Antara Karier dan Keluarga

oleh

SOSOK Hj Illiza Sa’aduddin Djamal SE mulai dikenal publik saat menjadi anggota DPRK Banda Aceh. Kariernya di dunia politik semakin bersinar usai terpilih menjadi Wakil Wali Kota dan Wali Kota Banda Aceh. Di luar itu, tak banyak yang tahu tentang kehidupan pribadi sang perwakilan perempuan di kursi DPR RI ini. Serambi yang berkesempatan mewawancarainya secara khusus di Hotel Al Hanifi, Lampriek, Banda Aceh, Jumat (10/5), coba mengulik sisi lain kehidupan sang mantan wali kota.

“Bedanya mungkin nanti saya sering di Jakarta (hehehe..). Keluarga di sini, tapi base-nya kan tetap Aceh. Anak saya kebetulan ada yang masih kuliah di Jakarta, dan yang di Mesir mungkin akan selesai Ramadhan ini,” beber sosok yang akrab disapa Bunda Illiza ini.

Ia pun menceritakan mimpinya, membuka ‘Illiza Center’. Sebuah sekolah dakwah yang mengasah pengetahuan agama dan pelatihan skill. Hal ini dipilih lantaran ia ingin menjadi lebih bermanfaat bagi sesama. Sehingga ada momentum untuk bertemu setiap pulang ke Aceh. Ia juga menaruh harapan, lebih banyak perempuan di Aceh yang mampu berdikari.

“Kalau lagi ada waktu senggang saya suka memasak (hehehe…). Saya termasuk hobi masak, saya suka baca Alquran. Hari-hari saya suka membaca. Itu paling senang saya kalau dalam kondisi sendiri untuk muhasabah diri, karena memang kan sehari-harinya banyak hal yang terbuang sia-sia,” ujar Illiza.

Putri mantan politisi Aceh, Sa’aduddin Djamal, bercerita dirinya sosok yang sangat perempuan. Gambaran perempuan yang suka memasak dan suka menjahit. Ia mendirikan Butik ‘Illiza Design’. Bahkan, baju-baju yang dipakainya diakuinya adalah hasil rancangannya sendiri.

Dirinya menegaskan, ia adalah seorang ibu yang suka menghabiskan waktu dengan keluarga. Dari mengurusi soal makan hingga pakaian anak-anaknya. Ia mengaku tidak pernah memforsir untuk melakukan sesuatu hal. Sisi kehidupan pribadinya dalam keluarga, diakuinya menjadi penyeimbang. Sehingga dipandang sebagai cara ampuh untuk melepas penat.

“Susah bagi waktu memang (antara menjadi perempuan pekerja dan ibu rumah tangga). Sebetulnya kalau motivasi kita ada, semangat kita ada, waktu itu akan maksimal. Makanya yang penting cinta dulu terhadap sesuatu yang kita lakukan. Kalau nggak ya bawaannya beban, capek, dan nggak senang,” imbuh Illiza berbagi tips.

Hal yang dialami dirinya pun, kerap menjadi masalah klasik yang dirasakan oleh para ibu rumah tangga yang juga bekerja masa kini. Terpenting baginya, ketika ia kembali ke rumah, maka rumah menjadi tempat paling menyenangkan bagi dirinya. Sebaliknya ketika ia ke kantor, maka hal itu menjadi sesuatu yang dinikmatinya pula. Mementahkan anggapan kalau perempuan hanya mampu di ranah domestik, sekaligus menegaskan perempuan pekerja bukanlah warga ‘kelas dua’.(rul) ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!