Jaksa Tahan Dasni Yuzar | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Jaksa Tahan Dasni Yuzar

Foto Jaksa Tahan Dasni Yuzar

BANDA ACEH – Pendiri Yayasan Cakradonya (Cakdon) Lhokseumawe, Dasni Yuzar SH, ditahan tim Kejari Lhokseumawe di LP Kelas II Lhokseumawe, Selasa (14/6) sore. Penahanan itu setelah turun putusan Mahkamah Agung (MA) terkait kasus dugaan korupsi dana hibah Pemerintah Aceh untuk Yayasan Cakdon Lhokseumawe tahun 2010 dengan kerugian Rp 1 miliar.

“Iya benar, sekitar pukul 4 sore tadi (kemarin -red), Dasni dijemput di rumahnya di Beurawe, Banda Aceh. Waktu penangkapan kita datang baik-baik untuk melaksanakan putusan Mahmakah Agung yang menghukumnya,” kata Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) dan Hubungan Masyarakat (Humas) Kejati Aceh, Amir Hamzah SH kepada Serambi, Selasa (14/6) malam, melalui telepon.

Amir Hamzah menjelaskan, mantan sekdako Lhokseumawe itu dijemput tim Pidsus Kejari Lhokseumawe bersama tim intel Kejati Aceh di kediamannya di Desa Beurawe, Banda Aceh. Pihaknya melakukan penangkapan setelah menerima salinan putusan MA pada Senin, 13 Juni 2016. Dalam salinan itu, Dasni dihukum lima tahun penjara.

Pada saat proses penangkapan, tambahnya, Dasni sedang berada di rumahnya bersama istri dan anaknya. Tidak ada perlawanan pada saat penjemputan, Dasni bersikap kooperatif. “Setelah ditangkap, Dasni dibawa sebentar ke Kejati untuk pengurusan administrasi dan kemudian dibawa ke Lhokseumawe,” ujarnya.

Penjemputan itu dipimpin oleh Kejari Lhokseumawe, Mukhlis SH. Mukhlis yang dikonfirmasi Serambi tadi malam mengatakan, Dasni tiba di Lhokseumawe sekira pukul 22.00 WIB. Setelah itu, Dasni diantar langsung oleh tim Pidsus Kejari Lhokseumawe ke “hotel prodeo” atau LP Kelas II Lhokseumawe.

Saat divonis bersalah oleh MA, Dasni Yuzar sedang menjabat Sekdako Lhokseumawe. Ia kemudian cuti dari jabatan tersebut, kemudian mengajukan surat pengunduran diri kepada Wali Kota Lhokseumawe, Suadi Yahya. Pengunduran dirinya diterima.

Terkait status dua terpidana lainnya yang terlibat dalam kasus korupsi itu, Reza Maulana dan Amir Nizam, menurut Amir Hamzah, hingga saat ini belum bisa ditahan. Keduanya merupakan direktur dan sekretaris yayasan sekaligus anak dan adik Dasni Yuzar. Kasus tersebut sempat membuat heboh karena terdakwanya masih satu keluarga.

“Mengenai anak dan adik Dasni belum bisa dieksekusi, karena kita belum terima salinan putusannya,” kata Kasi Pidum dan Humas Kejati Aceh ini. Sebelumnya, MA menghukum Reza Maulana dan Amir Nizam masing-masing empat tahun. Khusus Reza Maulana, majelis hakim mewajibkan membayar uang pengganti (UP) Rp 1 miliar subsidair dua tahun penjara.

Hukuman bersalah terhadap Dasni Yuzar Cs awalnya ditayangkan di situs resmi MA http://kepaniteraan.mahkamahagung.go.id, dengan nomor register 2481K/PID.SUS/2015. Pengabulan kasasi itu diputuskan 2 Mei 2015 oleh Ketua Majelis Hakim Agung Syarifuddin dengan anggota Abdul Latif dan Syamsul Rakan Chaniago serta panitera pengganti Santhos Wahjoe Prijambodo.

Putusan ini berbeda jauh dengan putusan majelis hakim Pengadilan Tipikor Banda Aceh yang membebaskan para terdakwa dari jeratan hukum. Padahal, JPU telah menuntut Dasni Yuzar lima tahun penjara, sedangkan Reza dan Amir masing-masing 4,5 tahun penjara. Ketiganya dinyatakan terbukti melanggar Pasal 2 Undang-Undang Tindak Pidana Korupsi. (mas) (uri/evo/stuti/RA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id