Kopelma Darussalam Serasa “Jalur Gaza”

oleh

OLEH AYU ‘ULYA, alumnus Universitas Syiah Kuala dan UIN Ar-Raniry, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Banda Aceh, melaporkan dari Darussalam, Banda Aceh

SAYA tak bisa menafikan pepatah ini: jauh berjalan, banyak dilihat. Namun, kini saya sadari, menetap lama di suatu tempat juga menjadikan diri kita banyak melihat. Terutama jika wilayah tersebut berubah dengan pesat dalam waktu relatif singkat, seperti halnya Kota Pelajar Mahasiswa (Kopelma) Darussalam di bagian utara Banda Aceh.

Bagi para dewasa yang dulunya pernah menghabiskan masa belia di wilayah Kopelma Darussalam pastinya tahu persis bagaimana asyiknya hidup damai dalam apitan dua kampus besar, Jantong Hatee (Jantung Hati) Rakyat Aceh ini, yakni Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan UIN (dulunya IAIN) Ar-Raniry.

Civitas academica yang kini menua dan pernah muda di masa itu, pasti paham bagaimana bangganya menjadi warga Kopelma Darussalam yang pernah memiliki begitu banyak pendidik dan pemimpin hebat nan rendah hati, seperti Prof Safwan Idris dan Prof Dayan Dawood, dua permata ilmu kecintaan rakyat Aceh dari kedua kampus. Sayangnya, kedua tokoh ternama ini meninggal tragis karena ditembak pada masa konflik bergejolak.

Bagi masyarakat awam dan kanak-kanak seperti saya yang dulu tidak paham tentang politik pendidikan, kampus laksana rumah bermain dan taman rekreasi. Saya masih sangat ingat bagaimana di masa kecil kerap menghabiskan waktu sore bersama teman-teman menumpang bermain di Taman Kanak-kanak (TK) FKIP Unsyiah yang pagarnya mudah dipanjat dan disusupi, berkeliaran, serta berpura-pura mengajar di ruang-ruang perkuliahan UIN Ar-Raniry yang tak pernah terkunci, bersepeda, serta lomba lari di lapangan, lalu memanjat Tugu Darussalam ke puncak tertinggi, dan memantau megahnya pembangunan Masjid Jamik Kampus Darussalam yang tak kunjung usai karena dananya dicicil pelan-pelan dari potongan gaji para civitas academica dan sumbangan wajib mahasiswa dari kedua kampus tersebut.

Bagi saya pribadi, pernah hidup dalam kenangan indah seperti itu merupakan kesyukuran tersendiri. Bahkan bisa jadi pengalaman tersebut yang tertanam di alam bawah sadar saya sehingga begitu bersemangat untuk meraup ilmu di kedua kampus ini.

Pada tahun 2008, ketika nama saya lulus sebagai calon mahasiswa di kedua kampus, Fakultas MIPA Jurusan Matematika Unsyiah dan di Fakultas Tarbiyah Jurusan Bahasa Inggris IAIN Ar-Raniry, rasanya saya begitu haru dan bangga. Namun, pascatamat kuliah dan lulus sebagai alumni dari kedua Universitas Jantung Hati Rakyat Aceh tersebut, anugerah seakan dibumbui petaka.

Pasalnya, tidak sedikit kejadian yang menempatkan saya sebagai mahasiswa sekaligus alumni simalakama. Membela Unsyiah, namun mencintai UIN Ar-Raniry, membela UIN Ar-Raniry, tapi tak bisa hidup tanpa Unsyiah.

Kegelisahan menjadi-jadi ketika saya mendapati semakin banyak mahasiswa dan civitas academica yang “lupa belajar” berpikir komprehensif, tidak mengukur kepandaian dengan kebodohan orang lain sehingga sikap merasa hebat dengan menggunjingkan kampus sebelah bisa diminimalisasi. Bukankah kampus-kampus hadir untuk saling melengkapi?

