Pemadaman Listrik Semakin Parah | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Pemadaman Listrik Semakin Parah

Foto Pemadaman Listrik Semakin Parah

MEULABOH-Pemadaman listrik di Aceh Barat semakin parah. Pemadaman terjadi hampir setiap malam dalam sebulan terakhir, sehingga masyarakat pelanggan sangat dirugikan.

Selain Aceh Barat, listrik padam juga dialami masyarakat di Nagan Raya dan Aceh Jaya. Ketiga kabupaten tersebut merupakan wilayah kerja PLN Area Meulaboh.

Ketua DPRK Aceh Barat, Ramli SE dan Ketua Komisi B DPRK, Masrizal SSi kepada Serambi, kemarin mengatakan, pemadaman listrik sudah sangat semakin tidak menentu di Aceh Barat. “Kami melihat kondisi seperti ini, tapi PLN hanya pasrah saja,” kata Masrizal.

Masrizal meminta PLN Area Meulaboh, jika tidak mampu menanganinya, maka segera disampaikan ke PLN Aceh untuk dicari solusi. Termasuk minta bantuan ke PLN pusat, sehingga krisis listrik di Aceh Barat dan kabupaten sekitar tidak semakin parah. Pasalnya, banyak alat elektronik pelanggan menjadi rusak dan ekonomi masyarakat terganggu.

Ramli SE menambahkan, Pemkab perlu mengambil sikap tegas terhadap PLN, yakni kalau kondisi listrik terus padam, maka segera hentikan pembayaran biaya rekening listrik warga miskin.

Sat ini, katanya, Pemkab telah mematikan lampu penerang jalan untuk sementara waktu karena krisis listrik. “DPRK sudah menjadwalkan segera memanggil PLN. Kita akan tanyakan kenapa krisis listrik makin parah,” ujar Ramli SE, ketua DPRK Aceh Barat.

Sementara itu, bentuk kekecewaan terhadap PLN karena listrik padam setiap malam, mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Meulaboh, sudah beberapa hari terakhir mengalang uang koin untuk disumbangkan kepada PLN. Penggalangan awalnya di Bundaran Pelor atau depan gedung DPRK.

Namun, kini sudah dihentikan dan dilanjutkan penggalangan koin ke toko-toko. “Uang koin yang sudah terkumpul Rp 200 ribu lebih. Uang koin ini akan kami serahkan ke PLN,” kata Deni, koordinator mahasiswa penggalangan koin.

Ia mengaku, persoalan krisis listrik di Aceh Barat dan kabupaten sekitar sudah berlangsung sejak awal 2016, dan masih saja terjadi. Sejauh ini, PLN terkesan kurang melakukan terobosan, sehingga dampak pemadaman justru masyarakat yang dirugikan.

Saat ini banyak anak-anak tidak bisa belajar pada malam hari, karena listrik padam dan ekonomi masyarakat rugi. “Padahal, di daerah kita sudah memiliki PLTU, tetapi kenapa masih saja padam,” ungkap Deni.

Manager PLN Area Meulaboh, Saslizar yang ditanyai kemarin mengatakan, saat ini terjadi gangguan di PLTU Mifa yang biasanya menyuplai 10 MW. Akibatnya, tidak mencukupi arus pada beban puncak, maka dilakukan pemadaman bergilir bersifat sementara dari pukul 19.00-23.00 WIB.

Suplai arus dari PLTU tersebut dijadwalkan baru kembali normal pada 15 Mei 2016, dan diharapkan pemadaman bergilir untuk tiga kabupaten, yakni Aceh Barat, Aceh Jaya, dan Nagan Raya dapat segera teratasi. “Selain daya defisit dari PLTU Mifa, tadi pagi (kemarin -red) juga terjadi gangguan kabel bawah tanah di Suak Puntong,” kata Saslizar.

Ia menambahkan, kebutuhan daya listrik tiga kabupaten mencapai 45 MW yang bersumber dari PLTU Media Grop 10 MW, PLTD Seuneubok 10 MW, dan jaringan Sumbagut (PLTU Suak Puntong Nagan Raya) 25 MW.

Namun, bila satu saja mengalami gangguan atau pemeliharaan, maka dipastikan terjadi defisit arus/daya. “Saat ini PLN terus memacu Gardu Induk (GI) Seuneubok sehingga dengan berfungsi gardu induk mendapat tambahan suplai arus dari jaringan Sumbagut,” katanya.(riz) (uri/ilviana/ebriyani/SF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id