Dishut-BKSDA Musnahkan Opsetan Satwa Liar | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Dishut-BKSDA Musnahkan Opsetan Satwa Liar

Foto Dishut-BKSDA Musnahkan Opsetan Satwa Liar

* Sebagian Diserahkan ke Museum

BANDA ACEH – Dinas Kehutanan (Dishut) Aceh dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Senin (23/5) pagi memusnahkan opsetan (awetan) satwa liar, dengan cara dibakar di Halaman Kantor Dishut Aceh, Banda Aceh.

Pemusnahan itu dalam rangka peringatan hari keanekaragaman hayati se-dunia. Barang yang musnahkan itu merupakan opsetan dari satwa yang dilindungi, karena kondisinya sudah rusak sehingga dimusnahkan. Sedangkan opsetan yang kondisi masih utuh diserahkan kepada Museum aceh dan Visitor Center Tahura Pocut Meurah Intan Gunung Seulawah, yang berada dibawah naungan Dishut Aceh

Barang yang musnahkan yaitu tiga opsetan harimau, dua opsetan macan dahan, dua gading gajah, satu kulit harimau, satu kulit kucing hutan, dan satu kulit beruang madu. Pembakaran barang sitaan itu dilakukan oleh Kepala Dishut Aceh, Ir Husaini Syamaun MM, Kepala BKSDA Aceh, Genman S Hasibuan, Dirkrimsus Polda Aceh, Kombes Pol Zulkifli, Perwakilan Kejati Aceh, dan Museum Aceh.

“Opsetan yang diserahkan untuk Museum Aceh yaitu, satu opsetan harimau, satu opsetan kucing emas, tiga gading gajah, dan tulang rahang gajah,” ujar Kepala Dishut Aceh, Husaini Syamaun.

Sementara untuk museum di Tahura diserahkan, dua opsetan harimau, satu kijang muncak, satu beruang madu, satu macan dahan, satu kucing emas, satu burung juhang, satu kambing sumatera, satu tengkorak harimau, empat gading gajah, dan tulang-belulang satwa liar.

Genman mengatakan, barang yang dimusnahkan berjumlah 10 opsetan, sedangkan yang dimuseumkan berjumlah 21 opsetan. Awetan hewan dilindungi itu merupakan hasil sitaan 2012-2015.

Sementara itu, Dirkrimsus Polda Aceh, Kombes Pol Zulkifli mengatakan, sejak tahun 2014 hingga 2016 Polda Aceh menangani sebanyak 12 kasus perdagangan satwa liar maupun opsetan, dengan jumlah tersangka sebanyak 30 orang.

“Saat ini di Polres Bireuen sedang ditangani satu kasus bersama dua tersangka serta dua opsetan harimau, yang dalam waktu dekat sudah bisa dilimpahkan ke jaksa,” ujar Zulkifli.

Sementara Husaini Syamaun yang menanggapi maraknya satwa memasuki pemukiman penduduk mengatakan, saat ini di Aceh terdapat berbagai jenis hutan seperti hutan lindung, hutan konservasi, dan hutan produksi. Maka hutan itu harus dimanfaatkan sesuai fungsinya, agar tidak ada satwa atau masyarakat yang terganggu.(mun) (uri/inaldy/eryance/RG)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id