Banjir Rob Rendam Permukiman Penduduk | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Banjir Rob Rendam Permukiman Penduduk

Foto Banjir Rob Rendam Permukiman Penduduk

* Di Singkil dan Lhokseumawe

SINGKIL – Di tengah cuaca buruk yang melanda sebagian Aceh dalam tiga hari terakhir, pasang purnama pun terjadi. Akibatnya, banjir air laut (rob) menggenangi sebagian daratan permukiman warga, seperti yang terjadi di Aceh Singkil dan Kota Lhokseumawe, Rabu (25/5).

Hampir seharian kemarin, sebagian permukiman warga Singkil Utara dan Kecamatan Singkil, Kabupaten Aceh Singkil, terendam banjir rob. Genangan akibat musim pasang laut itu bahkan sudah dirasakan sejak lima hari lalu, tapi kemarin genangannya terlihat lebih tinggi.

Sebelumnya, air laut naik dan bertahan di daratan paling lama tiga hari, itu pun hanya di pekarangan rumah. “Tapi hampir sepekan ini banjir rob sampai ke teras dan jalan raya,” kata Afdal, penduduk Gosong Telaga Barat, Kecamatan Singkil Utara, kemarin.

Pantauan Serambi, banjir rob di Singkil Utara merendam sebagian permukiman penduduk Gosong Telaga Barat serta Desa Ketapang Indah. Air laut bahkan masuk ke objek wisata pantai Cemara Indah.

Di Singkil, desa-desa yang terendam banjir rob meliputi Pulau Sarok, Kilangan, Ujung, dan sebagian Desa Pasar. “Banjir akibat pasang air laut sampai ke jalan raya Pulau Sarok,” kata Arif, warga Singkil.

Genangan air laut di Pulau Sarok masuk ke daratan lantaran pesisir pantai di sana sudah habis terkikis abrasi, sehingga rob langsung menghantam rumah warga.

Dari Kota Lhokseumawe dilaporkan, puluhan pondok rujak di pinggiran Pantai Ujong Blang, Kecamatan Banda Sakti, Rabu (25/5) terendam air asin karena rob yang dipicu pasang purnama.

Sejumlah ruas jalan di empat desa dalam kawasan itu juga ikut terendam air laut. Masing-masing Gampong Hagu Selatan, Hagu Barat Laut, Ulee Jalan, dan Ujong Blang.

“Pasang purnama terjadi tiga hari terakhir, namun paling parah kondisinya hari ini. Tapi belum ada rumah yang terendam air pasang purnama,” ujar Deni (43), warga Hagu Barat Laut kemarin.

Ketua Taruna Siaga Bencana (Tagana) Lhokseumawe, Syamsul Bahri mengakui akibat pasang purnama air asin mulai merendam sejumlah ruas jalan di pinggir Laut Ujong Blang. Namun, sesuai informasi dari anggotanya, belum sampai merendam rumah warga di sana. “Yang teredam hanya pondok-pondok rujak warga saja,” ujar Syamsul Bahri.

Puluhan rumah warga di Dusun Sejahtera, Desa Uteun Bayi, Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe, dalam dua hari terakhir juga terendam air asin. Air tersebut berasal dari luapan waduk yang dibangun Pemko Lhokseumawe tahun 2014 dengan nilai Rp 4,6 miliar.

Air bisa meluap ke perkampungan warga lantaran waduk tersebut sampai sekarang belum memiliki pintu air. Warga menginformasikan, saat waduk selesai dibangun tahun 2014, ternyata tak dibangun pintu airnya, sehingga tiap kali terjadi pasang purnama, air asin yang masuk ke waduk melalui muara Sungai Cunda langsung meluap ke permukiman warga.

Hasmiati, warga Uteun Bayi, mengatakan rumahnya kembali terendam air asin dalam dua hari terakhir selutut orang dewasa. Kadus Sejahtera, Arman, sangat mengharapkan perhatian serius dari Pemko Lhokseumawe untuk mengatasi kondisi tersebut.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Lhokseumawe, Mulyanto yang ditanyai Serambi kemarin mengakui sampai saat ini waduk Uteun Bayi belum punya pintu air. Namun, dia membantah kalau ada rumah warga yang terendam akibat luapan air asin dari waduk. “Bila pun ada rumah warga yang terendam pasang purnama, berarti karena posisi rumahnya memang rendah, bukan karena luapan air waduk,” jelasnya.

Untuk menyempurnakan pembangunan waduk itu, tahun ini sudah tersedia dana Rp 2 miliar. “Akan digunakan untuk membangun pintu air, rumah pompa plus pompanya, penerangan dan rumah jaga. “Sekarang dalam persiapan tender,” demikian Mulyanto.

Belasan tempat pembibitan udang di pinggir pantai Desa Ulee Madon, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, Selasa (24/5) rusak dihantam ombak. “Belasan warga di desa kami bekerja di tempat pembibitan udang tersebut. Namun, setelah dihantam ombak pada Selasa siang, mereka kini kehilangan pekerjaan. Kerugian mereka mencapai 300 juta rupiah,” kata Keuchik Ulee Madon, M Taleb.

Selain itu, satu rumah rusak milik Syariah (65), janda asal Desa Ulee Madon yang berada dekat tempat pembibitan udang itu rusak parah. Ia harus mengungsi ke rumah anaknya. Sedangkan belasan warga lainnya mengalami kerugian belasan juta rupiah.

Dari belasan warga yang terkena abrasi tersebut, enam di antaranya terparah. Masing-masing Zulkifli (45), Mahyeddin (45), Anwar (38), Husaini (41), Dadang Suherman (50), dan Badruzzaman (35).

“Di kawasan itu belum ada tanggul pemecah ombak,” ujar Keuchik Ulee Madon. Ia berharap, Pemkab Aceh Utara dan Pemerintah Aceh segera membangunnya, agar warga setempat dapat memulai usaha kembali. (de/bah/jaf) (uri/atrya/ratama/SP)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id