Sastra dan Transformasi Moral | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Sastra dan Transformasi Moral

Foto Sastra dan Transformasi Moral

Oleh Sulaiman Juned, Penyair dan Sutradara Teater, Sekretaris/Ketua Panitia Pendirian kampus ISBI Aceh (2012/2013), Dosen Jurusan Seni Teater ISI Padangpanjang, Doktor Penciptaan Seni Teater Program Doktoral (S3) ISI Surakarta, Jawa Tengah.

Moralitas suatu anak bangsa tidak cukup dengan pembelajaran afektif di sekolah-sekolah. Mari kita berkaca pada wajah semesta, beberapa waktu yang lalu ada berita di media elektronik seorang anak yang mengalamiketerbelakangan mental dibuang oleh keluarganya.

Betapa tak bermoralnya anak bangsa kita kini, buah hati yang darah dagingnya sendiri tega diperlakukan begitu. Beberapa waktu lalu ada remaja yang mencoba membunuh calon isterinya karena mahar perkawinannya terlalu tinggi.

Akibatnya sang remaja berurusan dengan pihak yang berwajib atau kita baca dibeberapa surat kabar negeri seorang suami rela membunuh pasangan hidupnya karena hal-hal yang sangat sepele, atau belum lama ini di Sumatera Utara ada peristiwamengenaskan seorang mahasiswa tega membunuh dosen pembimbingnya.

Miris benar mentalitas anak bangsa ini, begitu juga masyarakat sangat mudah tersulut dengan rumor-rumor yang sengaja diciptakan sehingga melakukan demontrasi tanpa membawa si kepalanya. Kekerasan demi kekerasan menjadi tontonan gratis di media elektronik dan bacaan yang menarik di surat kabar, lalu muncullah pertanyaan-pertanyaan di benak kita, sudah begitu merosotkah moralitasbangsa? Apa penyebabnya?

Sederhana memang, jika ruang kognitif dan psikomotorik yang harus di isi dalam kepala anak bangsa. Hal ini apat dilakukan melalui jalur pendidikan formal, namun kita sering lupa bahwa secara afektif tidak cukup melaluipendidikan agama dan budaya semata di sekolah-sekolah. Mengisi uang-ruang afektif haruslah dilakukan melalui kualitas bacaan dari si anak didik.

Kembali kepada masa dahulu, di Aceh telah dilakukan pendidikan moralitas semenjak usia dini, betapa tidak, semenjak dalam ayunan ibu-ibu masadulu selalu saja mendendangkan anak-anaknya dengan ikayat-hikayat yang sifatnya mendidik. Hal ini secara tidak langsung telah melakukan transformasi moral buat anak semenjak usia dini dan melekat sampai usianya remaja dandewasa nanti.

elum lagi melalui bacaan-bacaan sastra yang mampu menyemai nilainilai luhur bagi si anak sehingga menjadi pribadi jujur, bertanggungjawab dan emiliki keimanan yang baik. Karya sastra secara tidak langsung dapat menjadi transformasi moral bagi manusianya. Betapa tidak, jika kita membaca novel yang berjudul Tenggelamnya Kapal Vanderwijk karya Hamka, otomatis pembaca disuguhkan pembelajaran terhadap adat istiadat, moralitas, kasih sayang. Bagaimana tokoh Zainuddin arus rela meninggalkan Hayati karena orang tua Hayati tidak berkenan menerima Zainuddin, cinta terkadang tidak harus menyatu.

Dewasa ini, generasi muda malas membaca karyakarya sastra yang berkuaitas, karya sastra yang memiliki pembelajaran moral sehingga prilakunya menjadi kasar, sebab dalam ruang dunia pendidikan hanya otak yang enampung keilmuan saja yang di isi sedangkan otak yang menampung bacaanbacaan sastra yang cenderung menyimpan pembelajaranmoral tidak terisi sama sekali. Ruang-ruang sastra dapat memanusiakan manusia.

Sastra mampu menjadi perekat antar sesama sehinga menghilangkan perbedaan dan menumbuhkan kebersamaan. Manusia acap kali saling bersilang pendapat tentang idealisme yang mengakar pada diri sedangkan kesenian cenderung merekatkan keretakan manusia tersebut.

Sesungguhnya kekuatan sastra tidak hanya sebagai media hiburan semata, tetapi mampu menjadi media komunikasi sosial serta transformasi moral buat masyarakat. Buktinya, pada masa dahulu,seorang ibu atau nenek di Aceh mengantar tidur anak atau cucunya dengan cerita dongeng yang idalamnya diselipkan pembelajaranmoral.

Ketika si anak tumbuh dewasa, cerita sang ibu dan nenek itu masih melekat di jiwanya yang bermuara pada keengganannya melakukan kesalahankesalahan. Hari ini, kita tidak pernah lagi menyaksikan sang ibu atau nenek di rumah-rumah menidurkan anak dan cucunya dengan cerita dongeng atau petatah petitih. Dewasa ini, menidurkan anak dengan lagu angdut atau metalika yang menjadikan psikologi anak keras dan cengeng. ari kita ciptakan generasi yang bermoralitas melalui pembacaan karya-karya sastra yang berkualitas. Semoga! (uri/anni/addad/BH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id