Indahnya Toleransi Beragama | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Indahnya Toleransi Beragama

Foto Indahnya Toleransi Beragama

RAHMAH MASTURAH, Mahasiswi Teknik Lingkungan, Penerima Beasiswa Unggulan Biro Perencanaan Kerja Sama Luar Negri (BU-BPKLN), Universitas Islam Indonesia, melaporkan dari Georgia

MELALUI organisasi pemuda internasional, AIESEC, saya merupakan salah satu mahasiswa Indonesia yang diberangkatkan ke Georgia untuk mengikuti pertukaran pelajar selama enam minggu. AIESEC merupakan organisasi yang dibentuk setelah Perang Dunia II untuk menghindari segala pertikaian yang dihadapi oleh masyarakat dunia pada waktu itu melalui berbagai macam aspek seperti pendidikan.

Kegiatan selama di sini, selain mengikuti konferensi yang membahas isu-isu internasional dan memperkenalkan budaya setiap partisipan, tujuan utama program ini adalah partisipan diminta untuk mengajar anak-anak di Georgia berbahasa Inggris.

Awalnya saya sangat kesulitan untuk mengajar bahasa kepada mereka, bukan karena mereka tak paham bahasa Inggris, akan tetapi karena sulitnya mereka menerima sesuatu yang asing di lingkungan mereka. Layaknya Rusia, masyarakat Georgia adalah tipikal masyarakat ‘dingin’ sehingga membutuhkan kesabaran hanya untuk bisa tersenyum kepada orang asing.

Georgia (nama resmi dari Sakartvelo), merupakan salah satu negara pecahan Uni Soviet. Secara geografis, negara ini bertetangga dengan Turki dan Azerbaijan. Sebagaimana Rusia, mayoritas penduduk Georgia menganut agama Kristen selama berabad-abad dan merupakan sebuah negara pertama di Eropa yang mengadopsi Kristen sebagai agama negara selama beberapa dekade.

Hal ini pulalah yang menjadi kerisauan saya untuk bisa berbaur bersama masyarakat Georgia yang mayoritas Kristen. Apalagi dunia saat ini sedang dihebohkan oleh teroris berkedok agama. Sempat terlintas dalam pikiran bahwa masyarakat Georgia akan mengucilkan saya, karena saat ini saya berada di dalam kawasan Kristen Ortodoks dan saya sebagai muslimah tentu saja akan selalu membawa identitas saya sebagai perempuan, yakni hijab.

Setibanya saya di kota tujuan, kepada saya diinformasikan bahwa akan mulai menjalankan tugas saya keesokan harinya, sehingga diminta untuk mempersiapkan materi untuk mengajar. Dengan perasaan senang dan sedikit waswas karena akan adanya perbedaan ras, agama, dan budaya saya coba menyiapkan materi untuk diajarkan kepada anak-anak Georgia.

Pagi harinya saya dijemput oleh pemandu untuk diberikan arahan dan membawa saya menuju sekolah tersebut. Saya bersama dua rekan yang berasal dari Mesir dan Ukraina melangkah masuk ke halaman sekolah. Saya tak henti-hentinya berdoa kepada Yang Mahakuasa semoga hari itu berjalan dengan baik.

Sesampainya di sekolah, kami disambut hangat oleh kepala sekolah, guru, dan murid di sana. Mereka langsung menyuguhi kami dengan berbagai macam makanan khas Georgia sambil memberikan instruksi tentang kewajiban dan hak kami selaku para partisipan.

Tempat saya melaksanakan tugas baru ini adalah sekolah pemerintah yang sangat kental dimensi keagamaannya. Ini bisa dilihat dari setiap sudut kelas akan selalu terlihat tempat mereka memuja Tuhannya. Jam mengajar saya juga terbilang cukup tinggi dan pada satu waktu malah bertepatan dengan datangnya waktu shalat Zuhur.

Tapi ternyata, pihak sekolah telah menyediakan suatu ruang khusus untuk saya dan teman saya dari Mesir untuk dapat melaksanakan ibadah shalat Zuhur selayaknya mereka beribadah terhadap Tuhannya.

Ternyata first impression saya untuk dapat berbaur dengan warga Georgia tidak seburuk yang saya pikirkan. Maklum saja, saat pengecekan imigrasi di Bandara Georgia, dokumen perjalanan saya sempat diragukan keasliaannya. Bahkan pihak imigrasi pun tidak tahu keberadaan negara kita tercinta, Indonesia. Kelewatan kan?    

Georgia adalah salah satu negara dengan produksi wine terbaik di dunia. Tanah Georgia yang pada musim dingin bisa mencapai suhu  hingga -10 derajat Celcius ini tentu sangat membutuhkan minuman anggur untuk penghangat tubuh mereka.

Selama bertugas, kami ditempatkan dalam satu asrama bagi seluruh partisipan. Culture shock pun sempat saya rasakan waktu itu. Salah satu rekan terbaik saya berasal dari Brazil. Saya sempat mendengar bahwa orang Brazil mempunyai kebiasaan yang sangat tinggi dalam hal wine, bir, atau vodka. Karena cuaca di luar sangat dingin, rekan-rekan saya bermaksud untuk berpesta di dalam asrama. Lagi-lagi saya merasa sangat dihargai. Mereka meminta izin lebih dulu kepada saya untuk mengadakan pesta wine di dalam asrama, karena mereka tahu ada beberapa partisipan muslim di antara mereka.

Setelah berminggu-minggu saya berada di Georgia, saya benar-benar merasakan indahnya toleransi antarumat beragama. Hal yang juga seharusnya tumbuh di Indonesia yang penduduknya heterogen.

Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email [email protected] (uri/atih/artanto/RH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id