Dokter tak Ada, Obat pun Kosong | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Dokter tak Ada, Obat pun Kosong

Foto Dokter tak Ada, Obat pun Kosong

* Bocah Step Harus Dirujuk ke RS

LHOKSUKON – Muhammad Raffi Al Fatih, bayi 14 bulan asal Desa Paya Dua Uram, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara yang mengalami step setelah deman tinggi, tak mendapat pertolongan di Puskesmas Seunuddon. Saat dibawa ke Puskesmas itu, Sabtu (18/6) sekitar pukul 23.00 WIB, dokter tak ada di tempat. Obat untuk demam pun tak ada di puskesmas, sehingga orang tuanya harus membeli ke apotek di Pantonlabu.

“Anak saya mengalami demam tinggi. Lalu saya bawa ke Puskesmas Seunuddon dengan sepeda motor. Saya berharap anak saya yang kejang-kejang, bisa sembut,” kata Supian, ayah Muhammad Raffi yang juga Keuchik Paya Dua Uram, kepada Serambi, Sabtu (18/6).

Tapi, sesampai di puskesmas, kata Supian, petugas piket mengatakan dokter sudah dua malam tidak masuk. Lalu petugas piket menghubungi dokter tersebut yang sedang berada di rumahnya Kecamatan Tanah Jambo Aye. Dokter lalu menyarankan petugas medis itu untuk memberikan obat sesuai resep yang diberikannya.

“Tapi, obat yang diresepkan itu pun tak ada di puskesmas. Kami diminta beli obat ke apotek di Pantonlabu. Jenis obat itu padahal paracetamol, amoxilin dan obat kompres seharga Rp 15.000,” ujar Supian. Tak lama kemudian, anaknya dibawa dengan ambulans Puskesmas Seunuddon ke Rumah Sakit Kesrem Lhokseumawe, meski tak ada surat rujukan.

“Sekitar jam satu tengah malam anak saya tiba di Kesrem. Alhamdulillah sekarang kondisi sudah membaik,” Ujar Supian. Ia berharap kejadian serupa tak terulangi lagi ke depan. Sebab, beberapa waktu lalu juga ada bocah yang meninggal karena tak bisa mendapatkan pertolongan, karena tak ada dokter dan obat di puskesmas.

Kepala Puskesmas Seunuddon, Zaituni kepada Serambi menjelaskan, karena kondisi bayi itu sudah kejang-kejang, tidak mungkin lagi ditangani di tingkat puskesmas, sehingga pasien itu dirujuk ke puskesmas yang ada di Lhokseumawe. “Jadi bukan tidak melayani, tapi kalau kondisinya sudah kejang-kejang, itu penangananannya tidak bisa lagi puskesmas,” ujar Zaituni.

Selain itu jika diberikan obat yang ada di puskesmas tidak memungkinkan lagi, karena bayi itu harus ditangani dokter spesialis. “Dokter bukan tidak masuk, tapi karena anaknya sedang sakit. Selain itu kami juga kekurangan dokter selama ini, tapi tetap memberi pelayanan terbaik kepada masyarakat,” katanya.(jaf) (uri/gie/iyadie/OR)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id