda bertarung dalam pileg kali ini?
Ya, saya sangat terkesan dengan Banda Aceh. Meski bisa dibilang saya tidak berkampanye, tapi Banda Aceh termasuk ‘kantong suara.’ Alhamdulillah, di Banda Aceh saya dapat 8.000 suara badan. Ini kan suara murni, suara yang ikhlas. Mereka memilih karena mereka punya sesuatu harapan.

Bagaimana perasaan Anda terkait respons warga terkait hal itu?
Saya sangat bersyukur dan berterima kasih. Begitu juga kepada masyarakat kabupaten/ kota lain yang saya kelilingi seperti Aceh Besar, Simeulue, Pidie, Pidie Jaya, dan Aceh Barat. Semua suara untuk saya adalah suara keikhlasan dari masyarakat. Saya bayangkan di satu tempat ada suara sekian, ternyat meleset. Sebaliknya yang kita prediksikan meleset, justru tidak terjadi. Jadi, pileg kali ini pengalaman yang paling luar biasa bagi saya.

Terkait ‘serangan fajar,’ bagaimana komentar Anda?
Ya, masyarakat kita sudah sangat pragmatis. Waktu kita jelaskan, mereka bilang ‘Buk, hana peu jelaskan, yang penteng neujok, meunyo neujok kamoe pileh’ (Bu, nggak usah dijelaskan. Kalau ibu memberi sesuatu, kami pilih). Tapi,banyak juga yang memberi tapi tidak dipilih. Hari ini saya ingin membuktikan bahwa ada suara riil, masyarakat memilih tanpa pamrih itu ada dan saya yakin betul Allah membimbing itu semua. Saat suara-suara murni itu masuk, saya meneteskan air mata. Masya Allah, ternyata pas saya kampanye orang bilang ‘Buk Illiza harusnya maju DPRA, kalau DPRA mungkin lebih mudah terpilih, kalau DPR RI kami sangsi ibu terpilih’. Terus, lagi berkampanye, orang-orang dan calon lain bilang ‘droe hana neujok sapeu keu masyarakat, pane dipileh (Anda tidak memberi apa-apa kepada masyarakat, mana ada yang memilih). Itu saya ketawa, nggak apa-apa kan saya ada Allah. Kalau kata Allah saya terpilih, nggak dipilih di sini dipilih di tempat lain. Saya tetap bersikukuh kita tidak boleh memberikan sesuatu apa pun.

Sebagai perempuan, untuk menuju ke DPR RI lebih mudah atau lebih sulit?
Kalau perempuan dalam hal kesempatan harusnya lebih besar. Bagi saya, kali ini challenge paling bagus setelah tidak lagi di balai kota. Kemudian mungkin perempuan yang sudah dikenal. Sebenarnya banyak ‘perempuan harapan perempuan.’ Tapi, kadang-kadang nggak kenal, nggak tahu, nggak paham, dan untuk pergi ke tempat-tempat itu untuk memperkenalkan diri juga nggak mudah mendapatkan kepercayaan. Apalagi kalau hanya misi dakwah (hehehe…)

Contoh tantangannya apa?
Kalau perempuan tantangannya besar sekali. Untuk dapat keliling seluruhnya ke pelosok-pelosok. Bayangkan saya di Simeulue, saya sampai tinggal di rumah warga yang kehidupannya masih sangat sederhana dan jauh dari kota (Sinabang). Saya harus naik rakit untuk sampai ke sana. Tapi, itu pengalaman yang menyenangkan. Orang tanya, ‘Bu Illiza capek?’ tapi saya kok senang, saya menikmati itu semua. Di sisi lain saya juga bisa melihat potret kemiskinan Aceh, ‘kantong-kantong’ kemiskinan, persoalan basic masyarakat masih banyak yang belum terpenuhi. Bayangkan saja toilet masih susah dan sarana dan prasana dasar.

Apa bedanya dengan Banda Aceh atau daerah lain?
Kalau di Banda Aceh kita harus banyak bersyukur, pelayanan dasar seperti air bersih, sarana jalan, dan faslitas publik lainnya, sudah terpenuhi. Semua sudah bagus dibanding daerah-daerah lain yang masih berkutat dengan masalah.

