Warasatul Anbiya | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Warasatul Anbiya

Warasatul Anbiya
Foto Warasatul Anbiya

Tgk. H. Faisal Ali
Ketua Umum PWNU Aceh/Wakil Ketua MPU Aceh

Ulama pewaris para nabi (al-’ulama warasatul anbiya). Ulama adalah pelita bagi bumi.

ADA tiga hal yang menjadi sendi utama dalam Islam itu, yaitu iman, Islam, dan ihsan. Perhatian terhadap iman memunculkan ilmu tauhid atau ilmu kalam (teologi). Perhatian khusus pada aspek Islam (dalam pengertian yang sempit) menghadirkan ilmu fikih atau ilmu hukum Islam yang terjabarkan dalam empat aspek kajian (rubu’), yaitu ibadah, muamalah, munakah, dan jinayah.

Sedangkan pendalaman dimensi ihsan melahirkan ilmu tasawuf atau ilmu akhlak. Ketiganya merupakan satu kesatuan yang tidak terbagi-bagi. Kemudian para ulama mengadakan pemisahan menjadi bagian ilmu tersendiri. Keterpaduan tiga ilmu dasar inilah yang menghiasi para ulama dalam membimbing dan mengayomi umat agar tidak tersesat. Rasulullah saw mewariskan semua kajian ilmu pengetahuan kepada ulama. Abu Ad-Darda berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa meniti jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan mempermudahnya jalan ke surga. Sungguh, para malaikat merendahkan sayapnya sebagai keridhaan kepada penuntut ilmu. Orang yang berilmu akan dimintakan maaf oleh penduduk langit dan bumi hingga ikan yang ada di dasar laut.”

Kelebihan seorang alim dibanding ahli ibadah adalah seperti keutamaan rembulan pada malam purnama atas seluruh bintang. Para ulama adalah pewaris para nabi (al-’ulama warasatul anbiya). Para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu. Warisan nabi yang sangat berharga dan mulia di sisi Allah Swt adalah ilmu, karena dengan ilmu bisa membuat manusia hidup bahagia di dunia dan akhirat.

Kesalehan dan kebahagiaan seseorang ditentukan oleh kualitas ilmu yang dimilikinya. “Siapa yang ingin bahagia di dunia, maka mesti dengan ilmu, siapa yang ingin bahagia di akhirat, maka mesti dengan ilmu, dan siapa yang ingin bahagia pada keduanya, maka mesti dengan ilmu.” Sekalipun hadis ini menjelaskan kemuliaan ilmu agama di atas segala-galanya, namun sedikit di antara umat yang mau merebutnya. Hanya para ulamalah yang senantiasa bergelut siang-malam dengan ilmu agama.

Ulama juga berfungsi sebagai perantara antara Allah dengan hamba-hamba-Nya, dengan rahmat, dan pertolongan-Nya. Allah Swt juga menjadikan para ulama sebagai pewaris perbendaharaan ilmu agama, sehingga ilmu agama terus terpelihara kemurniannya sebagaimana awalnya.

Pascawafatnya Rasulullah saw, ulamalah yang menggantikan posisi beliau dalam membina umat sebagaimana sabdanya, “Ulama adalah pewaris para Nabi.”

Ulama selalu memosisikan dirinya sebagai pioner dalam mencerdaskan umat dan menegakkan kebenaran. Menuntun umat dari segala lapisan  kepada pencapaian kesejahteraan dan kedamaian hakiki, serta senantiasa menanamkan rasa kepedulian dan kesetiakawanan sosial dalam mewujudkan umat yang cinta damai.

Memberi perlindungan kepada umat dan merawat ukhuwah demi meninggikan Islam dan memajukan peradaban bahagian dari rutinitas keseharian para ulama, karena ulama memikul amanah Allah sebagai penerus risalah sesudah para nabi.

Allah Swt berfirman: Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama. (QS. Fathir: 28). Allah memilih  ulama dalam memikul amanah dikarenakan ilmunya, sebab ilmu Allah menjadikan ulama itu sebagai hamba-Nya yang spesial. Allah  berfirman: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? (QS. Az-Zumar: 9).

 Tata cara berpolitik
Ulama bukan hanya menerima warisan dari para nabi dalam aspek  ibadah saja, tetapi juga menerima warisan dalam seluruh dimensi kehidupan, termasuk bidang politik dan kepemimpinan. Rasulullah telah memberikan teladan yang baik dalam segala hal, termasuk tata cara berpolitik. Tidak ada yang mengingkari terhadap kepiawaian Rasulullah dalam berpolitik.

Ulama sebagai pewaris nabi, tidak bisa dipisahkan dengan kehidupan politik. Roda politik kehidupan sangat ditentukan oleh peran para ulama. Dunia politik akan gelap, arah kebijakan tersesat, jika ulama tidak hadir di dalamnya.

Dari Anas bin Malik bahwa Rasul saw bersabda: Permisalan para ulama di bumi seperti bintang-bintang di langit, digunakan sebagai petunjuk dalam kegelapan daratan dan lautan. Jika bintang-bintang itu hilang, dikhawatirkan orang-orang yang mencari petunjuk menjadi sesat. (HR. Ahmad).

Selepas khulafaur rasyidin, peran strategis ulama juga tidak pernah terpisahkan dengan kehidupan politik. Ulama seperti Imam Ahmad, Imam Abu Hanifah, Imam Al Ghazali, adalah para ulama yang senantiasa konsen terhadap persoalan politik. Peran penting mereka dalam kehidupan politik, terlihat dari perhatian mereka terhadap keputusan-keputusan khalifah terkait urusan kaum muslimin saat itu.

Ulama harus mampu menciptakan ruang gerak politik yang leluasa bagi manusia untuk menuju cita-cita bersama. Proses perpolitikan sekarang belum menemukan bentuk yang ideal dan masih sarat dengan pengkhianatan dan fitnah. Hal ini terjadi dikarenakan ulama menjauh dari arena lembaga penghasil regulasi itu, yaitu legislatif dan  eksekutif.

Oleh karena itu, keterlibatan ulama dalam kancah politik merupakan sebuah keharusan, karena ulama mempunyai kapasitas membangun nilai moral dan etika. Sekarang saatnya ulama dapat benar-benar membuktikan kepada segenap anak bangsa bahwa ulama sungguh mampu menjalankan politik islami yang santun dan bermartabat serta menghargai pilihan orang lain sebagai kebebasan dalam bingkai ukhuwah.

Tidak semua ulama harus didorong untuk mewariskan khazanah ilmu kepada umat, tetapi harus ada juga ulama yang bergelut di bidang perdagangan, pembangunan, dan kehidupan sosial lainnya. “Sesungguhnya ulama di bumi ini adalah bagaikan bintang-bintang di langit dengan dia umat ditunjukkan jika dalam kegelapan, baik di darat maupun di laut.” (HR. Al-Ajuri dari Anas ra). (email: [email protected]) (uri/omario/alah/RF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id