Marhaban ya Ramadhan | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Marhaban ya Ramadhan

Foto Marhaban ya Ramadhan

Oleh Prof. Dr. Syahrizal Abbas, MA, Kepala Dinas Syariat Islam Aceh

Selamat datang Ramadhan, kami menunggu dan rindu dengan mu…karena engkau membawa rahmah, maghfirah dan ‘itqun minan-nar bagi kaum muslimin…

ALHAMDULILLAH… Kita patut bersyukur kepada Allah Swt, yang kembali mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan 1437 H, bulan yang paling ditunggu oleh setiap kaum muslimin. Kesyukuran kita semakin bermakna, mengingat, boleh jadi saudara, sahabat dan tetangga kita yang pada Ramadhan tahun lalu, bersama kita mengisi dan menghidupkan malam-malam Ramadhan, namun tahun ini mereka tidak mendapatkan kesempatan lagi, karena telah dipanggil oleh Allah Swt. Sekali lagi kita patut bersyukur atas karunia ini.

Marhaban ya Ramadhan. Dalam catatan sejarah dan periwayatan sahabat, ditemukan beberapa kebiasaan penting Rasulullah saw menghadapi kedatangan tamu agung yaitu bulan suci Ramadhan: Pertama, Rasulullah saw memberitahukan dan mengingatkan anak dan isterinya, akan kedatangan Ramadhan yaitu bulan yang membawa keampunan, kemuliaan, barakah, penuh fadhilah dan bulan yang dapat mengangkat derajat seorang hamba menjadi muttaqin. Rasulullah saw juga mengajak keluarganya mempersiapkan diri secara fisik dan mental, untuk menjalankan ibadah secara maksimal di bulan Ramadhan, baik ibadah mahdhah maupun ibadah ghairu mahdhah (ibadah sosial). Rasulullah saw dan keluarganya tidak mempersiapkan pakaian dan makanan berlebihan dalam menyongsong Ramadhan.

Kedua, Rasulullah saw memiliki tradisi di akhir bulan Sya’ban yaitu memperkenalkan Ramadhan dan mengajarkan hikmahnya kepada sahabat. Ramadhan adalah salah satu bulan dari kalender Islam, yang memiliki keutamaan (fadhilah) lebih, bila dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain. Rasulullah saw menginformasikan filosofi, hikmah dan fadhilah Ramadhan kepada sahabat, agar termotivasi dan bersungguh-sungguh mengisi dan memanfaatkan saidus-syuhur sebagai bulan umatKu, kata Rasulullah saw.

Ketiga, Rasulullah saw mengencangkan ikat pinggangnya pada hari-hari terakhir bulan Ramadhan. Makna kencangkan ikat pinggang dipahami para ulama dalam arti kiasan (majaz), dan bukan dalam makna tersurat berupa sabuk atau ikat pinggang harus ketat melekat pada pinggang. Makna yang sebenarnya adalah pada hari-hari terakhir bulan Ramadhan, Rasulullah saw menunjukan sikap mulia kepada kita betapa sungguh beliau memanfaatkan hari-hari terakhir Ramadhan penuh dengan qiyamul lail; tarawih, membaca Alquran, i’tikaf, zikir, berdoa, shalat jamaah, majelis ilmu, infaq, sadaqah dan berbagai macam ibadah lainnya. Hampir dapat dipastikan bahwa Rasulullah saw tidak pernah melewatkan sedikit pun waktu berlalu secara sia-sia.

Senang dan gembira
Marhaban ya Ramadhan. Kehadiran bulan Ramadhan di tengah kaum muslimin, memiliki kebanggaan dan makna tersendiri. Rasulullah saw menginformasikan kepada kita bahwa orang yang senang dan gembira dengan kedatangan Ramadhan, maka Allah Swt akan melindungi jasadnya dari jilatan api neraka. Kegembiraan yang muncul dari kalangan kaum muslimin, dikarenakan bulan yang ditunggu-tunggu telah tiba. Bulan Ramadhan membawa rahmat, maghfirah dan melepaskan kita dari kungkungan api neraka.

Ramadhan adalah bulan agung, dan bulan penyucian jiwa umat Islam. Nilai kemuliaan dan keutamaan Ramadhan cukup besar, sehingga Rasulullah saw mendeskripsikan dalam satu sabdanya: “Jika umatku mengetahui keutamaan Ramadhan, maka mereka akan meminta agar Allah menjadikan Ramadhan sepanjang tahun.” Sabda ini menggambarkan Ramadhan memiliki “keajaiban” luar biasa bila dibandingkan dengan bulan-bulan lain. Orang yang melaksanakan ibadah shalat sunat di bulan Ramadhan, sama dengan nilai ibadah shalat wajib pada bulan-bulan lainnya. Ramadhan memiliki satu malam istimewa yang dikenal dengan Lailatul Qadar. Malam ini memiliki nilai lebih baik dari seribu bulan. Ramadhan datang membawa pintu rahmat, ampunan dan membebaskan orang beriman dari jilatan api neraka. Ramadhan memberikan peluang dan kesempatan bagi umat Islam untuk memperbaiki diri, meningkatkan keimanan, memperbanyak ibadah, dan memberikan kesempatan untuk menaikan tingkat (grade) kemanusiaan menjadi derajat muttaqin. Oleh karenanya, sangat beruntung orang yang memanfaatkan Ramadhan dengan ibadah maksimal, baik ibadah ritual maupun ibadah sosial.

