Bintang David di Pagar Istana WN Sudah Dicopot | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Bintang David di Pagar Istana WN Sudah Dicopot

Foto Bintang David di Pagar Istana WN Sudah Dicopot

* Ganti dengan Lambang yang Islami

BANDA ACEH – Lambang bintang bersudut enam yang mirip Bintang David (simbol kaum Yahudi) yang dipasang kontraktor pemasang pagar besi di pintu depan Istana (Meuligoe) Wali Nanggroe (WN), di Jalan Soekarno-Hatta, Lampeuneurut, Aceh Besar, akhirnya dicopot oleh kontraktornya, Sabtu (26/2) siang. Pencopotan itu justru setelah perihal bintang David di pintu pagar Meuligoe WN itu ramai dibicarakan netizen di media sosial, kalangan masyarakat, termasuk anggota DPRA.

Untuk membuktikan lambang Yahudi, Israel, tersebut masih ada atau tidak di pintu masuk Istana Wali Nanggroe, Ketua Komisi I DPRA, Abdullah Saleh SH, bersama dua anggotanya, Djasmi Hass dari Partai Demokrat dan Buhari Selian dari Partai Amanat Nasional (PAN), Senin (29/2) sore meninjau langsung Istana Wali Nanggroe Aceh.

Seusai meninjau, Abdullah Saleh kepada wartawan mengatakan, dari hasil penjelasan Satpam Istana Wali Nanggroe, bernama Hamdani, kepadanya, lambang David atau bintang segi enam yang sebelumnya terpasang di pagar besi pintu masuk Istana WN itu pada Sabtu siang sudah dicopot oleh kontraktor yang memasangnya.

Bintang bersegi enam itu, menurut Hamdani kepada Abdullah Saleh, tadinya dipasang di tengah-tengah empat pintu masuk berukuran kecil ke Istana WN. Sedangkan pada pintu masuk berukuran besar yang juga terbuat dari besi, dipasang lambang pinto (pintu) Aceh.

Hamdani mengatakan, ia juga heran dan tak tahu alasannya mengapa tiba-tiba lambang bintang bersegi enam itu dicopot oleh kontraktor yang memasangnya dari pagar besi Istana WN. Padahal bintang itu dipasang rapi, kokoh, dan sudah dicat.

Informasi bahwa bintang bersegi enam itu ternyata mirip bintang David, simbol kaum Yahudi, justru baru didengar Hamdani saat diberi tahu Abdullah Saleh ketika Komisi I DPRA berkunjung ke Istana WN kemarin.

“Saya baru tahu alasan lambang bintang di pagar itu dicopot sang kontraktor setelah Ketua Komisi I DPRA, Abdullah Saleh menjelaskan kepada saya bahwa bintang bersegi enam itu ternyata mirip dengan lambang David, simbol masyarakat Yahudi,” kata Hamdani.

Ketua DPRA, Abdullah Saleh, dan anggotanya Djasmi Hass dan Buhari Selian mengatakan, pihak kontraktor pembangunan gedung maupun pagar Istana WN tersebut, dalam membuat motif bangunan dan pagar yang tujuannya untuk memperindah Istana WN, hendaknya lebih hati-hati. “Jangan gunakan motif yang mirip dengan lambang-lambang nonmuslim, seperti lambang bintang David yang justru merupakan simbol komunitas Yahudi,” kata Abdullah Saleh.

Wikipedia menukilkan, bintang David yang disebut juga bintang Daud kuno telah ditemukan di Israel, tapi semua itu berasal dari masa sebelum agama Yahudi benar-benar mengadopsi simbol ini untuk mewakili keyakinan mereka.

Abdullah Saleh bersaran, kalau mau menggunakan motif yang tujuannya untuk mempercantik penampilan meuligoe tersebut, maka gunakanlah motif-motif yang berdimensi Islam dan keacehan. Misalnya, motif bulan sabit, pinto Aceh, bunga melur, dan lainnya yang indah dan cantik, tapi tidak mencerminkan simbol yang sifatnya nonislami.

Ia ingatkan bahwa masyarakat Aceh yang telah komit menjalankan syariat Islam dalam segala hal, sangat sensitif dengan lambang-lambang atau motif dari khazanah nonmuslim jika diadopsi untuk memperindah gedung atau bangunan yang akan ditempati Wali Nanggroe sebagai simbol pemersatu adat dan budaya Aceh.

“Kalau mau menggunakan, ya gunakan saja motif lokal khas Aceh. Ini lebih baik untuk memperkaya budaya Aceh dan sekaligus melestarikannya. Dampak sosial budayanya menjadi lebih baik. Budaya dan motif Aceh jadi terhormat dan tersangjung di mata dunia,” ujar Abdullah Saleh.

Ketua Komisi I DPRA itu juga menyarankan agar Istana WN yang pembangunannya telah menghabiskan anggaran puluhan miliar rupiah itu, meski belum digunakan sebagai Pendapa WN, lebih baik digunakan dulu untuk Kantor Sekretariat Katibul Wali, sambil menunggu selesainya pembangunan Kantor Sekretariat Katibul Wali di sebelahnya yang saat ini sedang tahap penyelesaian akhir.

Abdullah Saleh berpendapat, jika terus dibiarkan begitu, maka kerusakan Istana WN bakal terus bertambah. “Komisi I DPRA sangat memahami kenapa Wali Nanggroe Malik Mahmud Al-Haythar belum mau masuk ke istananya, karena ia ingin selesai seluruhnya, baru diresmikan pemakaian gedungnya. Setelah itu, barulah Wali Nanggroe mau masuk,” kata Abdullah Saleh.

Menurut Abdullah Saleh, plafon teras depan Istana WN itu sekarang sudah mulai rusak, akibat seng teras depannya bocor. “Kalau sudah begini, berapa dana lagi yang harus kita kucurkan untuk memperbaiki bagian gedung Istana Wali yang rusak setiap tahunnya?” tanya politikus Partai Aceh itu. (her) (uri/leny/andraini/GC)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id