Dewan Pijay: Tim Penertiban Lemah | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Dewan Pijay: Tim Penertiban Lemah

Foto Dewan Pijay: Tim Penertiban Lemah

* Ternak Masih Berkeliaran di Jalan

MEUREUDU – Pengguna jalan di lintas Banda Aceh-Medan kawasan Pidie Jaya dan sekitarnya, masih saja terganggu oleh banyaknya ternak berkeliaran di ruas jalan. Padahal, tim penertiban mengaku sudah bekerja maksimal untuk menertibkannya. Regulasi untuk menindak pemilik ternak yang melanggar juga sudah disiapkan, yakni Qanun No 3 tahun 2013 dan Peraturan Bupati (Perbup) No 30 tahun 2015.

“Namun ternak masih saja berkeliaran hingga mengancam jiwa pengguna jalan. Ini menunjukkan lemahnya kinerja tim penertiban,” kata Wakil Ketua DPRK Pijay, Ir Nazaruddin, Sabtu (21/5).

Menurutnya, lemahnya kinerja tim penertiban ini, mulai dari sosialisasi ke warga pemilik ternak yang tak maksimal, hingga penindakan yang belum tegas. Padahal, setiap hari selalu ada kecelakaan yang disebabkan oleh keberadaan ternak di pinggir jalan. Upaya penertiban ini pun seharusnya diikuti oleh kabupaten tetangga yang juga dibelah oleh jalan lintas Sumatera. Sehingga bisa mengurangi korban lakalantas akibat ternak berkeliaran.

“Di Pidie Jaya, dalam dua pekan terakhir saja ada ratusan ternak yang berkeliaran di jalan raya, mulai dari Kecamatan Bandarbaru, Panteraja, hingga Trienggadeng,” sebutnya.

Ia mengaku kesal dengan lemahnya kinerja tim penertiban ternak ini, karena dana Rp 700 juta telah dianggarkan untuk menyukseskan program penertiban ternak di delapan kecamatan dalam kabupaten itu. “Termasuk untuk dana sosialisasi hingga waktu enam bulan sebagai langkah preventif. Tapi penertiban ternak berkeliaran ini hanya berjalan dua pekan, dan masalah ternak berkeliaran ini tak juga tuntas,” ujarnya.

Ia menyayangkan sikap tim penertiban yang tidak tegas terhadap pelanggar. Karena sebelumnya, sebagian warga sudah ada yang mematuhi imbauan, dengan tidak melepaskan ternaknya. “Namun, karena yang melanggar juga tidak diberi sanksi tegas, warga yang sudah mulai patuh pun kemudian kembali membiarkan ternaknya berkeliaran,” ungkapnya.

Ternak berkeliaran ini, sebenarnya bukan hanya mengancan jiwa pengguna jalan. Namun juga merusak kenyamanan warga akibat kotoran hewan yang berserakan, hingga memakan tanaman di halaman rumah warga lainnya. Sementara, pemilik ternak yang tidak bertanggung jawab membangun kandang dan membiarkan ternaknya mencari makan sendiri, hanya berpikir mencari untung saat menjual ternak tersebut dengan harga hingga puluhan juta.

Mungkin, kekesalan warga kepada pemilik ternak yang dipelihara oleh ternaknya ini yang menyebabkan matinya tiga ekor sapi di pinggir jalan kawasan Kecamatan Simpang Tiga dan Peukan Baro, Pidie. Dari kondisinya, diduga kuat tiga ekor sapi ini mati akibat diracun. Perutnya yang membengkak diduga akibat racun belerang, yang sengaja di taruh di rumput. Sehingga hewan itu mati. “Ketiga sapi yang mati itu, dari mulutnya mengeluarkan busa. Besar kemungkinan hewan ini mati akibat diracun,” kata Kadistannak Pidie, Ir Ainalmardhiah, dibenarkan dibenarkan Wakapolres Pidie, Kompol H Nazaruddin MM.

Meski kejadian ini terjadi di Pidie (bukan di Pidie Jaya), namun aksi kejam untuk menghilangkan ternak dari ruang publik ini perlu menjadi pelajaran bagi tim penertiban ternak di Pijay, dan setiap pemerintah kabupaten/kota di Aceh, agar mampu menertibkan hewan ternak ini, sebelum warga bertindak sendiri.

Ketua tim penertiban ternak Pidie Jaya, Drs Ridwan M Ali MPd, melalui Serambi, Sabtu (21/5) mengatakan, timnya telah bekerja maksimal. “Namun, masih ada masyarakat yang kurang memahami program penertiban ini,” katanya.

Ia berjanji, mulai minggu depan, segera menerapkan penindakan terhadap ternak yang berkeliaran. Sementara pemilik ternak yang melanggar qanun, juga akan dikenakan sanksi berupa denda.

Seperti diketahui, program penertiban ternak berkeliaran ini sudah berjalan selama tiga pekan. Meski memang ada ternak yang diamankan petugas dan pemilik ternak yang didenda, namun hari-hari berikutnya masih saja terlihat ternak berkeliaran di ruang-ruang publik bahkan menyeberang jalan lintas Banda Aceh-Medan.

Sehingga membahayakan pengguna jalan, terutama pengendara sepeda motor yang lebih banyak menjadi korban tewas dalam kecelakaan akibat menabrak/ tersenggol/menghindari ternak yang berseliweran di jalanan.

“Mulai minggu depan, kami akan melakukan operasi penangkapan ternak berkeliaran secara besar-besaran, dan pemiliknya akan disanksi tegas,” janji Ridwan.(c43) (uri/ngbert/atoel/EL)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id