Ikan Melimpah Nelayan Susah | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Ikan Melimpah Nelayan Susah

Foto Ikan Melimpah Nelayan Susah

IKAN hasil tangkapan nelayan melimpah di Aceh akhir-akhir ini. Namun, banyaknya hasil tangkapan tidak berbanding lurus dengan tingkat penghasilan nelayan. Di sejumlah pelabuhan, nelayan membuang sebagian ikan hasil melaut, termasuk di pelabuhan Lampulo, sebuah pelabuhan yang telah ditabalkan kata ‘internasional’ oleh pemerintah Aceh. Setidaknya, tiga ratusan miliar rupiah telah dihabiskan untuk menginternasionalkan pelabuhan ini, namun belum mampu mendongkrak pendapatan nelayan. Apa sebetulnya masalah yang dihadapi nelayan? Serambi merangkumnya untuk liputan eksklusif berikut ini.

Gubernur Aceh, Zaini Abdullah menegaskan berulangkali bahwa Lampulo hendak dijadikannya sebagai pelabuhan samudera internasional. Entah sudah berapa kali orang nomor satu Aceh itu mampir meninjau Pelabuhan Lampulo. Hampir setiap tahun juga APBA dialokasikan ke kawasan itu, entah untuk membebaskan lahan hingga pembuatan jalan beraspal. Dana APBN ratusan miliar juga telah dialokasikan untuk pembangunan berbagai fasilitas pelabuhan. Namun, nasib nelayan di kawasan itu—juga di seluruh Aceh-tak kunjung berubah.

Sekretaris Panglima Laot Lhok Krueng Aceh, Irvan mengakui tangkapan nelayan dalam enam bulan terakhir naik dua kali lipat dibandingkan periode sebelumnya. Namun, kata Irvan, kenaikan tersebut tidak punya pengaruh signifikan terhadap pendapatan nelayan. “Alhamdulillah,ikan banyak didapat, khususnya setelah tidak ada lagi kapal asing, namun penghasilan nelayan tidak berubah signifikan,” kata Irvan kepada Serambi, pekan lalu.

Selain kebijakan Kementerian Perikanan dan Kelautan yang memberantas illegal fishing oleh kapal asing, kata Irvan, kenaikan jumlah tangkapan juga lantaran banyaknya persebaran rumpon (rumah ikan) di sejumlah kawasan.

Namun, ikan yang melimpah itu belum meningkatkan pendapatan nelayan. Mereka justru menjadi bingung ketika ikan melimpah. Harganya anjlok. Sebagian dibuang karena membusuk. Sementara pabrik tepung ikan yang sudah berdiri di kawasan Lampulo belum beroperasi. Cold storage milik Pemko Banda Aceh belum bisa menyimpan ikan nelayan. “Belum ada yang mengelola cold storage, harus ditender dulu,” kata seorang pejabat di Dinas Kelautan, Perikanan, dan Pertanian Kota Banda Aceh, pekan lalu.

Selama ini stok es yang dibawa ketika melaut sangat sedikit termuat, apalagi untuk boat yang berukuran kecil. Akibatnya, sebagian ikan membusuk di tengah laut, sebelum sempat dibawa pulang. “Masalahnya, nelayan kita tidak punya kapal yang punya cold storage di dalamnya seperti nelayan di Thailand. Kalau ada cold storage, bisa tahan berbulan-bulan,” kata Irvan.

Kepala UPTD Pelabuhan Perikan Samudera (PPS) Lampulo, Ir Aliman MSi yang dikonfirmasi Serambi, Kamis (5/5) mengakui, terbatasnya sarana dan prasarana yang tersedia menjadi salah satu penyebab ikan membusuk. “Sayang, ratusan kapal nelayan yang beroperasi dan bersandar di Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo belum memilki teknologi memadai. Kondisi ini menyebabkan kualitas ikan tangkapan nelayan Aceh kurang baik, dan sulit bersaing dengan produksi ikan tangkapan nelayan Sumatera Utara dan Pulau Jawa. Padahal, secara geografis, mutu ikan Aceh jauh lebih baik di antara ikan perairan lainnya di Nusantara,” kata Aliman.

Masalah lainnya, tidak semua nelayan paham cara penanganan ikan pasca-penangkapan. Mereka tidak paham bahwa penanganan ikan segar merupakan salah satu mata rantai terpenting di dunia perikanan. Kecepatan pembusukan ikan setelah penangkapan sangat dipengaruhi oleh teknik penangkapan, teknik penanganan, dan penyimpanan di atas kapal. “Kadang-kadang, nelayan kita menggabungkan ikan yang kotor berdarah-darah dengan yang bagus. Ini tidak boleh, mempercepat pembusukan yang lain,” kata Dr Herman Maulana, ahli biokimia yang juga Ketua Lembaga Penelitian Tropical Agricultural Center, Bogor, dalam diskusi dengan Serambi, pekan lalu.

Ahli biokimia itu mengingatkan, produk perikanan punya sifat mudah rusak. Setelah mati, tubuh ikan sangat cepat mengalami perubahan, baik fisik maupun kimia.

Lantaran bingung, kata Herman, sebagian nelayan memilih menggunakan pengawet mayat agar ikan bisa bertahan lama. Sebagiannya lagi terpaksa membuang. “Mereka akhirnya lari ke formalin. Ini sangat berbahaya,” kata dia. Di dunia industri, formalin digunakan sebagai bahan perekat untuk kayu lapis, desinfektan untuk peralatan rumah sakit, serta untuk mengawetkan mayat.(sak/awi) (uri/inaldy/eryance/RG)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id