Marhaban ya Ramadhan. Kewajiban berpuasa di bulan Ramadhan ditegaskan oleh Allah Swt dalam Alquran: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepadamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan kepada orang sebelummu, mudah-mudahan kamu menjadi orang yang bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 183). Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa Ramadhan merupakan sarana untuk mencapai derajat muttaqin. Murttaqin adalah orang yang bertakwa kepada Allah, menjalankan seluruh ajarannya dan meninggalkan seluruh larangannnya, sehingga ia benar-benar diampuni dosanya oleh Allah Swt. Muttaqin hanya dapat digapai melalui puasa Ramadhan yang dilakukan seseorang dengan penuh keimanan dan kesadaran kepada Allah Swt. Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa karena penuh keimanan dan kesadaran, maka Allah akan mengampuni dosanya yang telah lalu.”

Marhaban ya Ramadhan. Manusia merasakan dirinya sebagai makhluk yang lemah dan tidak terbebas dari noda dan dosa. Menghapuskan dosa bukanlah persoalan mudah, tetapi haruslah melalui tahapan panjang berupa tobat, yang dimulai dengan kesadaran dan berkomitmen untuk tidak mengulangi perbuatan dosa. Kehadiran Ramadhan membuka lebar pintu tobat dan ampunan Allah Swt kepada setiap kaum muslimin. Bersih dari dosa dan terbebas dari api neraka, merupakan cita-cita kaum muslimin. Pembersihan dosa dan peningkatan nilai ibadah melalui Ramadhan akan mengantarkan induvidu menjadi insan-insan muttaqin.

Dalam bulan Ramadhan, Allah Swt berjanji membuka pintu sorga dan mengunci pintu neraka serta merantai syaitan-syaitan. Makna kiasan ini semestinya dipahami kaum muslimin sebagai paradigma Ramadhan, bahwa berlomba-lombalah dalam kebajikan dan bersungguh-sungguhlah dalam mengisi hari dan malam-malam Ramadhan dengan puasa, qiyamul-lail, membaca Alquran, i’tikaf, membantu fakir miskin, anak yatim, orang lemah, dan berbagai ibadah lainnya.

Membangun karakter
Marhaban ya Ramadhan. Intensitas ibadah kaum muslimin di bulan Ramadhan merupakan upaya membangun dan memperkokoh karakter, melatih jiwa, dan menghindari kecenderung manusia berpikir kotor dan anarkhis, bersikap dan bertindak amarah. Ibadah pada bulan Ramadhan mendorong kaum muslimin untuk melahirkan jiwa bersih, jiwa tenang (muthma’innah), dan jiwa empati, yang pada akhirnya manusia terhindar dari kecenderungan dari sikap angkuh, sombong, takabbur, keji, hasad, dengki dan sikap menganiaya orang lain.

Pribadi yang lahir dari proses Ramadhan sebagai insan muttaqin, menjadi faktor determinan pelaksanaan syariat Islam di Aceh. Kerangka pelaksanaan syariat Islam di Aceh dimulai dengan pembenahan ideologi (akidah), penataan kepribadian dan karakter, penumbuhan kesadaran berilmu dan beramal, serta penumbuhan kehendak secara serius dan sungguh-sungguh bahwa melaksanakan syariat Islam secara komprehensif (kaffah) di bumi Aceh menjadi tanggung jawab setiap pribadi muslim. Ramadhan adalah sarana tepat membangun dan menata kembali kesadaran ini di tengah-tengah kehidupan masyarakat Aceh.

Pribadi muttaqin akan menjadi ujung tombak pelaksanaan syariat Islam di Aceh. Insan muttaqin akan berupaya mengajak masyarakat untuk berbuat baik dan berusaha mencegah masyarakat berbuat munkar (ya’muruna bilma’ruf wa yanhawna ‘anil munkar). Pribadi muttaqin akan senantiasa menyebarkan kebaikan dan kemaslahatan di tengah-tengah masyarakat. Bila kebajikan dan kemaslahatan terwujud dan kemunkaran berkurang, maka akan berdampak pada menurunnya pelanggaran terhadap syariah. Hal ini menandakan syariat Islam sudah berjalan dengan baik di Aceh.

Kita berharap dengan kehadiran Ramadhan tahun ini, akan menjadi momentum bagi kita dalam memastikan tegaknya syariat Islam di Aceh, melalui perbaikan diri setiap pribadi muslim. Pertobatan, peningkatan intensitas ibadah, dan upaya membangun jiwa yang bersih dan tenang (nafs al-muthma’innah) dalam bulan Ramadhan dan akan terus berlanjut di bulan-bulan berikutnya. Mudah-mudahan Allah Swt memberikan kekuatan dan kemudahan bagi kita dalam mengemban amanah mulia membumikan syariat Islam di tanah Serambi Mekkah ini. Wallahu a’lam.
(email: [email protected]) (uri/inaldy/eryance/RG)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id