Yang Paling Penting Harus Ada Cold Storage di Kapal | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Yang Paling Penting Harus Ada Cold Storage di Kapal

  • Reporter:
  • Senin, Mei 9, 2016
Foto Yang Paling Penting Harus Ada Cold Storage di Kapal

Pakar Biokimia dari Tropical Agricultural Center, Bogor, Dr Herman Maulana mengatakan, adanya cold storage di pelabuhan bukanlah solusi terbaik untuk mempertahankan kesegaran ikan dan mempertahankan nilai jual. “Masalahnya, sejak di laut ikan sudah membusuk. Sehingga lebih efisien kapal penangkap dilengkapi dengan pendingin. Ini memang solusi untuk jangka panjang,” kata Herman yang selama ini menjadi konsultan di berbagai industri perikanan di Tanah Air.

Kata Herman, seharusnya ikan dimasukkan dalam pendingin dalam keadaan hidup-hidup. Pendingin dengan suhu minus 32-40 derajat Celcius mampu mempertahankan kesegaran ikan hingga setahun lamanya, seperti dilakukan kapal-kapal ikan di luar negeri. Jika ikan dimasukkan ke dalam pendingin ketika sudah mati, maka kualitas grade-nya berbeda. “Apalagi jika cold storage di darat, akan sangat berbeda kualitas ikannya,” tandas Herman. Mestinya, kata dia, sebuah kapal yang berlayar melebihi 24 jam harus memiliki pendingin. Namun diakuinya, tidak mudah melengkapi dengan peralatan paling vital bagi kapal penangkap ikan ini. “Kalau di kawasan lain sudah ada kapal yang punya cold storage, meskipun belum banyak. tapi, kalau di Aceh saya tidak tahu,” tutur Herman.

Jika misalnya pemerintah membuat pabrik es, itu juga bukan merupakan solusi terbaik. Soalnya, semakin banyak es yang dibawa nelayan ke tengah laut, akan semakin banyak pula bahan bakar yang dihabiskan. Apalagi sebagian boat nelayan di Aceh berukuran kecil.

Selama ini, kata Herman, banyak yang menyarankan agar ikan-ikan yang di-reject diolah menjadi tepung ikan. Namun, kata dia, jumlah ikan di Lampulo belum memenuhi syarat untuk pendirian pabrik tepung ikan dalam skala industri sebagai animal food. Selain itu, pemasaran pakan ternak pun di Aceh tidak mudah, mengingat belum ada peternakan besar yang terintegrasi, seperti halnya di Pulau Jawa. Herman menyarankan agar adanya industri yang menghasilkan suplemen untuk tanaman pangan. Bahan bakunya, ya dari ikan yang di-reject itu yang disebutnya extract fish.

Pemasaran untuk produk semacam ini dinilainya lebih mudah, apalagi jika Pemerintah Aceh ikut mendukungnya. “Jadi, kita harus mengolah menjadi produk yang bernilai lebih tinggi. Namun, harus ada keberpihakan pemerintah juga agar industri semacam ini bisa tumbuh,” kata Herman.(sak) (uri/hon//JK)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id