Estetika Tarian Kematian | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Estetika Tarian Kematian

Foto Estetika Tarian Kematian

KEMATIAN merupakan akhir dari sebuah kehidupan dunia dan pintu gerbang menuju akhirat.

Rasulullah dalam banyak hadist menganjurkan kepada kita untuk merenungkan kepada maut (kematian), diantaranya, beliau bersabda:

“Perbanyaklah mengingat-ingat sesuatu yang melenyapkan segala macam kelezatan(kematian).” (HR. At-Tirmidzi). Dalam hadist yang beliau juga bersabda: “Orang yang paling banyak mengingat mati dan paling baik persiapannya untuk kehidupan setelah mati. Mereka itulah orang-orang yang cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259).

Islam sebagai agama yanga bersifat universal, disamping dalam ajarannya diajarkan etika, Islam juga mengajarkan estetika dalam aplikasi kehidupan sehari-hari.

Salah satu estetika dalam menerjemahkan kematian sebagai mana yang diajarkan oleh Syekh Jalaluddin Ar-Rumi lewat tarekat Maulawiyah yang dikenal dengan nama Tarian Sufi. Di antara nilai yang ditonjolkan dalam gerakan tarian ini untuk mengingatkan kita kepada kematian.

Syekh Jalaluddin Ar-Rumi merupakan sosok ulama pencetus lahirnya tarekat Maulawiyah dalam implementasinya tarekat ini dengan gerak-gerik yang berputar disertai dengan zikir dan alunan musik.

Tarian ini dikenal dibelahan dunia barat dikenal dengan nama “The Whirling Darvishes”, sedangkan didunia timur disebut dengan Sama’ / Sema (mendengar). Syekh Ar- Rumi lahir di Balkh (Afganistan) pada tanggal 6 Rabiul Awwal tahun 604 Hijriah, atau tanggal 30 September 1207 Masehi.

Ayahnya masih keturunan Abu Bakar, bernama Bahauddin Walad. Sedang ibunya berasal dari keluarga kerajaan Khwarazm, keturunan Ali bin Abi Thalib.

Sebelum terjun kedunia sufistik, Syekh ar-Rumi terkenal seorang teolog yang handal pada masanya, namun ketika bertemu dengan Syams al-Din Tabrizi pada tahun 1244 M.

Akhirnya perjumpaan ini ternyata telah mengubah hidup Syekh Rumi menjadi seorang penyair sufi yang sangat terkemuka. Hal ini dilukiskan dalam bait syairnya:

“Hasratku pada Sang Kekasih telah membawaku terbang melintasi samudera ilmu dan keluasan al-Qur’an. Aku menjadi gila. Kutelusuri bentangan sajadah dan masjid dengan segenap hasrat dan kekhusyukan. Kukenakan pakaian pertapa untuk memperkaya kebajikan. Cinta menghampiriku, dan berkata ”Wahai sang Guru, lepaskan dirimu! Mengapa kau terp[aut pada sajadah? Tidakkah kau ingin hatimmu bergetar di hadapan-Ku! Tidakkah kau ingin melampaui pengetahuan dengan penglihatan? Maka tundukan kepalamu..”. (Aflaki, Menaqib Al-Arfian, h. 20.)

Syekh Ar-Rumi meninggalkan warisan pemikiran spiritual yang banyak menginspirasi umat Islam. The Whirling Darvishes salah satu inspirasi yang ditinggalkan Rumi yang merupakan paduan warna dari tradisi, sejarah, religi, dan budaya Turki.

Dalam persepsi ar-Rumi kondisi dasar semua yang ada di dunia ini adalah berputar. Tidak ada satu benda dan makhluk yang tidak berputar. Keadaan ini diakibatkan oleh perputaran elektron, proton, dan neutron dalam atom merupakan partikel terkecil penyusun semua benda.

Ar-rumi mengibaratkan perputaran partikel tersebut sama halnya dengan perputaran jalan hidup manusia dan perputaran bumi.

Prosesi kehidupan manusia mengalami perputaran, dari ‘adam (tidak ada), menjadi wujud (ada), kemudian kembali menjadi ‘adam.

Manusia merupakan makhluk ahsanu at-taqwim (sebaik-baik bentuk) yang dibekali akal dan kecerdasan membuatnya berbeda dan lebih utama dari makhluk ciptaan Allah yang lainnya.

Tarian Sema yang didominasi gerakan berputar-putar. Tarian ini meskipun telah banyak di mainkan oleh tarekat sufi tetapi telah menjadi ciri khas dasar bagi tarekat al-Maulawiyah. Tarian suci ini dimainkan oleh para Darwish dalam pertemuan-pertemuan atau majlis sebagai dukungan eksternal terhadap upacara-upacara (ritual mereka).

Implementasi dari tarekat ini menurut Mulyadi Kartanegara dalam bukunya “Tarekat Mawlawiyah Tarekat Kelahiran Turki,” dengan mengutip pendapat Talat Sait dan Metin And, Profesor terkemuka di Universitas Ankara, menyebutkan bahwa tarian ini di mulai dengan membungkukkan badan yang dimulai oleh para Darwisy kepada pemimpinnya untuk mendapat restu.

