Kesempatan Terakhir Ibra | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Kesempatan Terakhir Ibra

Foto Kesempatan Terakhir Ibra

REPUTASI penyerang asal Swedia, Zlatan Ibrahimovic di pentas liga Eropa tak perlu diragukan lagi. Bukan hanya pengalaman petualangannya di sejumlah klub elite Benua Biru yang patut dipuji, akan tetapi skill individu dan naluri pembunuh di pertahanan lawan cukup membuat lawan tandingnya ketar-ketir.

Ibra–begitu dia biasa disapa–adalah sosok panglima yang pernah mengomandoi tim besar. Ia terlibat dalam kancah perang di lapangan hijau di empat negara berbeda di Eropa. Dia sudah merasakan bagaimana nikmatnya mengangkat trofi bersama klub elite. Mulai dari Ajax Amsterdam (2001-2004), Inter Milan (2006-2009), Barcelona (2009-2010), AC Milan (2010-2011), dan Paris Saint Germain (2012-2016).

Hanya saja, pemain yang pernah membela Juventus era 2004-2006 ini seperti menjalani sebuah kutukan, karena figur header mamatikan itu tak pernah mengangkat trofi Liga Champions.

Bagaimanapun, kehadiran Ibra di Prancis nanti menambah kepercayaan armada timnas Swedia. Bagi pelatih lawan, jika nama Ibra masuk starting eleven, sudah menjadi beban yang harus diatasi. Siapa pun pelatih lawan dipastikan tak akan mengesampingkan Ibra. Ia sebagai pemain yang harus diperlakukan khusus demi sebuah strategi mencapai hasil manis.

Mengesampingkan Ibra, sama saja memasukkan tim ke lubang maut dan tentu akan berakhir dengan penyesalan. Ia memiliki kesempurnaan sebagai seorang pemain sepakbola di era modern. Secara fisik, Ibra sudah cukup membuat lawan harus ekstraketat menjaganya, terutama bola-bola atas. Bahkan secara skill individu sudah tak bisa diragukan lagi. Dia bisa menjadi momok atau monster yang membuat para kiper harus waspada tingkat tinggi.

Membiarkan Ibra berlalu lalang tanpa perhatian khusus di areal pertahanan, bisa menjadi lumbung gol. Bukan hanya pergerakan individu yang membahayakan. Kehadirannya juga bisa membuka peluang bagi rekannya untuk senantiasa meneror gawang lawan. Ibra cukup bertenaga untuk beraksi sendirian, apalagi didukung oleh pergerakan rekannya.

Ibra bagi skuad Swedia nyaris sama dengan Maradona bagi Argentina di era 80-an. Karena itu pula para pengamat dan pemilik pasar taruhan, tak segan menempatkan Swedia sebagai kandidat nominator untuk lolos dari fase grup.

Memang, laju Swedia bakal tak mudah mengingat Italia dan Belgia merupakan lawan berat di Grup E. Italia sudah tak perlu dibahas lagi panjang lebar. Pasukan Antonio Conte ini punya pengalaman sebagai tim juara di Eropa maupun Dunia. Begitu juga Belgia yang diisi amunisi yang sudah terasah di berbagai klub elite Eropa. Romelu Lukaku dkk merupakan generasi emas Belgia yang bakal menyulitkan Italia dan Swedia. Namun, Irlandia juga tak boleh dikesampingkan di Grup E meski minim pemain bintang.

Semangat punggawa Swedia dipastikan berbeda meski bermodalkan tiket play-off menuju Prancis. Kepastian mereka lolos setelah meraih kemenangan atas Denmark dengan agregat 4-3. Lagi-lagi Ibra tercatat sebagai pahlawan lewat tiga golnya di babak play-off. Peran Ibra juga begitu besar yang menyumbang delapan dari 15 gol Swedia selama fase Grup G Kualifikasi Euro 2016. Kini tim besutan Erik Hamren pun berharap tuah Ibra untuk lolos dari kepungan Italia, Belgia, dan Irlandia.

Kemenangan di laga uji coba internasional terakhir melawan Wales cukup menambah kepercayaan diri Ibra dkk. Pasukan Erik Hamren secara perkasa menghantam Wales 3-0. Gareth Bale dkk tak berkutik hingga laga berakhir. Meski Ibra tak mencetak gol, ia menyumbang satu assit pada gol pertama, sekaligus peran besarnya bagi tim. Kemenangan ini menambah rasa ‘pede’ tim berjuluk The Blue-Yellow. Memang, sejarah tak berpihak kepada Swedia selama pertunjukan turnamen bergensi itu. Swedia yang bertindak sebagai tuan rumah pada 1992 pernah dipermalukan Jerman di semifinal hingga gagal menyentuh final. Nasib sial juga terjadi tahun 1996 di Inggris, mereka tak lolos. Bahkan Swedia kandas di fase grup empat tahun kemudian tatkala Belanda-Belgia menjadi tuan rumah. Mereka meraih hasil positif sampai perempatfinal tahun 2014 hingga dihentikan Belanda lewat adu penalti. Prestasi Swedia kembali melorot setelah kandas di fase grup pada tahun 2008 dan 2012.

Di usianya yang menginjak 34 tahun, ini kesempatan terakhir bagi Ibra untuk berjuang sekuat tenaga bagi negaranya. Walaupun menjadi juara cukup berat, mengembalikan posisi Swedia hingga menyentuh perempatfinal dan semifinal bakal membanggakan warga negaranya, mengingat lakon Ibra di panggung sepakbola profesional tak lama lagi. Faktor usia membuat Ibra mulai merencanakan momen pas untuk gantung sepatu. Mungkin paling lama dalam satu atau dua musim ke depan. Pantas saja Swedia sangat berharap pada Ibra di akhir kariernya. (muhammad hadi) (uri/nton/ariana/AM)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id