Antara Kakao Aceh dan Cokelat Malaysia | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Antara Kakao Aceh dan Cokelat Malaysia

Foto Antara Kakao Aceh dan Cokelat Malaysia

OLEH BASRI A BAKAR, Kepala Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh, melaporkan dari Kuala Lumpur

DALAM kunjungan saya kali ini ke Malaysia ada hal yang membuat saya tergelitik. Bukan Menara Kembar atau kemegahan Petronas dan Putra Jaya, tapi justru soal kakao atau cokelat. Petani kita di Aceh lelah menanam dan merawat tanaman kakao, sedangkan industri Malaysia berhasil mengolahnya menjadi produk olahan cokelat.

Saya bersama beberapa pengurus Forum Kakao Aceh (FKA) sempat mampir di sejumlah gerai penjualan penganan olahan cokelat di Kuala Lumpur yang ramai pengunjungnya. Saya bertanya, bagaimana Malaysia mampu menjadi negara pengolah biji kakao terkenal.

Kami juga mengunjungi pabrik pengolahan cokelat terbesar di wilayah Port Klang, satu jam perjalanan dari Kuala Lumpur. Kami diterima seorang manajer pabrik pengolah biji kakao “Barry Callebaut” dengan aturan yang sangat ketat. Misalnya, tak boleh memotret dan menyentuh peralatan atau mesin, bahkan harus dilepas aksesori yang kita pakai sehari-hari sebelum diizinkan masuk melihat ke berbagai ruangan.

Pabrik ini memproduksi powder dan cokelat yang diolah lebih lanjut untuk berbagai penganan. Dibangun sepuluh tahun lalu di area seluas 5 hektare (ha), pabrik ini mempekerjakan sekitar 200 karyawan profesional. Mereka mengimpor biji kakao sebagian besar dari Pantai Gading dan Ghana, Afrika, selebihnya dari Indonesia dengan total kebutuhan 3.000-5.000 ton tiap bulan.

Perasaan saya lebih pilu lagi saat melihat serombongan pelancong, boleh jadi petani kakao di beberapa kabupaten penghasil biji kakao di Aceh, berebut membeli penganan olahan cokelat. Biasanya salah satu oleh-oleh yang dibawa warga Aceh dari Malaysia untuk keluarga dan kerabatnya adalah aneka olahan cokelat meski harganya relatif mahal. Padahal, produk tersebut berbahan baku biji kakao asal Indonesia, termasuk dari Aceh yang dijual petani rata-rata Rp 35.000/kg.

Penguasaan teknologi pascapanen dan pengolahan hasil oleh negara-negara maju, termasuk Malaysia, boleh jadi bisa mendatangkan keuntungan 20 kali lipat. Malaysia tak punya lahan kakao seluas Aceh. Namun, mereka menguasai teknologi hilir yang memberikan nilai tambah besar. Tak heran di berbagai sudut Kuala Lumpur terdapat toko yang menjual aneka cokelat dengan modifikasi warna dan aroma beragam, mencapai 100 jenis produk. Bahkan di Bandara KLIA pun banyak diperjualbelikan cokelat olahan yang harganya selangit.

Pada tahun 2014, luas areal kakao Malaysia tercatat hanya 16.102 ha mencakup Sabah, Serawak, dan Semenanjung Malaysia, turun drastis dibanding tahun 1980 yang mencapai 123.855 ha dan pernah mencapai luas terbesar tahun 1989 yakni 414.236 ha. Sementara menurut Statistika Perkebunan Indonesia, luas areal kakao di Aceh tahun 2013 tercatat 102.034 ha, terluas di Aceh Tenggara (19.994 ha) disusul Pidie Jaya (13.404 ha), Aceh Timur (12.484 ha), dan Pidie 10.150 ha. Sedangkan Indonesia produsen kakao terbesar ketiga dunia setelah Pantai Gading dan Ghana dengan luas lahan 1.677.254 ha, tersebar di Sulawesi (58,9%), Sumatera (22,5%), Maluku+Papua (6,4%), Jawa (5,5%), Nusa Tenggara dan Bali (4%), serta Kalimantan (2,5%). Aceh berkontribusi 4,8% secara nasional dan 18,6% untuk wilayah Sumatera.

Forum Kakao Aceh (FKA) yang dibentuk sepuluh tahun lalu memang punya komitmen menjadikan Aceh sebagai penghasil kakao terbesar dengan kualitas terbaik di Sumatera pada tahun 2020. Lembaga ini juga mengajak berbagai pihak mengangkat martabat petani kakao untuk meningkatkan produksi, mutu, dan nilai tambah.

Ketua Umum FKA, Drs Hasanuddin Darjo MM gencar menyuarakan agar kakao Aceh bisa bangkit dan diperhitungkan, termasuk menstimulir lahirnya industri kakao di Aceh. Saat ini petani mulai bersemangat menanam kakao karena selain tak membutuhkan perawatan yang rumit, tanaman ini berbuah pada umur dua tahun setelah ditanam.

Darjo sering mengatakan, di batang kakao seakan menggelantung uang rupiah yang setiap saat bisa dinikmati petani. Hanya saja selama ini petani kita menjual dalam bentuk biji ke Sumatera Utara yang kadang harganya dipermainkan pihak-pihak tertentu. Anehnya, pabrik-pabrik cokelat di Malaysia umumnya menyebut bahwa biji kakao yang mereka olah berasal dari Medan, padahal kebanyakan dari Aceh.

Dari segi teknologi budidaya pun kakao hampir tak bermasalah kecuali akhir-akhir ini ada serangan penyakit busuk buah dan jamur. Tapi, bila petani rajin merawat kebun disertai pemupukan berimbang dan pengendalian rutin, penyakit tersebut biasanya dapat diminimalisir.

Kita memang belum mampu menyaingi Malaysia atau Singapura dalam pengolahan kakao menjadi cokelat secara modern. Namun, tak tertutup kemungkinan Aceh perlu membangun industri rumah tangga (home industry) seperti Socolatte yang dirintis pengusaha Irwan Ibrahim di Desa Baroh Musa, Pidie Jaya. Ke depan, paling tidak Aceh tidak lagi menjual sebagian besar biji kakao ke Sumut dengan harga murah, tapi harus diolah lebih dulu dalam bentuk powder yang mempunyai nilai tambah. Peluang ini cukup menjanjikan, apalagi Aceh punya lahan kakao 100.000 ha lebih. Bila 70.000 ha saja memproduksi biji kakao rata-rata 600 kg/ha, maka tiap tahun Aceh memproduksi 42.000 ton biji kakao. Tinggal lagi nawaitu kita semua, terutama Pemerintah Aceh, untuk mewujudkannya jadi kenyataan.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email [email protected] (uri/leny/andraini/GC)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id