Anggota Din Minimi Pertanyakan Amnesti | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Anggota Din Minimi Pertanyakan Amnesti

Foto Anggota Din Minimi Pertanyakan Amnesti

LHOKSUKON – Sejumlah anggota Nurdin Ismail alias Din Minimi (43) yang sedang menjalani hukuman di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Cabang Lhoksukon, Aceh Utara, mempertanyakan proses amnesti (pengampunan) yang dijanjikan pemerintah pusat kepada mereka. Soalnya, sampai sekarang belum ada kabar konkret tentang proses amnesti yang terkesan mengambang itu.

Untuk diketahui, Din Minimi bersama anggotanya pada 28 Desember 2015 menyerahkan diri kepada Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Sutiyoso, setelah setahun lebih naik gunung dan beraksi menggunakan senjata api (api).

Saat menyerah, Din Minimi cs juga menyerahkan 15 pucuk senjata api (senpi). Terdiri atas jenis AK-47 sebanyak 13 pucuk, jenis SS1 sepucuk, dan pistol FN sepucuk. Termasuk tabung pelontar dan amunisi.

Tapi setelah empat bulan berlalu, tak terdengar lagi reaksi atau sikap konkret pemerintah pusat terkait wacana amnesti untuk Din Minimi dan anggotanya. “Karena itu, kami berharap kepada pemerintah pusat agar segera mempercepat proses amnesti, sehingga mereka yang masih dalam penjara dapat segera kembali ke keluarga mereka,” kata Faisal alias Komeng (37), anggota Din Minimi asal Desa Seuneubok Aceh, Kecamatan Paya Bakong, Aceh Utara, kepada Serambi, Senin (2/5).

Pria tersebut ditangkap seusai dilumpuhkan tim Polda Aceh pada 11 Juli 2015 di rumahnya, karena berusaha kabur ketika hendak disergap petugas. Pria itu kemudian divonis lima tahun penjara pada 7 Maret 2016 oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Lhoksukon.

Menurut Komeng, karena sebagian besar anggota Din Minimi tertangkap polisi, sekarang mereka menjalani hukuman di sejumlah tempat terpisah. Misalnya di Rutan Lhoksukon, Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Lhokseumawe, di Bireuen, dan di Idi, Aceh Timur. Namun, yang tidak sempat tertangkap saat itu sekarang justru sudah berkumpul dengan keluarga mereka. “Untuk itu kami berharap agar proses amnesti segera dipercepat supaya semua anggota Din Minimi diperlakukan adil, sama rasa,” harap Komeng.

Hal serupa juga disampaikan Mansurdin alias Doyok (36), warga Desa Sidomulyo, Kecamatan Kuta Makmur, Aceh Utara. Doyok divonis lima tahun penjara karena terlibat dalam kasus penculikan Maulidin alias Makwo (25), agen mobil asal Desa Geulumpang Sulu Barat, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara, pada 2 November 2015.

Anak buah Din Minimi lainnya, Jalfanir alias Tgk Plang (44), asal Aceh Besar yang divonis lima tahun penjara juga mempertanyakan perihal amnesti tersebut. (jaf) (uri/wi/ovi/ovianti/DNN)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id