Mayoritas Tenaga Bakti | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Mayoritas Tenaga Bakti

Foto Mayoritas Tenaga Bakti

PETUGAS pemadam kebakaran (damkar) yang kini tersebar di berbagai kabupaten/kota di Aceh mayritas masih berstatus tenaga bakti.

Data yang dihimpun Serambi, di Kabupaten Aceh Singkil, ada 124 tenaga damkar. Dari jumlah itu, baru 18 berstatus PNS. Setiap bulan petugas damkar yang berstatus tenaga bakti mendapat honor Rp 1 juta untuk sopir, sedangkan di luar itu Rp 800.000/bulan. Pendapatan lain diberikan hanya bila ada insiden, yakni Rp 75.000 plus uang poding per bulan antara Rp 125.000 sampai Rp 150.000. Kerja mereka tanpa jaminan asuransi.

Realita tersebut dipahami Kepala BPBD Aceh Singkil, Sulaiman. Mengasuransikan personel pemadam menjadi program utamanya sejak damkar bergabung dengan instansi yang dipimpinnya. Hanya saja, kata dia, anggaran belum tersedia untuk program asuransi bagi petugas damkar. “Rencana kami semua petugas damkar diasuransikan. Nanti pilihannya disesuaikan, bisa Rp 1 juta sebulan atau antara Rp 100 ribu sampai Rp 1 juta per bulan untuk biaya asuransinya,” kata Sulaiman kepada Serambi, Rabu 27 April 2016.

Petugas Damkar Aceh Singkil tersebar di tujuh pos yaitu Pos Damkar Singkil, Singkil Utara, Gunung Meriah, Simpang Kanan, Singkohor,  dan Pos Damkar Kota Baharu. Mereka didukung 12 unit mobil pemadam kebakaran. “Kondisi mobil pemadam dalam keadaan bagus, boleh dicek,” kata Sulaiman.

 Tanpa BPJS
Di Aceh Tamiang, sebanyak 21 tenaga pemadam kebakaran yang bernaung di bawah BPBD setempat masih berstatus tenaga bakti tanpa mendapat fasilitas BPJS Ketenagakerjaan.

Kabid Pencegahan Kesiapsiagaan dan Pemadam KebakaranBPBD Tamiang, Muhammad Husni kepada Serambi, Kamis (28/4) mengatakan, jumlah keseluruhan petugas pemadam kebakaran di Tamiang 56 orang. Dari jumlah itu, 35 orang berstatus tenaga kontrak, 15 orang tenaga bakti dan sisanya 21 orang pegawai negeri sipil (PNS).  

Saat ini yang menjadi kendala, 15 tenaga bakti tidak mendapat perlindungan BPJS, sementara untuk tenaga kontrak mendapat fasilitas itu. Kondisi ini sangat berbahaya jika terjadi kecelakaan seperti beberapa hari lalu. “Kecelakaan mobil pemadam kebakaran yang terbalik dan menewaskan satu orang, itu ada beberapa orang petugas,  dua di antaranya merupakan tenaga bakti,” ujar Husni.

 Fasilitas minim
Sedangkan di Langsa, tenaga kontrak untuk damkar mencapai 219 orang, yang terdiri Regu Damkar, regu TRC, dan Regu Bencana.

Menurut Kalak BPBD Langsa, Rinali Aulia SSTP MSP kepada Serambi, Kamis (28/4), selama ini mereka mendapat gaji Rp 1.200.000/bulan, tanpa uang poding.

Renaldi menambahkan, dari beban kerja yang ada, petugas damkar sangat layak mendapatkan uang poding. Selain itu, mereka juga tidak  ada asuransi jiwa.

Kendala lain yang dihadapi BPBD Langsa adalah biaya perawatan mobil yang hanya ada Rp 89.400.000 untuk satu tahun. Biaya perawatan ini bukan khusus untuk enam mobil damkar yang ada,  melainkan untuk 16 unit mobil lainnya di BPBD. Ini  juga termasuk untuk perawatan berapa unit kendaraan roda dua.

Menurut Rinaldi, akibat keterbatasan anggaran tiga mobil damkar itu belum bisa diperbaiki, dan sangat dikhawatirkan jika ada insiden besar kebakaran. “Selama tiga bulan terakhir ini memasuki bulan kemarau, di Langsa sudah ada kejadian kebakaran 25-30 kali, terutama kebakaran lahan. Selama ini uang taktis tak cukup, uang di kantong saya pribadi saya keluarkan untuk petugas khususnya buat minum saat mereka lelah bertugas,” demikian Rinaldi.(md/zb/de) (uri/ndra/ndrianto/IA)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id