Permainan Tradisional Cegah Anak Hidup Konsumtif

oleh

OLEH ADI ARADI, S.PD, Mahasiswa Program Magister Pendidikan Olahraga Unsyiah

Olahraga merupakan akvifitas tubuh secara pribadi, tim, kelompok atau regu yang sering dilakukan sehari-hari, baik olahraga tradisional maupun olahraga modern. Olahraga merupakan wahana atau wadah untuk membentuk suatu nilai atau norma dalam kehidupan masyarakat, misalnya nilai sosial, gotong royong, kerja sama, saling menghormati dan tolong menolong.

Kurang disadari bawa olahraga itu terbentuk dari suatu kegiatan yang ada di lingkungan, misalnya permainan. Permainan adalah suatu bentuk aktivitas fisik di lingkungan masyarakat yang mampu menerapkan ilmu-ilmu sosial yang terkandung di dalamnya. Permainan lama kelamaan berkembang menjadi olah raga yang dikhususkan dengan dilengkapi aturan dan saran prasrana lainnya. Dengan kata lain olahraga adalah bentuk permainan yang dispesifikan.

Bermain merupakan kegiatan yang penting bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik, sosial, emosi, intelektual, dan spiritual anak. Dengan bermain anak dapat mengenal lingkungan, berinteraksi, serta mengembangkan emosi dan imajinasi dengan baik. Pemerintah Indonesia telah mencanangkan prinsip, “Bermain sambil belajar atau belajar seraya bermain”.

Bermain yang sesuai dengan tujuan di atas adalah bermain yang memiliki ciri-ciri seperti: menimbulkan kesenangan, spontanitas, motivasi dari anak itu sendiri. Kegemaran anak dalam bermain ini kemudian menyebabkan munculnya beragam permainan mulai dari yang sederhana, menengah, sampai yang paling kompleks.

Indonesia adalah suatu negara yang mempunyai berbagai macam suku, seperti Jawa, Sunda, Bugis, Dayak, Aceh, Batak, Minang, Asmat, dan lain-lain. Dengan adanya suku-suku tersebut olahraga tradisional di Indonesia mampu berkembang dan muncul cabang-cabang olahraga tersendiri.

Olahraga dan permainan tradisional menarik untuk dibahas karena berbagai daerah di Indonesia memiliki olahraga tradisional yang khas. Misalnya, Keranjang Kambie (Sumbar), Ujungan (Banten), Keket (Jatim), Barapen (Papua), Tanggobe (Gorontalo), Geudeu-geudeu (Aceh), Karapan Sapi (Madura), dan banyak lainnya.

Selain itu, olahraga dan permainan tradisional sebagaimana olahraga modern menjadi jalan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, sehingga multiplier effect-nya semakin besar. Akan tetapi, karena berbagai hak terkait dengan kondisi saat ini, maka olahraga tradisional memerlukan transformasi tanpa meninggalkan esensi dasarnya.

Tahun 1980-an adalah salah satu era permainan tradisional menjadi idola dan kebutuhan di kalangan anak dalam megekspresikan masa kecilnya. Biasanya permainan tradisional tersebut merupakan ciri khas suatu daerah. Cara bermain biasanya berkelompok dan hal itu yang membuat permainan tersebut semakin seru dan menyenangkan.

Beberapa contoh permainan tradisional, misalnya lompat tali, kelereng, petak umpet, galasin atau hadang, enggrang, dan lain-lain. Sayang sekali permainan ini semakin ditinggalkan. Bergeser keberadaanya akibat semakin banyaknya perminan modern yang membuat anak menjadi individualistis, konsumtif dan kurang berinteraksi dengan lingkungan sekililing mereka.

Fakta terjadi dalam masyarakat begitu banyak tradisi yang semakin ditinggalkan. Contohnya, permainan tradisional anak yang hampir tidak pernah kita jumpai lagi. Penulis sangat merasakan bagaimana indahnya masa kecil yang belum tersentuh dengan teknologi seperti sekarang, dimana permainan tradisional hanya menggunakan alat-alat sederhana. Bahkan terkadang tanpa alat dan biaya yang besar, hanya mengandalkan tenaga dan kekompakkan.

Masa-masa kecil tersebut dilalui dengan kebahagian dan menjadi kenangan ketika bertemu dengan teman-teman tersebut. Cerita manis yang dirasakan merupakan dampak dari permainan tradisional yang melekat dalam sanubari bagi para pelakunya, termasuk di dalamnya pola berfikir praktis, mandiri, kreatif, dan ekonomis untuk memanfaatkan fasilitas alam yang tersedia. Apakah pengalaman tersebut juga akan dirasakan anak-anak generasi sekarang?

Berkaitan dengan semakin hilangnyan permainan olahraga tradisional penulis tertarik tentang dampak permainan tradisonal terhadap prilaku konsumtif anak. Seperti yang kita ketahui bahwa usia anak-anak identik dengan usia bermain, bahkan sering kita dapati suatu kata seloroh seperti “masa kecil kurang bahagia” apabila kita melihat orang dewasa masih memainkan permainan tradisional tersebut.

Bila berbicara mengenai olahraga, maka kita menyadari bahwa ada bermacam-macam cabang olahraga dan permainan yang bisa dipilih dan serius untuk menekuninya. Ada olahraga modern yang mempunyai cara dan aturannya akan berbeda dengan olahraga tradisional yang masih minim, baik dari tata cara bermain dan aturan-aturannya.

Ada juga olahraga yang dirancang untuk melatih fisik atau otot para pelakunya, ada pula yang dibuat untuk menstimulasi kesegaran rohani atau psikis serta merancang kerja otak.

