DPRA Keruk Uang Rakyat | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

DPRA Keruk Uang Rakyat

Foto DPRA Keruk Uang Rakyat

BANDA ACEH – Rencana DPRA meminta lagi dana perjalanan dinas–karena yang sudah dialokasikan semakin menipis–menuai tanggapan dari beberapa pihak, termasuk dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unsyiah dengan mengatakan, “DPRA jangan mengemis dan mengeruk uang rakyat kemudian digunakan untuk bertamasya.”

Seperti diberitakan, pada 13 Mei 2016, Badan Anggaran (Banggar) DPRA menggelar rapat tertutup bersama Tim Anggaran Pemerintah Aceh (TAPA). Dalam rapat yang berlangsung di Ruang Banggar DPRA itu, pihak DPRA melaporkan dana perjalanan dinas yang sudah hampir habis. Maka, Pak Dewan pun meminta tambahan.

Untuk diketahui, dana yang dialokasikan untuk kepentingan lembaga dewan pada tahun 2016 mencapai Rp 92,48 miliar. Namun, baru lima bulan berjalan tahun anggaran, sudah ada laporan dana perjalanan dinas menipis.

Apa yang disuarakan pihak DPRA pada rapat tertutup dengan eksekutif ternyata membuat geram aktivis mahasiswa dari BEM Unsyiah. “Permintaan DPRA menambah dana perjalanan dinas sangat memalukan, ini menunjukkan DPRA hanya mementingkan perut pribadi mereka, dengan membuat alasan yang tidak masuk akal,” tandas Sekjen BEM Unsyiah, Heri Safrizal kepada Serambi, Senin (16/5).

Menurutnya, dana yang dialokasikan untuk kepentingan lembaga dewan pada tahun 2016 ini terbilang cukup besar, termasuk untuk anggaran perjalanan dinas. Harusnya anggaran itu bisa digunakan tepat sasaran. “Tapi anggaran itu sudah hampir habis dalam waktu tak lebih sekitar lima bulan, ini sangat aneh. Ini menunjukkan sikap anggota dewan kita yang boros dan terkesan menghambur-hamburkan uang,” kata Heri.

Seharusnya, anggota DPRA menyelesaikan qanun atau regulasi baru untuk kepentingan Aceh, bukan justru melakukan kunjungan kerja luar negeri atau luar daerah.

Dalam wawancara dengan Serambi, BEM Unsyiah menyampaikan pernyataan sikap, yakni mengutuk anggota DPRA yang meminta tambahan anggaran untuk keperluan perjalanan dinas. “Kita mengutuk hal ini dan mendesak DPRA untuk menyelesaikan permasalahan lain yang dampaknya bagi masyarakat,” pungkas Heri Safrizal.

Tanggapan juga disuarakan Dr Taufik A Rahim MSi dari Universitas Muhammadiyah (Unmuha) Aceh. Kepada Serambi, Senin (16/5), Taufik menyebutkan, para politisi di DPRA telah menunjukkan kinerja buruk dan sangat boros.

“Dana yang cukup besar tapi sudah hampir habis, ini menunjukkan selama ini anggota dewan kita kerjanya hanya jalan-jalan saja. Ini sangat menyentak perasaan masyarakat Aceh, semestinya para politisi menyelesaikan persoalan rakyat, bukan jalan-jalan.” ujar Taufik.

Taufik juga mempertanyakan kebijakan anggaran DPRA yang dikelola oleh Sekretariat Dewan (Setwan), apakah selama ini telah berlaku efektivitas dan efisiensi. Ia mengklaim, selama ini penggunaan anggaran di luar kontrol, meskipun pekerjaan anggota dewan sendiri adalah kontrol budgeting dan legislasi.

“Penggunaan anggaran pada lembaga dewan harus diaudit khusus, jadi anggaran yang dialokasikan tidak diselewengkan. Ada kejanggalan karena baru lima bulan anggaran yang diplotkan hampir habis, bahkan tanpa malu meminta lagi. Kita harap mereka bisa menggunakan anggaran dengan efisien dan mengutamakan yang lebih penting dari kunjungan kerja,” demikian Taufik.(dan) (uri/syrafi/orat/AG)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id