Bagaimana Anda memaknai pertarungan dalam pemilu kali ini?
Yang saya rasakan karena doa orang-orang tua, emak-emak. Karena kalau saya datang dan bicara, mereka menangis dan berdoa mudah-mudahan saya terpilih. Sampai peluk-peluk dan bahkan ada yang nggak mau lepas. Di Simeulue selesai saya orasi politik, ada ibu-ibu peluk saya, nggak mau lepas sampai saya masuk ke mobil, saking mereka merasa terperhatikan. Harapan orang tua seperti itu dan kasih doa ke kita dengan keikhlasan. Hampir rata-rata seperti di Aceh Besar, Aceh Barat, Simeulue, dan Pidie, mereka menaruh harapan. ‘Ya Allah neuk, beu teupileh gata’ (Ya Allah nak, semoga terpilih kamu). Jadi dia itu betul-betul nggak harap apa-apa. Dia lihat kita pantas, kita cocok. Nah, ini kan yang tidak bisa kita bayar, mahal sekali harganya (Illiza mengucapkan ini dengan nada terisak sambil menyeka air mata).

Selama Anda berkampanye, pengalaman apa yang paling berkesan?
Pernah di satu daerah, saya mau shalat di mushalla, tapi nggak ada toilet. Oleh seorang warga di situ, saya dibawa ke rumahnya. Ternyata yang dia maksud toilet adalah drum-drum besar, terbuka begitu saja tempatnya. Tapi mereka bersyukur, tidak lupa ibadah dan tidak menghujat pemerintah. Itu di Simeulue dan itu membuat kita lebih bersyukur. Orang sampai segitunya, walaupun di Banda Aceh ada juga orang yang saya datangi fakir uzur, kemiskinan dan rumah kurang layak. Tapi memang di sana kehidupannya masih sangat natural dan kita datang mereka tidak berharap apa-apa.

Setelah menjadi anggota DPR RI, apa yang ingin Anda wujudkan?
Harus benar-benar menyuarakan aspirasi masyarakat. Mungkin saya harus fokus ke perempuan, karena sudah sekian lama tidak ada keterwakilan perempuan di DPR RI. 15 tahun lalu ada di Dapil 1 dari PPP. Setelah itu kan nggak ada perempuan yang mendapat kepercayaan di DPR RI. Jeritan suara perempuan juga besar, karena pelaku ekonomi di desa rata-rata perempuan. Mereka pergi ke sawah, single parent, dan jadi tulang punggung keluarga.

Program riil pemberdayaan perempuan yang ingin Anda lakukan di sektor apa saja?
Sebetulanya pengalaman saya di kota dulu (sebagai Wali Kota Banda Aceh), saya melibatkan perempuan dalam perencanaan pembangunan. Kemudian, perempuan bebas menyampaikan apa yang menjadi kebutuhan, apa yang menjadi fokus. Pemberdayaan ekonomi perempuan ini penting, pelatihan, memberikan modal usaha, pemasaran. Banyak perempuan di desa punya skill tapi tidak diasah. Kalau kita lihat pertumbuhan ekonomi Aceh saat ini bagus, tapi tidak menyentuh orang sehingga mereka tidak punya skill dan modal. Harusnya pertumbuhan bagus dan tingkat kemiskinan juga menurun. Jadi, ini perlu pemerataan. Keberadaan saya nanti juga harus membantu juga Aceh dan pemerintah dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat.

Strategi untuk terlaksananya pemberdayaan perempuan bagaimana?
Perempuan minta mereka bisa membuat kerajinan. Potensi wisata Aceh kan tinggi. Kalau untuk Banda Aceh kita pernah buat penelitian dengan Unsyiah ‘one village one product.’ Ada 300-an produk yang harusnya kita bisa beri modal, karena sudah ada usahanya dan kemudian tinggal kita pasarkan. Mimpinya kayak Bandung atau tempat lain. Kemudian sertifikasi halal, higinitas, packeging, dan lain-lain.

Peluang dan tantangannya bagaimana?
Kita akan fokus agar ekonomi berbasis syariah benar-benar diterapkan. Di sektor pendidikan Aceh kan khusus, harusnya diperhatikan local wisdom, dan kurikulumnya. Termasuk soal kebijakan sekolah Ramadhan. Di tempat kita berbeda dengan daerah lain di Indonesia, maka Aceh akan jadi destinasi menarik saat Ramadhan. Contohnya, sekarang kita datang ke Jakarta akan bedanya dengan berada Aceh. Kalau di Aceh sore hari orang jualan makanan, malam hari Tarawih dan toko-toko tutup. Pemandangan itu nggak ada di kota-kota besar. Ini sesautu yang di-created dengan maksimal, ‘Oh ini Ramadhan di Aceh aja. ‘Orang-orang yang ingin wisata, ‘Oh nggak pernah kita rasakan suasana seperti itu’. Itu sesuatu yang bisa kita lakukan.(*) ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!