Wakil Mualem Tergantung Sikap Parnas | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Wakil Mualem Tergantung Sikap Parnas

Foto Wakil Mualem Tergantung Sikap Parnas

* Sebut Hanya Golkar yang tak Mendukung

SUKA MAKMUE – Bakal calon gubernur Aceh dari Partai Aceh, Muzakir Manaf, mengaku belum bisa memastikan siapa bakal calon wakil yang akan mendampinginya dalam Pilkada 2017 nanti.

Meski demikian, dia masih berharap calon wakilnya nanti berasal dari partai nasional (parnas). Namun itu belum final dan masih bisa berubah, sebab tergantung bagaimana komitmen parnas dalam mendukung dirinya maju pilkada nanti.

Demikian disampaikan Muzakir Manaf kepada wartawan seusai melakukan pertemuan silaturrahmi dengan sejumlah simpatisan dan tim sukses se pantai barat selatan Aceh yang berlangsung di Padang Rubek, Kecamatan Kuala Pesisir, Nagan Raya, Sabtu (7/5).

“Kalau mereka (parnas) komit mendukung kita, maka calon wakil tetap dari parnas. Namun kalau mereka tidak komit, maka calon wakil bisa saja berubah,” tegas Ketua Umum Dewan Pimpinan Aceh Partai Aceh (DPW-PA) yang akrab disapa Mualem ini.

Namun sejauh ini, dia menilai dukungan dari parnas terhadap dirinya masih cukup kuat, kecuali dari Partai Golkar yang memang telah memutuskan akan mengusung calon sendiri. Menurut Mualem, Partai Aceh itu ibarat seorang gadis cantik, dan karena kecantikannya itu maka banyak pria yang berminat meminangnya.

“Sekarang semua parnas (yang memiliki kursi di DPRA) telah resmi mengusung dan mendukung kita, kecuali Partai Golkar yang memang mengusung calon sendiri,” klaim mantan Panglima GAM ini.

Selain dukungan dari Parnas, Mualem juga mengaku telah berhasil meraih berbagai dukungan dari semua pihak, baik dari dalam maupun dari luar Aceh. Oleh sebab itu, ia sangat optimis Partai Aceh akan menang dalam pilkada nanti, dengan target meraih 55 persen suara.

Ia juga menargetkan kemenangan calon bupati/wali kota yang diusung dan didukung Partai Aceh di 20 kabupaten/kota. “Kalau selama ini kita berhasil meraih kursi bupati di 12 kabupaten/kota, ke depan kita targetkan 20 kabupaten/kota. Karena kalau semuanya itu tidak mungkin,” kata Mualem sambil tertawa.

Sementara itu pada sore kemarin, Ketua Gardu Mualem Aceh, H Rusydi, melantik pengurus Gardu Mualem se pantai barat selatan Aceh yang dipusatkan di Lapangan Bola Voli Padang Rubek, Kecamatan Kuala Pesisir, Nagan Raya. Acara itu dihadiri oleh Koordinator Wilayah Barat Selatan Aceh, Iwan DP.

Pengrus Gardu Mualem yang dilantik kemarin meliputi delapan kabupaten/kota, di antaranya terdiri dari Aceh Jaya, Aceh Barat, Nagan Raya, Simeulue, Abdya, Aceh Selatan, Subulussalam, hingga Kabupaten Aceh Singkil.

Wan DP dalam sambutannya mengatakan, dengan terbentuknya Gardu Mualem di delapan kabupaten/kota di Aceh, pihaknya optimis mampu memenangkan Pilkada di wilayah barat selatan Aceh. Apalagi selama ini mereka mengklaim telah memiliki basis suara.

Mualem juga menanggapi tentang adanya kandidat kepala daerah yang akan maju melalui jalur perseorangan/independen. Menurutnya, calon independen yang maju seharusnya tidak boleh terlalu banyak, cukup satu pasangan saja.

Karena itu, Mualem menyatakan setuju apabila syarat calon independen di Aceh diperketat. “Kita berharap syarat bagi calon independen diperketat, jangan asal naik, karena hal itu akan merugikan masyarakat,” tegas Ketua Umum Dewan DPW-PA ini.

Meski demikian, pihaknya mengaku akan tetap mengikuti aturan dari Pemerintah Pusat tentang pelaksanaan Pilkada di Aceh, dengan tetap memberikan sejumlah masukan, khususnya terkait dengan syarat calon independen.

Seperti diketahui, Badan Legislasi DPRA bersama eksekutif saat ini sedang menggodok Qanun Pilkada, yang salah satu isinya mengatur soal syarat pengajuan bakal calon kepala daerah untuk jalur perseorangan/independen.

Namun pembahasan menjadi mandeg, karena tim dari eksekutif ingin agar pasal yang mengatur tentang syarat bakal calon independen dibahas ulang. Sementara di lain pihak, tim dari Banleg DPRA menganggap pembahasan pada pasal tersebut sudah selesai.

Dalam pasal dimaksud disebutkan bahwa syarat pernyataan dukungan harus ditandatangani atau dibubuhi cap jempol, dibuat secara individu, dilengkapi materai, dan mengetahui keuchik setempat. Daftar nama pendukung itu kemudian ditempelkan di kantor keuchik atau meunasah gampong.(edi) (uri/leny/andraini/GC)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id