Syamsuddin Mahmud: Aceh jangan Lupakan Sejarah | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Syamsuddin Mahmud: Aceh jangan Lupakan Sejarah

Foto Syamsuddin Mahmud: Aceh jangan Lupakan Sejarah

JAKARTA – TokohAceh yang juga mantan Gubernur Aceh, Prof Syamsuddin Mahmud, mengingatkan masyarakat Aceh agar tidak melupakan sejarah.

“Bangsa yang melupakan sejarahnya akan lenyap dari muka bumi,” kata Prof Syamsuddin Mahmud saat berbicara dalam acara ‘Deklarasi Diaspora Aceh Serantau Bersama Tarmizi Karim’, di Hotel Amazing-Koetaradja, Jakarta, Jumat (27/6) malam.

Hadir dalam acara itu mantan Dirut Pertamina yang pernah menjabat Dubes RI di Amerika, AR Ramly, Ketua Taman Iskandar Muda DR. Surya Darma, Sofya Dawood dan sejumlah pemuka masyarakat Aceh lainnya.

Prof Syamsuddin Mahmud yang akrab disapa Pak Syam, mengatakan, orang Aceh mengalami perjalanan sejarah yang panjang, sejak masuknya Islam pada abad ke-7. Ia mengatakan, Aceh pernah menjadi satu dari lima kerajaan Islam besar di dunia, Maroko, Turki,  Agra India, Utara Iran, dan Aceh Darussalam.

Pak Syam mengatakan agar sejarah Aceh diajarkan pada generasi berikutnya.

Deklarasi Diaspora Aceh digagas para pemuda Aceh Jakarta dalam rangka mewujudkan cita-cita menciptakan Acehbyang lebih baik. Ketua Panitia, Deni Mahesa menjelaskan, mereka melihat sosok Tarmizi A Karim sebagai figur yang tepat mewujudkan mimpi-mimpi generasi muda Aceh.

Deklarasi Diaspora itu juga diwarnai dengan penandatanganan dukungan di atas selembar kain putih ukuran lima meter.

Mengiringi deklarasi tersebut, diselenggarakan diskusi  diaspora Aceh dengan nara sumber Soyan Dawood, mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka Wilayah Pasee, pengusaha M Asyik Ali, dan tokoh pengusaha kuliner Aceh, Ratna Dwikora. Para nara sumber memberikan pandangan mengenai sosok Tarmizi A Karim.

Problem kemiskinan
Sementara itu, Tarmizi A Karim menyampaikan, problematika utama di Aceh adalah masih tingginya angka kemiskinan. Apabila salah ditangani, angka kemiskinan bukannya semakin menurun, justru bisa  bertambah.

“Angka kemiskinan Aceh berada apada angka 18 persen. Diperlukan usaha keras untuk menekan angka kemiskinan,” kata Tarmizi.

Menurut dia, angka kemiskinan yang masih tinggi, merambat pada aspek kehidupan lainnya, pendidikan terganggu, lapangan kerja tersumbat, melonjaknya angka pengangguran dan lain-lain.

“Saya bertekad untuk mengatasi itu, dan harus dilakukan bersama-sama,” ujar Tarmizi. Ia juga menyebutkan bahwa tata kelola pemerintahan di Aceh juga belum berjalan baik.(fik) (uri/ngbert/atoel/EL)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id