Cara Warga Tarim Memuliakan Wanita | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Cara Warga Tarim Memuliakan Wanita

Foto Cara Warga Tarim Memuliakan Wanita

M AIDIL ADHAA, Mahasiswa Universitas Al-Ahgaff asal Pante
Garot, Pidie dan alumnus Ummul Ayman Samalanga, melaporkan dari Tarim, Yaman

AGAMA Islam merupakan agama rahmat bagi kaum wanita. Bicara tentang wanita tentu berbeda antara satu negara dengan lainnya. Kali ini, saya ingin berbagi pengalaman tentang wanita di Kota Tarim, tempat saat ini saya menuntut ilmu.  Di “Kota Alquran” ini, masyarakatnya sangat menjunjung tinggi martabat dan hak-hak kaum Hawa. Hal itu terlihat jelas dalam kehidupan sehari-hari.

Adat dan perilaku wanita Tarim tidak ke luar dari koridor ajaran Islam. Aktivitas sehari-hari mereka hanyalah berkutat dengan belajar-mengajar, berkhidmat, serta menunaikan hak-hak mereka sebagai ibu bagi anak-anak dan istri bagi suaminya.

Dalam hal pakaian, mereka mengenakan baju serbahitam (dikenal dengan sebutan baju baluthu) yang menutupi seluruh tubuh serta bercadar. Yang terlihat hanyalah mata dan dua telapak tangan. Meski demikian, mereka tidak akan ke luar rumah kecuali bersama mahram atau bersama dua/tiga perempuan yang lain.

Di bidang pendidikan, aktivitas persekolahan di Tarim tidak bercampur antara pria dengan perempuan. Sebut saja gedung SD, SMP, dan SMA kaum lelaki berada di arah selatan, sedangkan kaum perempuannya di arah utara kampus Universitas Al-Ahgaff. Berangkat sekolah pagi hari, mereka lebih memilih jalan yang tak dilalui pelajar lelaki. Bahkan mereka rela menunggu membiarkan kaum lelaki lewat lebih dulu. Fakta tersebut setiap hari saya saksikan ketika masih tinggal di luar Kampus Universitas Al-Ahgaff.

Begitu juga di pasar. Aktivitas jual beli didominasi oleh kaum lelaki. Saya tak pernah melihat seorang perempuan pun yang menjadi penjual barang dagangan di sini. Bahkan yang lebih uniknya, masyarakat Tarim mengkhususkan pasar bagi kaum perempuan, agar lebih leluasa bagi mereka ketika berbelanja kebutuhan khas wanita.

Pasar khusus perempuan yang saya maksud itu berada di arah utara pemakaman Zanbal (pemakaman khusus bagi Saadah ‘Alawiyyin dan tempat dikuburkannya ribuan aulia Allah). Untuk keperluan memasak sehari-hari di rumah, perempuan Tarim tidak perlu repot ke pasar membeli kebutuhan dimaksud. Semua kebutuhannya menjadi tanggung jawab suami/anak yang laki-laki. Bahkan secara umum, segala aktivitas di luar rumah menjadi tanggung jawab kaum lelaki, sedangkan mereka bertindak sebagai “menteri” di dalam rumah.

Dinamika sosial sesama kaum perempuan menjadi lebih erat dengan adanya aktivitas keagaman bersama seperti pembacaan selawat Burdah, hadhrah Basaudan, jalsah pada hari Senin, zikir jamaah, serta pengajian mingguan yang berlangsung di Buyut Harah (tempat perkumpulan khusus perempuan).

Memang nyata, warga Tarim sangat menjunjung tinggi martabat kaum perempuan. Hal itu juga terlihat dari adab dan etika berinteraksi dengan mereka, baik di rumah maupun di jalanan.  Di jalanan, merupakan aib (celaan) bagi kaum lelaki jika berjalan di belakang perempuan. Hal itu bertujuan agar terhindar dari pandangan mengandung syahwat atau hal-hal negatif lainnya. Konon lagi sampai nekat melakukan tindakan pelecehan terhadap kaum hawa tersebut.

Masih banyak lagi fakta unik dan khas kaum perempuan Tarim yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu di sini. Anda boleh saja heran dengan sikap warga setempat terhadap kaum wanitanya. Namun, bagi wanita Tarim, ini merupakan adat dan tradisi yang sangat memberikan nilai positif dalam kehidupan mereka. Hal yang sama juga diungkapkan Perwakilan Forum Kaum Perempuan Tarim melalui telepon selulernya ketika diwawancarai Radio Darul Musthafa beberapa waktu lalu.

Karena kuatnya mereka dalam menjalankan ajaran Islam, meskipun hidup dalam kesederhanaan, namun kehidupan mereka jauh lebih tenang daripada “perempuan-perempuan dunia bebas” umumnya. Oleh karenanya, hampir dua tahun berada di kota tua ini, saya tak pernah mendengar kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perampokan, penindasan, apalagi pelecehan seksual terhadap kaum perempuan. Baik di sekolah, pasar-pasar maupun di jalanan. Begitulah hasilnya ketika syariat Islam benar-benar diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Singkat kata, wanita Tarim aman dari segala bentuk pelecehan. Tidak diragukan lagi kecantikan dan kesucian lahir batin 100 persen hanya menjadi milik orang yang telah halal baginya. Semoga bermanfaat bagi saudara-saudara saya, urueng inong Aceh di Tanoh Rencong. Saleum.

Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email [email protected].id (uri/strid/lleonora/AE)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id