Dari Konflik, Tsunami Hingga Kini Tetap K-2 | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Dari Konflik, Tsunami Hingga Kini Tetap K-2

Foto Dari Konflik, Tsunami Hingga Kini Tetap K-2

NAMA lengkap laki-laki tersebut Zainal Fikri, namun ia lebih dikenal dengan panggilan Bang Buyong (51). Dia sudah menjadi sopir ambulans di Dinkes Bireuen sejak 1999. Statusnya masih tenaga honorer kategori dua (K-2).

Bang Buyong yang asli Bireuen itu kepada Serambi, Kamis (19/5) menuturkan, awalnya ia diminta menjadi sopir ambulans jenazah dan antar jemput pasien.

Pada masa konflik, kata dia, pekerjaan yang dilakoninya serba salah dan tidak menentu. Niat tulusnya menolong korban kadang menjadi hambatan karena kecurigaan yang berlebihan dari pihak lain. Begitupun, Buyong mengaku dirinya bisa memahami kondisi tersebut, mengingat Aceh sebagai daerah rawan konflik. “Mereka wajar curiga karena saya sering ke lapangan membawa pulang orang sakit, menjemput jenazah korban konflik maupun kegiatan kemanusiaan lainnya,” ujarnya.

Buyung beristrikan Syamsiar bertempat tinggal di Gampong Geulanggang Teungoh, Kota Juang Bireuen. Saat pertama kali bertugas pada 1999, dia mendapat honor Rp 50.000/bulan sebagai sopir ambulans jenazah. Honor saat ini juga sekitar Rp 550.000/bulan sebagai sopir ambulans di Dinkes Bireuen. Tugasnya, ya menjemput pasien di puskesmas dan mengantar obat-obatan. “Sekarang sudah lumayan, ambulans sudah banyak dan tugas semakin ringan,” katanya.

Pada masa konflik, kata dia, pejabat di pemerintahan tidak bisa leluasa masuk-keluar kampung. Ada saja yang curiga, meskipun kadang tujuannya baik, misalnya untuk menyalurkan bantuan kepada warga. Itu sebab, kata Buyong, beberapa kali pejabat di Pemkab Bireuen menumpang mobil ambulans yang dikendarainya. “Pernah suatu hari safari Ramadhan ke arah barat Bireuen, waktu pergi mobil rombongan dilempari batu, ketika pulang beberapa pejabatnya menumpang ambulans, biar tak dilempari lagi,” kata dia.

Ditanya apakah seusai mengantar jenazah pihak keluarga pernah memberikan imbalan, Buyung mengatakan, jarang sekali imbalan didapat. Bahkan pernah beberapa kali ditolaknya, karena pemberinya dari keluarga yang tidak mampu. Buyong tak ingin keluarga pasien terbebani, apalagi setelah menerima musibah.

Saat tsunami 2004, Buyong bertugas 24 jam mulai dari Gandapura sampai ke Samalanga bersama sejumlah ambulans lainnya menjemput jenazah korban tsunami. Semua itu dilakukan dengan senang hati. Tak berharap imbalans materi.

Menyangkut statusnya sebagai tenaga honorer, Buyong mengatakan, meskipun dia sudah melengkapi berkas berulangkali, statusnya tetap sebagai tenaga honorer kategori dua. Dia tidak tahu kapan bisa menjadi pegawai negeri sipil.(yus) (uri/wi/ovi/ovianti/DNN)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id