Pada mulanya tangan mereka bersilang dan ditempelkan ke dada dengan posisi tangan mengecengkram bahu, lalu tangan mereka mulai terangkat. Kaki-kaki mereka mulai merapat, pada tahap awal mereka bergerak sangat lambat, namun secara perlahan tangan mereka meninggalkan bahu dan berangsur-angsur tangan mereka merentang lurus dan membentuk posisi horizontal.

Tangan kanan mereka berlalu sambil menengadah dengan telapak tangan ke atas sedang tangan kiri diturun ke bawah. Posisi tersebut secara simbolik menggambarkan pengaruh dari langit yang diterima dengan telapak tangan terbuka dari atas, diteruskan ke bawah menuju dunia oleh tangan yang lain. Kadang kala satu tangan di buka dan tangan lain menekan ke dada.

Para Darwisy berputar-putar dengan bertumpu secara bergantian pada tumit, sedangkan kaki yang lain mengupayakan untuk berputar. Mata mereka tampak sayu atau tertutup dan kepala mereka sedikit condong pada salah satu pundak.

Semakin mereka mempercepat putaran, rok putih mereka seperti payung yang terbuka. Tariam ini dipimpin oleh Sama’ Zembasi (pemimpin tarian sufi), beliau yang memberikan aba-aba dan tidak mengikuti tarian, Nasr mengatakan bahwa tarian Mawlawi dimuali dengan nostalgia dengan Tuhan, lalu berkembang sedikit demi sedikit menjadi keterbukaan limpahan rahmat dari surga, dan akhirnya menghasilkan fana’ dan penyatuan kedalam diri Sang Kebenaran. (Mulyadhi Kartanegara, Tarekat Mawlawiyah Tarekat Kelahiran Turki, h. 330.)

Syekh Ar-rumi sebagai pencetus “The Whirling Darvishes” dalam setiap unsur dalam memainkan tarian tersebut mempunyai filosofi tersendiri, namun sebagaian orang terlupakan untuk mengambil ibrah (pelajaran).

Peci yang dipakai oleh penari berbentuk lonjong keatas, ini menyimbolkan batu nisan, sedangkan jubahnya ibarat peti jenazah, dan bajunya berwarna putih adalah laksana kain kafan, seluruh unsur tersebut mengajak kita untuk selalu mengingat kepada kematian (maut).

Instrument yang lain adalah seruling bukan saja merepresentasikan terompet mitologis untuk menghidupkan kembali orang mati pada hari kebangkitan, tapi juga menyimbolkan jiwa yang terpisah dari Tuhan, dan bertemu setelah dia dikosongkan dari diri dan diisi oleh jiwa Ilahi.

Dalam ilmu sastra, spesifiknya sebuah sastra sufistik baik syair maupun lainnya, harus dibedakan antara shurah (morfologi bahasa) dengan al-ma’ani (makna). Bahasa merupakan bentuk eksternal sedangkan al-ma’ni merupakan bentuk internal (substansi) dari suatu sastra atau puisi.

Sastra atau syair yang dapat mengekspresikan nilai spiritual apabila keluar dari seseorang yang batinnya sedang bergejolak karena kerinduan kepada Rabb (Allah SWT).

Hasil renungan kontemplatif memungkinkan adanya kristalisasi antara pengalaman batin dan pencarian spiritual sebagai manifestasi dari upayanya membangkitkan dzikir dan tafakur tentang Tuhan.

Ungkapan bahasa semacam ini akan dapat menentramkan batin seseorang dan merasa akan melahirkan nilai Rabithah (merasakan kehadiran Rabb dalam jiwanya) yang tinggi.

Menalaah sastra sufistik memberikan sebuah pesan moral kepada pembacanya untuk melakukan pendakian spiritual menuju man ‘arafa nafsah ‘arafa rabbah (Barang siapa mengenal dirinya, pasti akan mengenal tuhannya).

Dalam hal ini seorang sastrawan Melayu, Baharuddin Ahmad mengatakan bahwa kesusastraan Sufi adalah tipe yang memanjangkan hakekat kebenaran dan keindahan yang digambarkan secara rinci dalam pernyataan fenomena sifat, tabiat dan realitas alam rendah dan hubungannya dengan realitas Sejati. (Sastera Sufi, Ahmad Baharuddin, 1992).

Beranjak dari kupasan di atas, gerakan sufistik merupakan ekspresi keindahan (estetika) dan mahabbah (kecintaan) yang berkenaan dengan zikir dan pikir yakni mengingat dan memikirkan tentang khalqillah (ciptaan Allah SWT) menuju ke gerbang transdental paling akhir untuk berjumpa dengan sang Khalik dengan terlebih dulu harus melewati pintu kematian.

Setidaknya dengan banyak mengingat kematian akan membawa kita menuju dan meraih prediket sa’adah (kebahagian) yang hakiki kelak nantinya. Semoga ! [Helmi Abu Bakar el-langkawi Sekretaris LP3M IAI Al-Aziziyah Samalanga dan Staf Pengajar di Dayah Mudi Mesjid Raya Samalanga, Bireun, Aceh] (uri/nton/ariana/AM)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id