Pesona Tari Saman di Bursa | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Pesona Tari Saman di Bursa

Foto Pesona Tari Saman di Bursa

OLEH RIZKI IHSAN, Mahasiswa Uludag University asal Lhok Kruet, Aceh Jaya, alumnus Dayah Modern Darul Ulum Banda Aceh, melaporkan dari Bursa, Turki

KITA tentu sudah sering mendengar tentang Turki, apalagi negara ini memang terkenal dengan berbagai peninggalan budaya dari peradaban kunonya. Bukan rahasia lagi kalau Istanbul ibarat maskot utama saat seorang ingin mengunjungi negara ini.

Kebetulan saat ini saya sedang studi di Bursa. Kota ini merupakan salah satu dari empat kota terbesar di Turki yang merupakan kota penting bagi lahirnya Turki sekarang. Bursa adalah ibu kota pertama Kerajaan Turki Usmani. Oleh karenanya, di kota hijau ini dapat kita temukan berbagai macam kebudayaan dan peninggalan budaya orang-orang Turki yang masih dijaga dan dilestarikan hingga kini.

Masyarakat Turki dikenal sangat tekun menjaga situs-situs bersejarah milik nenek moyangnya. Bahkan sampai ke kampung terpencil yang mempunyai situs bersejarah pun pemerintah memberikan kemudahan dengan menyediakan transportasi langsung.

Bicara tentang kebudayaan, ternyata budaya Aceh mendapat tempat tersendiri di hati rakyat Turki. Beberapa orang Turki yang saya temui mengenal budaya kita dengan coba mempraktikkan tari saman, meskipun beberapa di antaranya lebih mengenal Aceh karena bencana gempa dan tsunami tahun 2004.

Beberapa hari lalu, Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Bursa mengadakan pameran budaya yang merupakan acara besar perdana PPI Bursa sejak berdiri tahun 2013. Acara ini diberi nama Endonezya ile Bir Gun (EIBG) atau “Sehari Bersama Indonesia” yang diadakan di Graha Budaya Prof Dr Mete Cegiz Uludag University, Bursa.

Persiapan acara ini dilakukan kurang lebih 2,5 bulan dengan bantuan pihak Kedubes RI dan kampus. Duta Besar Indonesia di Turki, Bapak Wardana mengatakan, acara ini disambut positif dan antusias sekali oleh masyarakat Turki. “Ini baru promosi dalam ruang lingkup Kampus Uludag University saja, belum lagi jika dilakukan penyebaran melalui iklan secara besar-besaran kepada masyarakat luas,” katanya.

Acara dimulai pukul 17.00 waktu Turki. Sejak dibukanya stan pameran di luar ruang acara yang memamerkan alat musik, pernak-pernik hingga makanan khas Indonesia, stan kami dijejali pengunjung. Kepada mereka dipersilakan untuk mencicipi citarasa masakan Indonesia.

Di stan tersebut berdiri pula para panitia yang bertugas memberikan informasi terkait benda-benda yang dipamer plus makanan yang dihidangkan dipamerkan sebagai awal dari acara utama.

Acara utama dimulai pukul 18.00. Kurang lebih 1.000 pengunjung dan undangan menempati tempat duduk masing-masing. Hadir di antaranya Dubes Indonesia, Konsul Jenderal Republik Indonesia, Rektor Uludag University, staf kantor imigrasi, bahkan Wakil Wali Kota Bursa.

Acara diawali demham pembacaan ayat suci Alquran, diteruskan dengan lagu kebangsaan kedua negara. Selanjutnya, pergelaran seni berbagai etnik di Indonesia. Agenda terakhir acara ini adalah salah satu yang sangat ditunggu-tunggu pengunjung maupun undangan, karena ada pertunjukan tari saman. Bahkan para undangan yang sudah saya sebutkan tadi, terutama Pak Rektor yang dikenal sangat sibuk rela menunggu hingga akhir acara agar dapat menonton tari saman.

Pada awalnya panitia sempat dihantui kecemasan, karena bersamaan dengan dimulainya acara semua pengunjung dan panitia sempat dikagetkan dengan adanya berita ledakan bom di pusat Kota Bursa, tak jauh dari tempat acara berlangsung. Kejadian ini juga mengakibatkan para pengunjung panik. Sampai-sampai staf kantor imigrasi beserta pihak keamanan harus pamit lebih cepat menuju lokasi kejadian.

Keamanan di tempat acara kami pun ditingkatkan. Alhamdulillah, acara bisa berlangsung dengan aman hingga tarian saman yang memukai itu dipentaskan. Kebetulan saya syeh samannya dan menyaksikan bagaimana bergemuruhnya tepuk tangan penonton.

Setiap gerakan yang ditampilkan membuat penonton terperangah, bingung campur kagum, melihat betapa kompak, ritmis, tapi demikian dinamisnya tarian asal Aceh ini. Sempat terdengar suara pelan “Nasil yapiyorlar?” yang terjemahannya kira-kira “Bagaimana cara mereka melakukannya?”

Setelah acara, Rektor Uludag University Prof Dr Yusuf Ulcay berkata, “Jika sebagus ini acaranya, maka tahun depan apabila ada lagi agenda seperti ini Kampus Uludag University akan mendukung sepenuhnya.” Ia terseyum puas setelah melihat penampilan tim saman PPI Bursa.

Decak kagum para pengunjung setelah saman ditarikan mengindikasikan betapa budaya kita ini memesona dan bukanlah budaya kuno yang sudah usang. Tapi budaya yang patut dijaga dan dilestarikan untuk selanjutnya menjadi warisan dan identitas bagi anak cucu kita kelak. Dan pantaslah mengapa Unesco kemudian menetapkan tari asal Gayo Lues ini sebagai warisan budaya dunia kategori nonbenda, karena memang mampu “menyihir” penonton di mana pun ia ditarikan. Saleuem kamoe dari Bursa, Turki.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email [email protected] (uri/aufik/arahdiba/TF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id