Taktik PSBL Dikritik | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Taktik PSBL Dikritik

Foto Taktik PSBL Dikritik

MEDAN – Gaya permainan PSBL Langsa yang cenderung bertahan total menuai kritikan. Mirisnya, strategi andalan Elang Biru ini sama sekali tidak efektif untuk bersaing di Grup I Indonesia Soccer Champhionsip 2016.

Kritikan pedas ini dilontarkan asisten pelatih PSMS Medan, Ansyari Lubis usai timnya bersua PSBL di Stadion Teladan, Medan, Sabtu (21/5) malam. Pemain PSMS, kata Ansyari, kesulitan mengembangkan taktik karena lawan hanya menumpuk pemain di area kotak penalti. Dalam partai yang dimenangi PSMS 2-0 itu, sedikitnya ada delapan pemain PSBL yang dikhususkan mengawal lini pertahanan.

Penumpukan pemain di lini bawah ini membuat pertandingan berat sebelah. Khusus di babak pertama, PSBL terkesan tidak berniat membobol gawang lawan karena hanya fokus menghalau pertahanan lawan.

“Kita dipaksa bermain dengan tim yang bertahan. Sejak awal, dia sudah defense. Tujuh sampai delapan pemain hanya berada di lini pertahanan,” kata Ansyari.

Negative football ini, diakuinya, sama sekali tak mereka prediksi. Tapi meski awalnya kerepotan, lambat laun PSMS mampu mengatasi masalah ini. Celah ini ditemukan tidak terlepas dari gaya monoton PSBL yang tidak kunjung merubah taktiknya. “Sejak awal mereka begitu terus mainnya. Kita instruksikan (serang) di dua sisi, makanya kita main di wing,” lanjut Ansyari.

Transformasi taktik ini ternyata ampuh. Buktinya dua gol yang dihasilkan Ayam Kinantan berasal dari sisi kiri dan kanan pertahanan PSBL. “Saya apresiasi seluruh pemain. Mereka bisa menjaga tempo. Secara kualitas kita cukup bagus,” beber pria yang akrab disapa Uwak ini.

Catenaccio yang diterapkan pelatih PSBL, Jessi Mustamu sejauh ini terbilang gagal total. Sejatinya pola ini tidak melulu bertahan, karena seharusnya ada titik balik bagi pemain untuk menyerang secara efektif.

Tapi merujuk klasemen saat ini, posisi PSBL sama sekali tidak mencerminkan tim yang menganut paham pertahanan sebagai kekuatan utama. Dari tiga laga yang sudah dilalui seluruhnya berakhir dengan kekalahan. Tragisnya, Elang Biru sudah kebobolan tujuh gol tanpa sekalipun menjebol gawang lawan yang membuat mereka terbenam di dasar klasemen.

Tapi Jessi berdalih timnya tidak seburuk yang dibayangkan. Sebagai penanggung jawab, ia melihat ada perkembangan signifikan yang ditunjukkan anak asuhnya dalam setiap pertandingan. Tensi permainan yang diperagakan PSBL diklaimnya tidak kalah dengan PSMS.

Sebagai bukti adanya kemajuan, ia menyebut dua gol yang bersarang di gawang Zulbahra hanya dihasilkan melalui bola mati. Dengan kata lain, PSMS dianggapnya tidak mampu melukai mereka dengan permainan terbuka. “Jelas sekali ada perkembangan. Permainan berimbang. Dua gol mereka dari bola mati,” kata Jessi.

Ia pun mengaku mendapat pelajaran berharga dari kekalahan ini, yakni akan menambah jam latihan mengantisipasi bola mati. Makanya Jessi optimis bila ke depannya PSBL bisa berbicara lebih banyak pada turnamen ini. “Kalah tiga kali pasti menyakitkan. Tapi kita akan bangkit. Kebetulan nanti kita main di Langsa,” ujar Jessi yang berjanji akan bangkit kala menjamu PS Bintang Jaya, 28 Mei, nanti. (mad) (uri/ndra/ndrianto/IA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id