Lebih membingungkan lagi, ketika masyarakat direcoki berbagai isu seputar hak tanah kampus ini dan itu, ketika faktanya kondisi kampus di wilayah Kopelma Darussalam justru semakin terisolasi dari jangkauan masyarakat dan tak menjadi seramah dulu. Hal tersebut terlihat jelas dari semakin banyaknya tembok, gembok, palang besi, dan gerbang yang terkunci kini di Kopelma Darussalam ini sehingga terkesan bagaikan “Jalur Gaza” yang mulai memisahkan secara tegas antara Kampus Unsyiah dan UIN Ar-Raniry.

Jembatan batin
Sebuah cuitan dari akun media sosial seorang penulis berbakat sekaligus Antropolog UIN Ar-Raniry, Dr Kamaruzzaman Bustamam-Ahmad yang akrab disapa KBA sempat menghebohkan jagat maya dalam dua hari terakhir. Cuitan tersebut berisi kegelisahannya tentang semakin banyaknya sekat atau tembok yang dibangun antarkedua kampus jantung hati rakyat Aceh tersebut yang sekilas tampak seperti kondisi di Jalur Gaza. Setelah membaca hal tersebut, kegelisahan dan kebingungan yang sudah bertahun saya pendam menjadi pecah, tumpah ruah.

Sebagai rakyat awam yang sudah lama menetap di kawasan Kopelma Darussalam, hilangnya satu per satu jalan tikus yang menghubungkan antarkedua kampus dan rakyat sekitar, dengan tembok dan palang besi yang bertumbuh, sempat membuat saya bingung dan bertanya-tanya akan kegunaannya. Namun, minimnya ilmu dan tak pahamnya saya akan perpolitikan kampus membuat saya mencoba berpikir sepositif mungkin, walau intuisi kerap berkata lain.

Pasalnya, kegelisahan KBA bisa jadi kegelisahan batin warga Darussalam khususnya dan warga Aceh pada umumnya. Bedanya, KBA tahu harus menyalurkan kegelisahannya melalui tulisan, adapun rakyat biasa mungkin hanya menyalurkan aspirasinya dari mulut ke mulut di pasar dan warung kopi yang kemudian aspirasi tersebut dibuyarkan oleh riuhnya suasana pasar atau lenyap bersama panasnya kepulan asap air penyeduh kopi.

Kekhawatiran akan tumbuhnya “kampus menara gading” yang semakin terasing dari kehidupan rakyat nyata patut ditinjau ulang. Sekat-sekat fisik pada kampus justru menimbulkan kesan seakan memandang masyarakat sebagai musuh atau orang yang patut dicurigai. Seperti kasus yang terjadi baru-baru ini di Darussalam, terkait lebih pentingnya sekat hak tanah kampus daripada atap asrama yang menaungi para penuntut ilmu. Hal tersebut termaktub jelas dalam surat edaran peringatan nomor: B/412/UN11/RT.04.01/2019 yang diberikan Rektor Unsyiah kepada Pengelola Asrama Putri UIN Ar-Raniry. Para penuntut ilmu asal UIN Ar-Raniry diminta bersiap-siap pindah karena asrama yang mereka tempati diklaim berada di atas aset tanah milik Unsyiah.

“Pergesekan” semacam ini yang membuat alumni simalaka seperti saya semakin merasa tidak berdaya. Bukan karena hampa solusi, tapi esensi “jembatan batin” untuk saling berdialog dan berdamai tak dapat diwujudkan bila ego dan saling klaim masih dikedepankan. Sebab, sehemat pemikiran awam saya, tujuan pendidikan sejatinya adalah untuk saling menumbuhkan, saling mengasihi, saling mencintai. Lantas, cinta macam apa yang merusak di bumi yang bernama Darussalam, negeri yang aman?

Ingatlah bahwa pada dasarnya Kopelma itu hanya satu, satu kawasan, satu hamparan, dan satu cita-cita. Ia jadi penanda suatu fase penting, yakni berakhirnya konflik DI/TII, menandai masa transisi dari Darulharb (daerah perang) ke era yang damai, sehingga dinamakan Darussalam. Nah, setelah sekian lama Unsyiah dan UIN Ar-Raniry hidup rukun sebagai “jantung dan hati” di perkampungan pelajar mahasiswa, akankah “perang kecil” tanpa sengaja disulut di negeri yang damai ini? Wallahu’alam. ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!