Suasana Islami di Pinggiran New York | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Suasana Islami di Pinggiran New York

Foto Suasana Islami di Pinggiran New York

OLEH ILLIZA SA’ADUDDIN DJAMAL, Wali Kota Banda Aceh, melaporkan dari New York City, Amerika Serikat

SAYA ke New York memenuhi undangan Sekjen United Cities for Local Governments (UCLG) mengikuti “Habitat III Hearing for Local Authorities” sebagai bagian dari “The Global Taskforce of Local and Regional Government” di Markas Besar PBB, 15-17 Mei 2016.

Alhamdulillah, kita diundang Sekjen UCLG bersama PBB karena Banda Aceh dianggap telah ikut berkontribusi dalam berbagai even internasional. Di forum Habitat III itu saya diminta jadi pembicara sebagai perwakilan dari pemerintah lokal di kawasan Asia Pasifik. Ini karena, Banda Aceh merupakan anggota tetap United Cities for Local Governments-Asia Pacific Regions (UCLG-ASPAC) dan saya sebagai Chair of The Standing Committe on Women UCLG-ASPAC, selain Ketua Forum Komunikasi Kabupaten/Kota Se-Aceh (FKKA).

Dengan pengalaman sebagai salah satu kota di dunia yang berhasil bangkit pascatsunami 2004, Banda Aceh ikut aktif berkontribusi untuk dunia melalui aneka kegiatan yang diselenggarakan UCLG sejak 2015.

Tujuan lain dari pertemuan ini adalah untuk meningkatkan jejaring Banda Aceh dengan beberapa kota di dunia dan bekerja sama dengan berbagai lembaga internasional dalam menciptakan kota masa depan yang berkesinambungan (sustainable future city). Hal ini relevan karena hingga kini Banda Aceh merupakan anggota tetap dari CityNet (jaringan kota-kota di Asia Tenggara) dan ICLEA (jaringan kota yang fokus pada penciptaan kota hijau dan beradaptasi pada perubahan iklim dunia).

Selama di New York, saya juga bertemu Sekjen PBB, Ban Ki-Moon pada acara coffee and picture di Markas Pusat PBB. Ia secara khusus mengapresiasi kehadiran kita dari Banda Aceh karena pihaknya dapat mendengar langsung kemajuan pembangunan berkelanjutan di Banda Aceh, guna mewujudkan kemajuan dunia secara serempak.

Di luar serangkaian acara itu, jujur saja, saat pertama tiba di Kota New York, Minggu (15/5/2016), ada hal yang mengganjal perasaan saya, yakni bagaimana mendapatkan makanan yang pas dengan lidah dan yang terpenting adalah harus halal. Di atas semua itu, tentu saja kebutuhan akan tempat ibadah yang nyaman bagi umat muslim.

Namun, kekhawatiran itu sirna seketika saat melintas di kawasan 31st Avenue, Queens, Long Island City, New York, tak seberapa jauh dari lokasi runtuhnya gedung World Trade Center (WTC) pada 2001 silam. Di sana tampak sejumlah mobil boks yang disulap jadi toko berjalan yang menjual beragam makanan halal (halal food). Mulai dari kebab, lamb gyros, phily chessee steak, hingga hotdog berlabel halal tersedia. Menu yang tersedia cocok untuk makan siang maupun malam di county terluas di New York yang bersuhu 11-16 Celcius tersebut.

Para penjualnya juga muslim. ‘Toko berjalan’ mereka buka sejak pukul 05.00-00.30 waktu setempat. Ucapan assalammualaikum kerap terdengar ketika para pembeli dan penjual makanan bertransaksi. Sasana islami begitu terasa di daerah pinggiran New York ini.

Bukan hanya itu, di daerah yang termasuk dalam County Queens ini juga terdapat beberapa masjid yang menyediakan makanan halal. Salah satunya Masjid Al-Hikmah, sekaligus tempat berkumpulnya komunitas muslim Indonesia. Bukan hanya WNI, setiap harinya masjid ini ramai dikunjungi jamaah dari berbagai negara dan profesi.

Kebetulan hari ini pengurus masjid menggelar bazar khusus yang menjual produk makanan halal dan busana muslim seperti baju koko, jilbab, baju syar’i, serta beragam kebutuhan muslim lainnya. Ratusan pengunjung yang hadir mencerminkan betapa kuatnya persatuan umat Islam di daerah ini.

Hal lainnya, ternyata para WNI asal Aceh juga sering mengadakan pertemuan di masjid yang dikelola oleh Indonesian Muslim Community, Inc (IMCI)–organisasi nirlaba keagamaan yang didirikan untuk menjamin keberlangsungan ibadah masyarakat Indonesia di New York.

Dalam sejumlah kesempatan, Imam Besar Masjid Al-Hikmah, Ustaz Syamsi Ali (beliau pernah datang ke Banda Aceh diundang pemko pada Desember 2015 menghadiri wisuda Tahfizul Quran 100 penghafal Quran di Taman Sari -red) turut diundang pihak PBB untuk menyampaikan pandangannya terkait seperti apa Islam itu sebenarnya. Tak dapat dipungkiri, keberadaan Islam dan penganutnya semakin mendapat tempat di Amerika maupun di belahan bumi lainnya.

Saat ini di New York banyak terdapat masjid yang umumnya dikelola komunitas muslim asal Bangladesh, sehingga soal beribadah hampir tak ada kendala yang berarti. Hal ini berbanding terbalik dengan pikiran waswas sebagian muslim saat akan berkunjung ke sebuah negeri di mana Islam bukan merupakan agama mayoritas. Nyatanya, hari ini dimensi dan suasana yang islami terasa begitu kental di Negeri Paman Sam, setidaknya di pinggiran New York City.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email [email protected] (uri/gie/iyadie/OR)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id