Betapa Bersihnya Jepang | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Betapa Bersihnya Jepang

Foto Betapa Bersihnya Jepang

OLEH LINARDIN, pemagang asal Aceh, Angkatan 260, melaporkan dari Nagoya, Japan

SETAHUN sudah saya tinggal di Jepang, magang di salah satu perusahaan. Desa tempat saya tinggal berada di Aichi Prefecture (Provinsi Aichi) yang ibu kotanya Nagoya.

Kali ini saya ingin melaporkan tentang kebersihan atau tepatnya tata kelola sampah di Jepang. Bicara tentang kebersihan lingkungan, memang sangatlah mudah, semudah membalikkan telapak tangan. Tapi mempraktikkannya itu yang terkadang susah, karena berkait erat dengan melawan rasa malas.

Ya, mulai dari rasa malas untuk melangkah mencari tempat sampah, malas untuk membawa plastik di dalam tas sebagai tong sampah sementara selagi dalam perjalanan, atau malas untuk menyimpan bungkus makanan ke dalam kantong baju, dan aneka rasa malas lainnya. Tapi segudang rasa malas itu bagai tidak berlaku di Jepang.

Warga Jepang sangat menghargai kebersihan sebagaimana yang diajarkan salah satu agama mayoritas di Jepang, yaitu Shinto. Ajaran Shinto beranggapan bahwa kebersihan adalah cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan, sehingga mereka yang menganut agama ini berlomba-lomba menjaga kebersihan dan menjadikan hal itu sebagai budaya untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Negeri Matahari Terbit ini terkenal dengan budaya bersihnya dan taat aturan. Sampah sekecil apa pun pasti akan dibuang warga Jepang pada tempatnya.

Pertama kali datang ke Jepang, hal yang mungkin akan membuat kita kaget adalah cara pengelolaan sampahnya. Tidak hanya sampah basah dan kering atau organik dan nonorganik yang dibedakan di sini, tetapi banyak sekali pembedaan sampah dan kita harus membuangnya di tempat yang sesuai.

Di sekolah Jepang, anak-anak bahkan para guru pun bersama-sama wajib melakukan kegiatan bersih-bersih. Di dalam lembaran mata pelajaran anak-anak ada jam bersih-bersih yang disebut seisou. Kegiatan ini dilakukan setelah jam makan siang, lalu istirahat sebentar kira-kira 20 menit, kemudian dilanjutkan dengan acara bersih-bersih bersama.

Waktu bersih-bersihnya pun hanya 20 menit saja. Yang dibersihkan di sekolah tentunya toilet, ruang kelas, ruang guru, tangga sekolah, pintu masuk, koridor sekolah, tempat cuci tangan, meja, kursi, dan lainnya.

Kebetulan, saat ini di Jepang sedang musim semi, saat bunga sakura bermekaran dan menghiasi sudut kota yang dipenuhi warna putih. Nah, pada saat hanami (pesta piknik untuk melihat bunga sakura bermekaran), misalnya, acara piknik bersama keluarga ini sudah pasti meninggalkan sampah makanan ataupun minuman yang cukup banyak. Akan tetapi, setiap keluarga Jepang yang piknik sengaja menyiapkan kantong sampah dari rumah untuk menampung sampah-sampah mereka. Kemudian, kantong berisi sampah tersebut dibawa pulang ke rumah jika di dekat mereka tak ada tong sampah.

Di tempat saya tinggal, misalnya, meski di pedesaan, tapi telah ditetapkan hari dan bentuk sampah yang harus dibuang sesuai jadwal pembuangan sampah setiap minggunya. Umpama, di beberapa tempat di Jepang, sampah rumah tangga dibuang tiga kali dalam seminggu (Selasa, Kamis, dan Sabtu). Senin adalah hari untuk membuang sampah-sampah kertas. Rabu adalah momen untuk membuang sampah-sampah botol plastik, kaleng, dan botol-botol kaca yang masing-masing dikelompokkan berdasarkan jenisnya.

Di setiap sudut jalan juga terdapat tong sampah yang bersih, setiap harinya diangkut oleh mobil pengangkut sampah dan digiling langsung di tempat. Di tong sampahnya juga dituliskan nama sampah yang akan dibuang, seperti botol plastik dan botol kaleng, juga kaca. Masing-masing punya tong sampah yang berbeda.

Di setiap daerah juga berbeda label kantong plastik untuk mengisi sampah. Misalnya, saya tinggal di Kecamatan Inuyama, berarti di kantongnya bertuliskan Inuyama, demikian pula di kecamatan yang lain. Dengan cara inilah mereka mengidentifikasi sampah yang di dalam kantong plastik itu berasal dari mana. Jadi, kalau jatuh atau tercecer di jalan, langsung ketahuan armada mana yang membawanya ke tempat pembuangan akhir.

Oh, betapa rapinya sistem pengelolaan sampah di Negeri Sakura ini dan betapa bersihnya kota-kota di Jepang. Aceh yang bersyariat Islam, di mana ada klaim bahwa kebersihan itu adalah sebagian daripada iman, seharusnya bisa lebih bersih daripada Jepang. Semoga.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email [email protected] (uri/inaldy/eryance/RG)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id