Migran Sri Lanka Minta Kapal Baru | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Migran Sri Lanka Minta Kapal Baru

Foto Migran Sri Lanka Minta Kapal Baru

BANDA ACEH – Instruksi Wapres RI Jusuf Kalla agar Gubernur Aceh membantu migran asal Sri Lanka yang terdampar di Laut Lhoknga, Aceh Besar sejak 11 Juni 2016 terus dilaksanakan, seperti kebutuhan logistik, pemeriksaan kesehatan, perbaikan kapal, dan tambahan bahan bakar. Namun hingga kemarin, kapal yang ditumpangi 44 orang itu belum juga melanjutkan perjalanan, bahkan mereka meminta kapal baru kepada Gubernur Aceh.

Permintaan kapal baru itu disampaikan S Artika, salah seorang migran wanita yang bisa berbahasa Inggris kepada Gubernur Zaini Abdullah yang melihat langsung kondisi mereka, Jumat kemarin.

Dalam perbincangan itu, S Artika meminta Gubernur Aceh menyediakan kapal baru agar mereka bisa kembali melanjutkan perjalanan dan meninggalkan perairan Aceh. “Kami sangat merasa ketakutan, kapal ini sudah banyak masalah, kami mau bapak menggantikan dengan kapal lain. Selama ini kami merasa sangat kedinginan,” kata S Artika.

Zaini hanya tersenyum mendengar permintaan itu sambil meyakinkan S Artika bahwa kapal yang mereka tumpangi akan segera diperbaiki. “Kami akan segera memperbaiki kapal Anda,” kata Zaini.

Kepada wartawan, Zaini mengakui migran tersebut meminta dirinya untuk menggantikan kapal bernomor lambung TN-1-FV-00455-09 yang selama ini mereka tumpangi. “Mereka minta kapal baru, mereka bilang kapal itu banyak risikonya, sebenarnya kapalnya sudah bagus dan sudah kita perbaiki. Saya kira mereka sudah bisa jalan, mungkin itu hanya alasan mereka saja,” sebut Zaini.

Menurut Zaini, Pemerintah Aceh saat ini telah melakukan yang terbaik untuk migran Sri Lanka dengan memberi bantuan, sebagaimana diinstruksikan oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla melalui memo beberapa waktu lalu. Pemerintah Aceh bekerja sama dengan Kodam IM, Angkatan Laut, Polda Aceh, dan semua unsur terlibat telah membantu para migran asal Sri Lanka itu. “Kapal mereka kita perbaiki, makanan (logistik) kita penuhi, BBM yang mereka hajati (minta) sudah kita berikan, termasuk cek kesehatan sudah kita lakukan. Ini sesuai dengan instruksi Pak Wapres, yang paling penting adalah soal kemanusiaan,” lanjut Gubernur Zaini.

Zaini memastikan kapal yang mengangkut 44 migran Sri Lanka itu akan segera ditarik ke laut lepas, ke luar dari perairan Indonesia dan membantu mereka untuk kembali melanjutkan perjalanan ke Pulau Christmas, Australia.

Zaini menegaskan, kapal tersebut akan dikawal hingga ke luar dari perairan Indonesia. “Sekarang kita tunggu perbaikan mesin dan tunggu airnya pasang baru ditarik. Nanti akan kita kawal, kita tidak mengusir mereka dan kita sudah penuhi semua permintaan, ini semata karena kemanusiaan,” kata Gubernur Aceh yang akrab disapa Abu Doto tersebut.

Zaini juga menginstruksikan, ke depan penjagaan keamanan di perbatasan harus terus diperketat oleh pihak berwenang. Selama ini Aceh kerap jadi tempat berlabuhnya kapal-kapal migran dari negara lain, termasuk pengungsi Rohingya. “Mungkin karena kita dekat dengan mereka dan bisa jadi karena mereka tahu kita pernah menerima pengungsi Rohingya sebelumnya. Kalau mereka ini (migran Sri Lanka) lain, motifnya mungkin ekonomi, bukan seperti Rohingya yang diusir dari negara mereka. Tapi apapun itu, kita tetap membantu demi kemanusiaan,” pungkas Zaini Abdullah.

Gubernur Aceh, Zaini Abdullah mengunjungi migran etnis Tamil asal Sri Lanka yang masih berlabuh di Pantai Lhoknga, Aceh Besar, Jumat (17/6) siang. Gubernur didampingi Kapolda Aceh, Irjen Pol Husein Hamidi dalam rangka menyerahkan bantuan logistik dan melihat langsung kondisi para migran yang sudah hampir sepekan terdampar di Aceh.

