Berkunjung ke Rumah Snouck Hurgronje | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Berkunjung ke Rumah Snouck Hurgronje

Foto Berkunjung ke Rumah Snouck Hurgronje

OLEH ASNAWI ALI, Ketua Persatuan Masyarakat Aceh di Örebro, melaporkan dari Swedia

BANGUNAN di kiri dan kanan sepanjang jalan pusat Kota Leiden Centraal itu tak ada yang istimewa. Namun, bagi mereka yang berasal dari Indonesia, mungkin akan merasa istimewa bila pertama kali melewati Jalan Rapenburg ini. Sangat mungkin mereka akan berpaling sesaat ke bangunan nomor 61. Bukan karena arsitekturnya, tapi karena di depan atas pintu masuknya terukir nama dengan huruf kapital SNOUCK HURGRONJE.

Meskipun tak pernah berjumpa fisik, tapi siapa yang tak mengenal dia? Sebagai orang Aceh rasanya saya ingin membunuh rasa penasaran yang selama ini menggayut di hati untuk melihat langsung bagaimana isi rumah islamolog asal Belanda yang dijuluki Teungku Puteh itu.

Dalam sejarah Aceh, nama besarnya sering dikutip di hampir setiap buku sejarah, termasuk dalam sejarah Nusantara. Saya berkunjung ke rumah itu pada saat liburan hari Paskah yang lalu. Terbang dari Swedia dan sebelumnya menginap beberapa hari di sebuah hotel di Den Haag. Menumpang kereta api menuju Leiden pada siang harinya, persis habis disiram gerimis, saya pergi sendiri dari Leiden Centraal dengan menyewa sebuah sepeda mencari alamat Rapenburg 61.

Tak sulit mencarinya. Apalagi bila menanyakan kepada setiap orang mana arah jalan menuju Univeristas Leiden. Univeristas tertua di Belanda itu alamatnya Rapenburg 70, jaraknya hanya dua kali lemparan batu dari rumah Snouck. Di depan rumahnya terbentang kanal mini yang sesekali dilalui perahu wisata. Selain sepeda yang sangat banyak, ini adalah pemandangan biasa di negeri kincir angin itu.

Nah, bila pertama kali berkunjung dan masih ragu, maka sangat mudah bila melihat gambar ruas jalan tersebut dari udara dengan bantuan Google Map. Kebetulan hari Selasa itu sudah dibuka aktivitas perkantoran pascaliburan Paskah. Saya datang tanpa membuat appointment meskipun sebulan sebelumnya sudah pernah mengirim e-mail menanyakan kepada Leids Universiteits Fonds (LUF) untuk memastikan hari apa dimulai lagi kerja setelah liburan Paskah.

Oh ya, rumah Snouck itu sebenarnya kini sudah disulap menjadi kantor yang dalam bahasa Melayu disebut Yayasan Dana Universitas Leiden. Namun, untuk menghargai nama besar bekas pemilik rumah bersejarah itu, maka nama Snouck Hurgronje dengan huruf kapital masih terpahat di depan atas pintu masuk rumah bertingkat tiga itu. Setelah saya pencet bel, ke luar wanita paruh baya menebar senyum menyapa dengan bahasa Belanda yang artinya mempersilakan saya masuk. Saya tebak demikian karena bahasa Belanda ada kemiripan beberapa kata dengan bahasa Swedia, namun tetap saya katakan, “I’m sorry, I can’t speak Dutch.” Lalu dia bertanya ramah, “Where are you from?”

Saya terangkan bahwa saya turis dari Swedia. Kamera Nikon merah dan tas punggung yang dijinjing saya perlihatkan untuk meyakinkannya. Setelah berbasa-basi sejenak sambil menjelaskan bahwa rumah tersebut adalah sebuah kantor, dia minta maaf tak bisa mempersilakan saya masuk tanpa ada temu janji sebelumnya. Sambil memelas saya minta sekali lagi agar diizinkan masuk sebentar saja karena sudah terbang jauh dari Swedia. Tiba-tiba seorang pria perlente berkacamata dan dasi biru ikut nimbrung bertanya. Kebetulan sedang jam istirahat, dia ingin ke luar kantor untuk mencari makan siang.

Lalu wanita setengah baya yang kemudian saya ketahui namanya itu, namun ia minta agar tak dipublikasi, berbicara dengan koleganya tersebut dalam bahasa Belanda. Beruntung, pria necis itu yang saya duga atasannya mempersilakan saya untuk melihat-lihat sejenak dengan dipandu, tapi hanya di lantai satu saja. Sambil mengucapkan terima kasih dalam bahasa Belanda, sebagai candaan.

Langsung saya dituntun ke lorong koridor menuju ruang utama sebelah kanan. Lantai koridornya bukan semen, tapi batu marmer warna kelabu. “Ini ruang utama yang kerap digunakan untuk rapat,” ujar wanita itu dalam bahasa Inggris. Terlihat balkon belakang rumah yang dasarnya sudah dipenuhi lumut. Di sini dulu biasanya Snouck istirahat. “Nah, itu dia orangnya!” kata wanita tadi sambil menunjuk foto orang yang dimaksud. Karena datang sendiri, terpaksa saya minta tolong petugas Leids Universiteits Fonds agar mau memotret saya dengan latar belakang pigura pria yang pernah menyamar ke Mekkah dengan nama Abdul Gaffar itu. Nama aslinya adalah Christian Snouck Hurgronje.

Selain ilmuwan, tampaknya Snouck juga pencinta seni. Ada beberapa lukisan besar yang diperkirakan sudah tua di rumahnya. Bahkan muka pintu yang dari kayu tebal bagian atas juga diukir menjadi lukisan bayi. Meskipun persis seperti ruang tamu sebuah rumah, tapi tak ada televisi dan sofa di sana. Persamaan dengan rumah adalah adanya rak buku yang berisi penuh buku tebal. Juga lukisan di dinding beserta gaya arsitektur desain interior khas Eropa. Buku-buku Snouck bisa dibaca dengan bantuan mesin Google, bahkan ada yang sudah diterjemahkan dan bisa diunduh melalui http://acehbooks.org

Nama Snouck tak bisa dilupakan dalam sejarah Aceh. Dia punya saham yang sangat menyakitkan bagi rakyat Aceh yang tak mungkin dilupakan dengan alasan sejarah pahit itu sudah lama berlalu. Di Rapenburg 61 inilah dulunya Snouck menghabiskan masa tuanya hingga menemui ajal pada 26 Juni 1936. Tanggal ini sesuai dengan yang terukir di batu nisannya. Snouck dikubur tak jauh dari Universitas Leiden. Saya juga mendatangi makamnya.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email [email protected] (uri/nton/ariana/AM)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id