Penanganan Sampah belum Tuntas | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Penanganan Sampah belum Tuntas

Foto Penanganan Sampah belum Tuntas

TAKENGON – Masalah penanganan sampah yang sempat menjadi sorotan publik di kota dingin Takengon belum juga tuntas sampai kemarin, walau Bupati Nasaruddin telah menggelar pertemuan dengan tokoh masyarakat. Sehingga,

petugas dari Badan Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Pertamanan Aceh Tengah bekerja ekstra keras hingga larut malam.

Terhambatnya akses menuju TPA Uwer Tetemi di kecamatan Silih Nara membuat petugas kewalahan, karena selama beberapa hari tidak bisa mengangkut sampah, sehingga dibiarkan menumpuk di sejumlah sudut kota. Seperti yang terlihat pada Jumat (29/4) di jalan Sengeda tampak sejumlah petugas kebersihan mengangkut sampah dari bak penampungan ke dalam truk dengan bantuan excavator.

Saat jarum jam menunjukkan waktu pukul 11.55 WIB, para petugas seakan-akan tidak menghiraukan dinginnya udara kota Takengon. Berdasarkan AccuWeather pada perangkat berbasis Android, saat itu suhu berada pada kisaran 16°C dengan kelembaban 91% dan kecepatan angin mencapai 2,4 km/jam.

Salah seorang pedagang yang kebetulan melintas tampak menutup hidung lantaran sampah yang membusuk mengeluarkan bau menyengat. Padahal, petugas Dinas Kesehatan telah menyemprotkan cairan disinfektan. Tidak tertutup kemungkinan pada titik lain, dimana bak sampah tersedia, petugas melakukan upaya yang sama, yaitu mengangkut sampah ke dalam truk.

Seperti diberitakan sebelumnya, masyarakat Kampung Mulie Jadi dan Genting Gerbang yang berjarak hanya beberapa kilometer dari TPA Uwer Tetemi menutup akses jalan menuju TPA sehingga tidak dapat dilalui truk pengangkut sampah.

Unsur pimpinan daerah Aceh Tengah dibantu unit kerja terkait telah berupaya meyakinkan warga disekitar TPA dengan melakukan dialog. Namun masyarakat kampung Mulie Jadi tetap keberatan dengan alasan keberadaan TPA yang menggantikan Bur Lintang itu telah mencemari lingkungan tempat tinggal mereka.

Walaupun, saat ini standar pemrosesan sampah telah dilakukan sesuai kesepakatan dengan perwakilan masyarakat yakni Reje di dua kampung itu, namun warga tetap menolak tanpa alasan yang jelas. Warga sempat beralasan telah menyebabkan gangguan lingkungan, termasuk banyaknya lalat sejak dibukanya TPA Uwer Tetemi.

“Laporan warga, sejak difungsikan TPA banyak lalat di rumah-rumah warga, tetapi ketika kita turunkan tim dengan menyebar kertas lalat, justru laporan warga itu tidak terbukti,” kata salah seorang tim dari BLHKP Aceh Tengah, Zulfan Diara Gayo.(my) (uri/aradhia/ayanti/FD)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id