Amatan Serambi, Gubernur bersama Kapolda Aceh menyerahkan bantuan bahan makanan dan bahan bakar yang diterima secara simbolis oleh dua migran yang diizinkan turun. Di lokasi kapal migran itu, juga telah dibuka satu dapur umum oleh Dinas Sosial Aceh.(dan)

Drama Petualangan
Migran Sri Lanka

* Sabtu, 11 Juni 2016, kapal berbendera India nomor lambung TN-1-FV-00455-09 yang membawa 44 migran asal Sri Lanka terdampar di Laut Lhoknga, Aceh Besar.
* Kapal dilaporkan sedang dalam pelayaran dari India menuju Pulau Christmas, Australia namun mengalami kerusakan mesin yang terhubung dengan sistem navigasi sehingga kehilangan arah.
* Berdasarkan data pihak Imigrasi, kapal itu ditumpangi 44 orang, yaitu 20 perempuan dewasa, 15 laki-laki dewasa, dan 9 anak-anak.
* Minggu, 12 Juni 2016, kapten kapal beserta penumpangnya menolak meninggalkan perairan Lhoknga, meski mesin kapal yang sebelumnya dilaporkan rusak telah diperbaiki. Pemerintah Aceh juga sudah memenuhi permintaan tambahan bahan bakar minyak (BBM), makanan serta minuman.
* Senin, 13 Juni 2016, tim Komisi I DPRA meminta agar para migran itu dibawa ke daratan sembari menunggu perbaikan mesin kapal.
* Selasa, 13 Juni 2016, kapal migran mulai merapat ke bibir pantai Lhoknga. Diduga kapal yang sudah tiga hari berada di laut Lhoknga terseret ke bibir pantai, karena tali jangkarnya putus. Namun tak ada satupun migran yang turun dari kapal.
* Tim kesehatan dari Karantina Kesehatan Pelabuhan bersama tim Basarnas, Kapolres Aceh Besar, Dandim 0101/BS naik ke atas kapal untuk melakukan pengecekan kesehatan. Secara umum kondisi kesehatan para migran sehat, tapi kebanyakan sudah lemas, sehingga diberikan vitamin dan obat-obatan.  
* Rabu, 14 Juni 2016, Wakil Gubernur Aceh, Muzakir Manaf mendatangi lokasi terdamparnya kapal migran Sri Lanka di Pantai Lhoknga. Wagub menelepon langsung Kapolda Aceh, Irjen Pol Husein Hamidi meminta izin membawa para migran itu ke lokasi penampungan di Blang Adoe, Aceh Utara.
* Pada hari yang sama, Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla memerintahkan Gubernur Aceh, dr Zaini Abdullah memberi izin naik ke darat kepada 44 pengungsi asal Sri Lanka yang sudah lima hari terombang-ambing di dalam kapal.
* Kamis, 15 Juni 2016, tujuh wanita migran Sri Lanka nekad melompat dari kapal dengan maksud mencapai darat. Sebelumnya mereka melancarkan protes di atas kapal karena lambannya evakuasi. Namun, setiba di darat, para wanita ini dihadang petugas keamanan dibantu masyarakat. Setelah bernegosiasi, mereka kemudian dinaikkan kembali ke kapal.
* Beredar juga informasi, sekitar pukul 18.10 WIB ada dua bus yang dipesan telah berada di depan pos TNI AL Lhoknga yang diduga dipersiapkan untuk mengangkut migran ke tempat penampungan. Tapi, para migran tetap tidak diizinkan turun dari kapal sehingga kedua bus meninggalkan lokasi tanpa membawa penumpang.
* Jumat, 17 Juni 2016, Gubernur Zaini Abdullah dan Kapolda Irjen Pol Husein Hamidi berkunjung ke lokasi dan berdialog dengan perwakilan migran yang diizinkan turun sementara dari kapal. Dalam dialog dengan Gubernur, perwakilan migran mengutarakan kekhawatiran terhadap kondisi kapal yang mereka tumpangi, sehingga meminta agar kapal mereka diganti dengan yang lebih baik.
* Kapolda Aceh menegaskan, kapal tersebut tetap akan ditarik ke perairan luar wilayah kedaulatan Indonesia saat pasang naik. Hingga Jumat (17/6) malam kapal migran Sri Lanka tersebut masih berlabuh di tepian Laut Lhoknga.(*) (uri/strid/lleonora/AE)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id