Sejauh ini hanya di Indonesia yang mengenalkan jenis olahraga dan permainan tradisional kepada publik. Yang dimaksud tradisional adalah jenis olahraga dan permainan yang timbul berdasar permainan dari masing-masing suku dan etnis yang ada di Indonesia.

Cabang ini tidak semuanya dilombakan baik secara nasional maupun internasional. Ada pun cabang-cabangnya adalah: sepak takraw, pencak silat, karapan sapi, engrang, loncat batu, dan lain-lain.

Permainan dan olahraga tradisional pada awalnya merupakan permainan anak-anak dalam mengisi waktu luangnya. Mereka berkumpul dan menciptakan suatu permainan dalam bentuk berbagai gerakan dengan memanfaatkan benda-benda yang ada di sekililingnya sebagai pendukung permainan tersebut, seperti pecahan genteng, kaleng bekas, karet gelang, akar pohon, pelepah kelapa, dan pisang.

Kemudian mereka membuat atauran sederhana yang mereka sepakati, apabila permainan tersebut terdiri dari dua regu maka mereka menentukan regunya dengan cara suit, yang kalah dengan yang kalah dan yang menang dengan yang menang, sehingga terbentuk dua regu.

Permainan itu diciptakan pada waktu lampau dan berkembang sesuai dengan letak geografis suatu daerah.

Permainan tradisional mulanya merupakan sarana interaksi anak di lingkungan sosialnya dengan bergembira dan rekreasi anak-anak berusaha mengisi waktu luang dengan bermain. Sedangkan nilai kerja sama, intelektual, keindahan, mandiri, sikap ekonomis merupakan dampak yang ditimbulkan oleh adanya permainan tersebut. Saat itu anak-anak berfikir bagaimana caranya dapat bermain dengan gembira tanpa mengeluarkan biaya banyak, bahkan tidak ada sama sekali.

Seiring dengan globalisasi dan perkembangan teknologi informasi, hampir semua permainan olahraga dimainkan dengan mesin seperti mobil-mobilan, boneka-bonekaan, game online, PS, game watch, X-Box, dan dingdong. Bahkan, terdapat play store pada tab dan anderoid yang anak-anak pegang. Di zaman ini telah menjadi korban dari globalisasi permainan modern dan terpengaruh oleh pola hidup konsumtif.

Jika dibandingkan permainan olahraga tradisional dengan permainan modern sangatlah berbeda bila dilihat dari tempat permainan tradisional memerlukan tanah lapang, sawah, sungai, benda-benda yang ada di sekitar, dapat dinikmati secara gratis, dimainkan secara sportif. Beda dengan permainan modern fasilitas dan perlengkapan semuanya didapat dengan biaya yang cukup tingggi, seperti di mall dan warnet.

Kenyataan yang terjadi saat ini orang tua lebih cenderung membawa anak-anaknya bermain di wahana yang telah disediakan dengan alasan agar anaknya tidak terlihat kampungan dan lebih aman meskipun dengan biaya tinggi. Kenyataan ini akan menggeser nilai-nilai yang terdapat dalam permaianan tradisional bagi anak-anak yang melakukannya.

Nilai-nilai yang terkandung dalam permainan olahraga modern tidak semuanya negatif, tetapi masih ada nilai positifnya. Akan tetapi nilai-nilai tesebut cenderung menyebabkan dampak negatif seperti pola hidup konsumtif, individualistis, ketergantungan, menurunnya daya kretivitas, mengurangi derajat kesehatan, mengurangi tingkat keterampilan, menurunya tingkat disiplin dan lain-lain.

Permainan dan olahraga tradisional pada zaman modern ini mulai hilang terutama di kota-kota besar, meskipun masih ditemukan di daerah pinggiran kota. Kita tidak bisa menghalangi laju perkembangan tersebut, yang dapat kita lakukan adalah berusaha mengenalkan kepada anak-anak mengenai permainan dan olahraga tradisional melalui kegitan olahraga di sekolah atau event tertentu.

Permainan dan olahraga tradisional merupakan aktivitas fisik yang yang dilakukan di tengah-tengah kehidupan sosial masyarakat yang telah membudaya sesuai dengan letak georafis suatu daerah. Karena permainan dan olahraga ini bersifat sebagai interaksi sosial dengan peraturan sederhana yang berdasarkan kesepakatan dan tidak memerlukan biaya tinggi, praktis, dan ekonomis.

Sarana dan prasaran yang tadinya berupa tanah lapang, sungai, sawah, halaman rumah, sekarang berubah menjadi tame zone, mall, wahana air, dan sebagainya. Peralatan yang serba modern ini memaksa orang tua akan bersifat konsumtif demi menyenangkan anaknya. Anak pada usia ini akan cepat meniru dari apa yang diajarkan orang tuanya, karena anak cenderung bersifat pengguna (user), sehingga akan mempengaruhi perkembangan anak.

Mereka akan kehilangan daya kretivitas, kurangnya jiwa sosial, individual, dan yang paling berbahaya akan selalu menuntut untuk dipenuhi permintaanya menuju ke arah pola hidup konsumtif. Agar pola ini dapat dikurangi, maka perlu dikenalkan dan diajarkan kembali permainan dan olahraga tradisional dari mulai keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Perlunya suatu landasan atau regulasi tentang pendidikan jasmani yang memuat kurikulum mengenai olahraga dan permainan tradisional sampai dengan perlombaannya. Semoga! Email: [email protected] ()

Komentar


Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!