Dari Caci Maki Hingga Lemparan Batu | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Dari Caci Maki Hingga Lemparan Batu

Foto Dari Caci Maki Hingga Lemparan Batu

WALAU sedang tertidur lelap di tengah dingin malam, ketika alarm panggilan tugas berbunyi, dalam hitungan menit harus sudah berpakaian lengkap naik di atas mobil bercat merah dengan serine meraung-raung. Sesaat kemudian dengan kecepatan tinggi melesat menuju lokasi kebakaran.

Rutinitas seperti itulah yang dilakoni personel pemadam kebakaran di berbagai kabupaten/kota di Aceh. Meski tugas mereka harus bertaruh nyawa, namun tak jarang harus menerima balasan berupa caci maki bahkan lemparan batu.

Sisi duka personel pemadam kebakaran, di antaranya dikisahkan oleh Akmal, petugas pemadam kebakaran (damkar) Pos Singkil, Aceh Singkil.

Menurut Akmal, selama 12 tahun menjalani tugas sebagai awak pemadam di bawah BPBD Aceh Singkil, banyak suka duka yang dirasakannya. “Tak jarang kami dicaci maki. Bahkan saya sempat terluka akibat lemparan batu,” ungkap Akmal.

Akmal mengaku harus mendapat perawatan medis ketika baru saja bergabung sebagai relawan damkar setamat SMA pada 2004. Namun ujian itu mampu dilewatinya, hingga dia diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS) melalui jalur honorer. “Kalau dukanya, ya  dimarahi. Baru gabung tiga hari pasca-lebaran, badan luka terkena lemparan batu saat bertugas memadamkan kebakaran,” kenang Akmal.

Saat menerima perlakuan tidak menyenangkan, Akmal memilih tetap menuntaskan kewajiban sesuai motto ‘pantang pulang sebelum padam’. Perlakuan itu dia anggap sebagai obat agar dirinya bisa lebih dewasa, tanpa harus menyimpan dendam. “Jika ditanya sukanya sulit saya menjawab. Bagaimana mau suka, yang ada kesedihan melihat warga tertimpa musibah seluruh hartanya hangus,” ujar pria berbadan bongsor itu.

 Warga belum paham
Kalak BPBD Aceh Singkil, Sulaiman mengakui banyak kendala bahkan benturan fisik yang dialami anggotanya saat bertugas di lapangan. “Kadang anak-anak setelah api padam balik mengejar cari oknum yang memukul. Tapi sebelum api berhasil dipadamkan, mereka tidak peduli, terus bekerja,” kata Sulaiman.

Menurut Sulaiman, perlakuan tidak menyenangkan terhadap petugas damkar di lapangan akibat warga belum paham akan peranan petugas damkar. “Petugas kami saat dikasih tahu inginnya detik itu juga sampai, tapi  itu tidak mungkin,” kata Sulaiman.

Dia mengatakan, menjadi petugas damkar bukan pekerjaan mudah. Mereka mempertaruhkan nyawa demi menjinakkan amukan si jago merah. Walau terkadang penghasilan diperoleh belum mampu menyejahterakan keluarga yang ditinggal di rumah.

Akmal dan tentu teman-temannya sesama relawan damkar berharap mereka diasuransikan. Paling tidak berjaga-jaga jika dalam bertugas terjadi sesuatu tak diinginkan, ada sedikit pelipur lara bagi keluarga  yang ditinggalkan. “Kami berharap diasuransikan. Mudah-mudahan harapan itu bisa terwujud,” ujar Akmal penuh harap.(de) (uri/omario/alah/RF)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id