Kematian Ibu dan Bayi di Pidie Bertambah | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Kematian Ibu dan Bayi di Pidie Bertambah

Foto Kematian Ibu dan Bayi di Pidie Bertambah

SIGLI – Kematian ibu hamil dan bayi di Pidie, kembali terjadi. Sehingga menambah jumlah kematian ibu dan bayi di kabupaten ini yang sebelumnya diberitakan mencapai 57 orang bayi dan tujuh orang ibu.

Peristiwa terbaru dialami Ummi Kalsum (36) yang meninggal menyusul bayinya saat proses melahirkan di RSU Tgk Chik Di Tiro Sigli, Pidie, pada Senin (16/5) lalu.

Suami dan ayah korban, Mustafa (42), warga Gampong Gapui, Kecamatan Indrajaya, menceritakan bahwa istrinya yang mengandung anak keempat itu dibawa ke RSU Tgk Chik Di Tiro, pada Minggu (15/5) malam untuk menjalani proses persalinan. Hasil diagnosa awal, Ummi Kalsum akan bersalin secara normal. Karena saat itu, kondisi ibu dan bayinya dilaporkan baik.

Setelah 18 jam pihak keluarga menunggu Ummi melahirkan secara normal, ternyata tidak membuahkan hasil. “Saat dalam perawatan, istri saya sudah meminta dilakukan operasi karena tidak tahan dengan sakit yang dirasakannya. Namun dokter tidak merespon, sehingga keadaannya terus memburuk,” kata Mustafa.

Bayi yang dikandung, dilaporkan meninggal lebih dulu. Dokter yang menanganinya kemudian melakukan kompresi jantung luar, tapi nyawa Ummi juga tidak tertolong.

Dokter Irvan SPOG yang menangani pasien tersebut mengatakan, saat pemeriksaan awal, tidak ada kejanggalan. “Meski ada keluhan bayi tidak bergerak, jantungnya berdetak normal dan posisi kepala bayi mengarah ke bawah. Menandakan bayi berada di posisi seharusnya,” katanya.

Kata Irvan, hingga pukul 12.45 WIB Senin siang, proses menjelang persalinan masih normal dan tetap diawasi bidan di kamar bersalin. proses melahirkan terhadap pasien akan dilakukan secara normal.

Pukul 13.00 WIB, ia menerima laporan dari bidan, bahwa tekanan darah pasien menurun. “Karena saya anggap terjadi penurunan darah, kami mengambil tindakan dengan mempercepat aliran cairan infus,” jelasnya.

Ia mengatakan, sudah merencanakan operasi sito, karena ketuban sudah pecah dan proses melahirkan tidak bisa dilakukan dengan normal. Hingga kemudian bayi yang dikandung Ummi Kalsum, meninggal dan disusul ibunya.

Dokter Muhammad Ardi SPAN yang merupakan spesialis anastesi, mengatakan, dirinya datang ke kamar bersalin atas permintaan dokter obgyn. “Saat itu, kondisi pasien sudah tidak stabil. Saya sempat melakukan resusitasi jantung paru, tapi pasiennya tidak selamat,” kata Ardi.

Penjelasan dokter RSUD Tgk Chiek Di Tiro ini dibantah Mustafa, suami dari pasien yang meninggal. Kepada Serambi, Rabu (18/5) mengatakan, setelah menunggu 18 jam bayinya tidak juga lahir, seharusnya dokter tahu bahwa ada yang tidak normal dalam proses bersalin ini.

“Dokter hanya bisa memberikan obat dan menaikkan cairan infus. Padahal isteri saya sudah sangat menderita akibat sakit pada bagian pinggang yang tak sanggup lagi ditahannya. Dia (almarhumah) sudah minta segera dilakukan operasi. Tapi, dokter tidak melakukannya, dengan alasan yang dibuat-buat seperti ada sesuatu yang disembunyikan. Saya sangat kecewa karena istri saya dibiarkan menderita hingga meregang nyawa,” ujarnya sambil menahan sedih.(naz) (uri/aradhia/ayanti/FD)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id