PA Berkurang, Gerindra Bertambah

oleh

BANDA ACEH – Pemilhan Umum (Pemilu) 2019 bisa disebut berhasil menyedot perhatian publik di Aceh, selain adanya wajah-wajah baru yang keluar sebagai pemenang kontestasi, perolehan suara partai politik juga menarik diulas. Bagaimana tidak, ada sejumlah partai yang sebelumnya tidak terlalu gemilang dalam perolehan suara, tapi kali ini bisa disebut sukses meraih suara.

Sebaliknya, partai yang dulu berjaya, namun untuk kali ini harus menelan pil pahit lantaran tidak bisa mempertahankan perolehan suara dan perolehan kursi, khususnya di level DPRA. Partai Aceh (PA) misalnya, partai lokal yang menaungi eks kombatan GAM ini sedikit merosot dalam perolehan kursi, meski tetap unggul dari semua partai lainnya.

Pada Pemilu 2014, partai yang dinahkodai mantan panglima GAM, Muzakir Manaf ini berhasil merebut 29 kursi di level DPRA, para kader PA menghiasi hampir semua komisi dan memantapkan posisi sebagai pimpinan DPRA.

Sedangkan pada Pemilu 2019 kali ini, perolehan kursi PA di DPRA sedikit menyusut. Data sementara yang diperoleh Serambi, PA hanya berhasil merebut 18 kursi dari total 81 kursi. Itu artinya, PA kehilangan 11 kursi di DPRA jika dibandingkan dengan hasil Pemilu 2014. Namun dipastikan, PA tetap menguasai DPRA karena menjadi partai yang paling banyak memperoleh kursi.

Sementara itu, Partai Gerindra yang dikenal sebagai partner politk PA selama ini, menoreh sejarah baru. Partai besutan Prabowo Subianto ini berhasil memperoleh delapan kursi dari sejumlah daerah pemilihan (dapil) di Aceh. Gerindra sukses menambah lima kursi jika dibandingkan dengan Pemilu 2014 yang hanya mendapat jatah tiga kursi.

Mualem membantah
Serambi secara khusus mewawancarai Ketua Umum Dewan Pimpinan Aceh Partai Aceh (DPA-PA), Muzakir Manaf alias Mualem, terkait merosotnya perolehan kursi DPRA oleh para caleg PA kali ini. Apalagi muncul isu, Mualem selama ini disebut-sebut lebih konsen pada Partai Gerindra, partai afiliasi politik PA untuk DPR RI dan sekaligus koalisi pendukung Prabowo-Sandi di Aceh.

Banyak publik tidak heran terhadap realitas merosotnya perolehan kursi PA, karena Mualem selaku tampuk pimpinan partai dituding sibuk dan terlalu fokus pada Partai Gerindra, untuk kontestasi DPR RI, dan dukungan capres/cawapres. Namun, Mualem dengan tegas membantah hal itu saat ditanyai Serambi, Rabu (8/5) lalu.

“Nggak, siapa bilang itu. Kita kan sudah tegas menyatakan bahwa untuk DPRK atau DPRA haram memilih Partai Gerindra, siapa pun. Partai Gerindra hanya untuk dukungan kita ke DPR RI, itu sudah kita sampaikan di mana-mana,” tegas Mualem.

Lalu, apa yang sebetulnya menyebabkan merosotnya perolehan kursi PA di DPRA? Mualem meyakini politik uanglah yang membuat suara-suara basis PA beralih ke caleg-caleg dan partai-partai lainnya dalam persaingan kursi ke DPRA. “Semuanya sudah berkiblat ke uang, pemilih lebih memilih atau lebih memihak kepada yang kasih uang. Ureung ka laloe ngon peng, yang kasih uang itu yang diambil (dipilih),” kata Mualem.

Mualem mengakui bahwa perolehan kursi PA memang sedikit berkurang dalam Pemilu 2019 kali ini. Namun, dirinya belum tahu pasti berapa jumlah pasti yang sudah diperoleh PA. “Betul, kita mengakui, tapi belum tahu berapa totalnya. Kita tunggu saja paripurna nanti. Apa benar 18, belum pasti juga, kita usahakan meningkatlah sampai 20 lebih, tapi apa pun keputusan nanti ya kita terima juga,” demikian Mualem.

Nasdem merosot
Partai besutan Surya Paloh, NasDem, dikabarkan juga merosot jauh untuk perolehan kursi DPRA kali ini. Jika sebelumnya NasDem berhasil merebut delapan kursi dan mengisi salah satu kursi pimpinan di DPRA, tapi kali ini NasDem harus menelan pil pahit, karena hingga saat ini baru mendapat dua kursi untuk DPRA.

Hal itu diakui oleh Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) NasDem Aceh, Zaini Djalil SH. “Ya berdasarkan hitung-hitungan segitu, tapi yang resmi tetap kita tunggu dari KPU. Kita memang turun, yang sudah aman dua, mudah-mudahan jika tidak ada persoalan bisa bertambah jadi empatlah,” kata Zaini Djalil.

Lantas, apa penyebab Partai NasDem terjun bebas dalam perolehan kursi di DPRA kali ini? Zaini Djalil mengaku hal itu dampak dari tsunami politik, mulai dari isu hoaks, isu pilpres, dan politik identitas yang dibangun rival politik. “Ada banyak hal, termasuk pengelompokan partai yang seakan-akan ada partai antiagama dan ada partai pembela agama. Ini disuarakan terus dan berdampak bagi kita, termasuk demo (PT EMM) jelang pemilu juga berdampak secara politik terhadap kita,” kata Zaini Djalil.

Seperti sering disebut demonstran bulan lalu, PT Emas Mineral Murni (EMM) yang mendapat izin eksploitasi tambang di Nagan Raya dan Aceh Tengah itu adalah milik Surya Paloh, Ketua Umum DPP Partai NasDem.

Hanya di Aceh, kata Zaini Djalil yang perolehan kursi NasDem merosot. Secara nasional saat ini NasDem jsutru masih berada di urutan kelima dengan perolehan suara hampir 10 persen atau tepatnya sekitar 9,70 persen. “Di sini saya kecewa, partai yang diketui oleh orang Aceh sendiri bisa kalah di Aceh, tapi di luar justru NasDem meningkat (perolehan suaranya),” pungkas Zaini Djalil.

Sementara itu, Partai Golkar saat ini dipastikan memperoleh kursi yang sama dengan Pemilu 2014 yakni sembilan kursi. Golkar dipastikan akan tetap mengisi satu kursi pimpinan di parlemen level provinsi tersebut. “Sementara sudah sembilan kursi, kita menunggu penghitungan di KIP Aceh,” kata Kedua DPD I Partai Golkar Aceh, TM Nurlif kepada Serambi beberapa waktu lalu.

Sedangkan PKS, yang Pemilu 2014 meraih empat kursi, berhasil menambah dua kursi lagi pada Pemilu 2019, totalnya PKS dipastikan akan memiliki enam wakil mereka di DPRA hingga lima tahun ke depan. “Alhamdulillah bertambah, ada penambahan kursi kita di dua dapil yang sebelumnya kita tidak ada, di Bireuen dan Aceh Utara-Lhokseumawe,” kata Ketua DPW PKS Aceh, Ghufran Zainal Abidin. (dan) ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!