Meneliti Muslim Diaspora di Korea | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Meneliti Muslim Diaspora di Korea

Foto Meneliti Muslim Diaspora di Korea

OLEH PROF EKA SRIMULYANI, Kepala Pusat Penelitian dan Penerbitan LP2M UIN Ar-Raniry, Korea Foundation Sponsored Field Researcher (Affiliate Research Fellow to Sogang University) melaporkan dari Seoul, Korea Selatan

PEMELUK agama yang dominan di Korea saat ini adalah mereka yang menganut agama Budha, Protestan, dan Katolik, bahkan ada sejumlah besar masyarakat Korea yang tak berafiliasi pada agama. Islam adalah bagian dari kelompok agama minoritas di Korea. Secara statistik bahkan kurang dari 1% pemeluk Islam dibandingkan dengan jumlah total 50 juta lebih penduduk Korea secara keseluruhan.

Meski demikian, pertumbuhan masyarakat muslim dan aktivitas keagamaan mereka di Korea relatif dinamis dan terus berkembang. Pertumbuhan rumah ibadah seperti mesjid dan mushala kian meningkat dari waktu ke waktu. Begitu juga perkumpulan atau asosiasi masyarakat muslim di Korea serta kegiatan sosial keagamaan mereka. Pada hari Jumat, masjid besar yang berlokasi di daerah Itaewon biasanya penuh sesak dengan jamaah dari berbagai negara.

Sebenarnya kontak sejarah semenanjung Korea dengan muslim, khususnya pedagang muslim, sudah dimulai sejak ribuan tahun lalu. Dalam karya ahli geografi muslim dan karya historiografi Islam seperti Al Mas’udi terdapat catatan tentang Kerajaan Shilla (berdiri pada abad 57 SM-925 Masehi) yang bekasnya masih ditemukan di Provinsi Gyeongju, wilayah pesisir pantai laut timur.

Di sana juga disebutkan tentang kedatangan beberapa orang muslim yang kemudian menetap di wilayah kerajaan tersebut. Dari sumber sejarah Korea sendiri–misalnya dalam catatan sejarah Kerajan Koryo (918-1392 Masehi), pelanjut sejarah kerajaan Shilla di Korea–juga disebutkan catatan/informasi mengenai kedatangan para pedagang muslim dan aktivitas perdagangan mereka di Kerajaan Koryo. Ketika terjadi penaklukan Kerajaan Koryo oleh Mongol, interaksi dari kedua masyarakat dan budaya makin menguat.

Sejarah juga mencatat, muslim dari Asia Tengah juga menjadi bagian dari komunitas pendatang yang mendiami wilayah Korea. Kondisi ini berlanjut sampai dinasti/kerajaan terakhir di Korea, yaitu Chosun (1392-1910 M). Pada periode ini, sangat sedikit didapat catatan mengenai kehidupan muslim di Korea, sampai akhirnya ada catatan dari rombongan Sultan Kerajaan Turki yang berkunjung ke Korea sekitar tahun 1919 mengenai adanya ratusan muslim dari Asia Tengah yang melarikan diri ke Korea setelah revolusi komunis di Soviet.

Data sejarah berikutnya tentang muslim di Korea kebanyakan berkait dengan kehadiran muslim di Korea pasca-Perang Dunia II, melalui interaksi yang terjadi antara orang Korea yang sudah memeluk Islam dengan Turki dan Cina muslim dan kembali ke Korea serta membangun kontak dengan pasukan Turki yang saat itu bertugas sebagai pasukan pengamanan dalam Perang Saudara di Korea.

Mulai tahun 1950-an ke atas, aktivitas keislaman para muslim di Korea kian menggeliat, termasuk dalam bentuk pemilihan imam dan berdirinya Korea Muslim Federation tahun 1965. Tahun 1970, Pemerintah Korea menghibahkan sebidang tanah, kemudian dibangun masjid di daerah Itaewon lewat dukungan dana beberapa negara muslim tahun 1976.

Dari Indonesia
Karena kebetulan penelitian saya mengenai muslim ‘diaspora’, muslim dari Indonesia tentu saja ikut menjadi fokus perhatian. Saat ini, muslim dari Indonesia yang tinggal di Korea mayoritas perkerja, namun ada juga yang menikah dengan warga Korea (mixed marriage). Para tenaga kerja Indonesia yang bekerja di berbagai pabrik di Korea, terkonsentrasi di daerah industri seperti Ansan, Busan, Gimhae, dan Changwon. Pertumbuhan jumlah masjid dan mushala yang ‘dimiliki’ oleh muslim dari Indonesia juga makin bertambah. Misalnya, Masjid Sayyidina Bilal di Changwon, Masjid Siratul Mustaqiem di Ansan, dan beberapa mushala komunitas muslim Indonesia seperti Mushala Albarakah di Gimhae, Mushala Alnur di Daejon, Mushala Alfalah di Youngdeungpo, Seoul, dan lainnya. Selain itu, puluhan mushala tersebar di Korea.

Asosiasi atau organisasi masyarakat muslim Indonesa juga aktif. Muslim dari Indonesia memiliki organisasi tersendiri bernama Komunitas Muslim Indonesia (KMI). Di bawah KMI ada organisasi yang berbasis masjid seperti di Masjid Alfatah, di daerah Busan. Secara umum masyarakat Indonesia di Korea cukup aktif dalam organisasi dan paguyuban yang ada, baik yang berbasis agama maupun sosial kedaerahan masing-masing. Di satu sisi, kondisi ini menjadi tantangan untuk interaksi yang lebih luas dengan masyarakat di luar bangsa sendiri, namun di sisi lain juga menjadi “kekuatan” masyarakat Indonesia diaspora untuk bertahan (survive).

Pastinya, cukup banyak hal menarik dari kajian [muslim diaspora], baik di Korea maupun di negara lainnya terkait interaksi dan adapatasi budaya, isu identitas, dan aspek-aspek lainya. Meneliti di luar negeri, sebenarnya memberi beberapa pembelajaran tersendiri dan sangat mungkin untuk kemudian direfleksikan ke masyarakat Tanah Air dan daerah kita sendiri. Tentu saja tak semua baik dan cocok, tapi sebagai bagian dari masyarakat yang berpengetahuan, merupakan tugas kita mengambil pembelajaran yang baik dari hasil penelitian untuk kemaslahatan dan perubahan.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email [email protected] (uri/gie/iyadie/OR)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id