Mahasiswa ‘Serbu’ PLN | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Mahasiswa ‘Serbu’ PLN

Foto Mahasiswa ‘Serbu’ PLN

* Paksa Harus Jumpa General Manager

BANDA ACEH – Puluhan mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, Universitas Malikussaleh (Unimal) Aceh Utara, dan Universitas Abulyatama Aceh Besar, berdemo di Kantor Wilayah Perusahaan Listrik Negara (Kanwil PLN) Aceh, Banda Aceh, Kamis (12/5). Massa menuntut PLN segera memperbaiki kondisi kelistrikan di Aceh yang belakangan ini semakin sering terjadi pemadaman.

Amatan Serambi, puluhan mahasiswa tiba di Kanwil PLN Aceh sekitar pukul 10.30 WIB. Namun, setelah satu jam lebih menunggu di pagar gedung dalam panas terik kemudian berubah gerimis, massa tidak mampu menahan diri. Mereka nekat melompati pagar gedung yang berada di Jalan Daud Beureueh itu dan berlarian masuk memenuhi lobi gedung. Target mereka untuk menjumpai General Manager (GM) PLN Aceh, Ir Bob Saril MEng MSc.

Saat berada di lobi Gedung PLN Aceh, massa dengan arahan para orator aksi yang menggunakan pengeras suara mencari ruangan GM PLN Aceh. Para mahasiswa berkeliling di lantai 1 gedung, bahkan sebagian pemuda menaiki tangga menuju lantai 2, namun dapat dicegah satpam PLN.

Situasi di gedung itu berubah menegangkan. Aksi saling dorong antara mahasiswa dan aparat keamanan tak terhindarkan. Sejumlah pegawai PLN hanya menonton pasrah aksi yang disertai teriakan massa itu.

Aksi nekat para agent of change selama dua jam itu bukan tidak beralasan. Massa yang sejak awal minta dipertemukan dengan “the big boss” PLN Aceh seakan dipersulit. Mereka minta Bob Saril, tapi yang datang adalah Pelaksana Tugas (Plt) Deputy Manager Pengendali Operasi PLN Aceh, Januar.

Selang beberapa menit kemudian, seorang pejabat PLN lainnya yang mengaku Pengendali Operasi Sistem Provinsi juga datang. Namun, belum sempat ia memberi keterangan, kehadirannya langsung ditolak mahasiswa.

Plt Deputy Manager Pengendali Operasi PLN Aceh, Januar sebelumnya sempat memberi keterangan tentang kondisi kelistrikan saat ini di Aceh. Menurutnya, pemadaman yang terjadi belakangan ini akibat defisit, disebabkan oleh pasokan gas yang gagal di PLTMG Arun.

“Sejak 7-10 Mei lalu terjadi gangguan suplai gas dari Pertamina yang gagal masuk ke pembangkit PLN di Arun. Namun, masalah itu teratasi pada Selasa (10/5) pukul 23.00 WIB, mesin Arun kembali masuk sistem,” kata Januar.

Ia juga menyebut saat ini supai daya dari Arun dan Nagan sudah mencukupi, yaitu 140 MW dari Arun, 60 MW dari Nagan 1, dan 30 MW dari Nagan 2.

Dia tambahkan, jika semua pembangkit PLN Aceh hidup, ada kelebihan daya 10 persen dari beban puncak. “Idealnya memang 30 persen dari beban puncak. Maka dari itu, kondisi 10 persen ini masih rawan jika ada pembangkit yang ke luar sistem. Kalau semua pembangkit sehat, maka tidak ada pemadaman listrik di Aceh,” terangnya.

Menurut Januar, PLN Aceh merencanakan penambahan pembangkit gas 250 MW di Lhokseumawe dalam waktu dua tahun ke depan. “Jangka panjangnya dibuat PLTU Nagan 3 dan 4 yang beroperasi pada 2020,” sebutnya.

Koordinator aksi dari Dewan Mahasiswa UIN Ar-Raniry, Misran, seusai aksi kepada Serambi mengatakan, pihaknya akan memantau perbaikan yang dilakukan PLN Aceh hingga 4 Juni 2016. Jika masih ada pemadaman listrik, katanya, maka massa yang lebih besar akan kembali datang menduduki Kanwil PLN Aceh.

Dia katakan, dirinya telah berupaya membendung massa agar tidak anarkis. Namun, karena massa merasa dipermainkan oleh karyawan PLN, sehingga aksi tersebut terjadi di luar kendali. “Dari awal kami minta GM PLN Aceh untuk jumpa kami, namun yang dikirim malah bawahannya, makanya banyak dari kami nekat menerobos Gedung PLN Aceh,” jelas Misran.

Orator lainnya, Said, mahasiswa UIN Ar-Raniry menyatakan, mahasiswa akan mengawal janji yang telah diucapkan GM PLN Aceh, Bob Saril. “Kami tidak mau dengar alasan tentang krisis-krisis yang sering diucapkan PLN di media. Masyarakat ingin beribadah dengan tenang selama bulan puasa nanti,” imbuhnya.

Sedangkan orator dari Unimal menyebut ada ketidakjujuran PLN yang kerap menyebut alasan-alasan teknis yang tidak dimengerti masyarakat. “Jalur kelistrikan kita saat ini hanya dari timur-utara Aceh. Padahal, dari FGD dan audiensi yang pernah kami ikuti, Aceh punya potensi mengembangkan jalur listrik hingga tiga jalur, yaitu timur-utara, tengah-tenggara, dan barat-selatan, namun baru bisa direalisasikan tahun 2020. Pertanyaannya, selama ini ngapain saja PLN Aceh?” gugat mahasiswa Unimal itu. (fit) (uri/ilati/sra/MU)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id