Thung Song, Kota Tanpa Sampah | Aceh Uri.co.id

Aceh Uri.co.id

Menu

Thung Song, Kota Tanpa Sampah

Foto Thung Song, Kota Tanpa Sampah

OLEH DIAN RUBIANTY MPA, Fulbright Scholar, Staf Pengajar FISIP UIN Ar- Raniry, melaporkan dari Thailand

BARU-BARU ini berlangsung “The 2nd LAKSA Seminar: Cultural Connectivity towards Sub-Regional ASEAN Partnership” di Thung Song, kota kecil di Provinsi Nakhon Sri Thammarat, Thailand. Saya diundang sebagai salah satu pembicara.

Ini seminar kedua yang mengundang delegasi dari negara ASEAN lainnya sebagai bagian dari Festival Laksa Ke-9. Tujuh festival sebelumnya merupakan acara khas perayaan tahunan bagi warga Thung Song saja. Wali kotanya kemudian mengembangkan acara tahunan di kotanya ini menjadi wahana membangun kebersamaan antarbangsa sekawasan melalui laksa (masakan) dan budaya.

Menarik untuk dicermati bahwa ternyata ide besar ini lahir melalui pemikiran seorang wali kota dari kota kecil bernama Thung Song, di bagian selatan Thailand yang sering bergejolak karena konflik. Kota yang hampir semua kita nyaris tak pernah mendengar namanya. Namun, kami dibuat kagum selama acara berlangsung.

Kekaguman pertama muncul ketika tahu bahwa semua panitia acara ini adalah guru dari taman kanan-kanak sampai sekolah menengah atas. Festival Laksa–semacam Festival Kuah Beulangong di Banda Aceh–ini berlangsung tanpa event organizer. Semuanya guru yang terlibat!

Selain jalan antarkabupaten/kota yang lebar dan teratur, kami juga iri melihat “Peunayong” di Kota Thung Song yang tertata rapi, dipisah jalan utama empat jalur. Jalan-jalan hingga lorong-lorong dalam pasar terlihat bersih. Tak ada sampah! Saking bersihnya, setiap kali melintasi kota ini kami bermain lomba siapa yang pertama bisa melihat sampah.

Yang lebih mencengangkan, kami tak menemukan tong sampah di kota itu. Bahkan tak ada tong sampah di pasar-pasar mereka yang suasananya tak jauh beda dengan Pasar Peunayong di Banda Aceh.

Pada acara seminar, ada sesi khusus di mana para wali kota berbagi kisah suksesnya, termasuk Wali Kota Thung Song yang berbagi kisah tentang tata kelola sampah di kotanya. Ternyata kota ini “beriman” (bersih, rapi, dan nyaman) bukan karena ada “bersih-bersih massal” menyambut seminar internasional. Kota ini bersih karena kepahaman dan kesadaran warganya dalam menerapkan konsep zero waste, kota tanpa sampah. Maka, tak ada tong sampah di “Peunayong” mereka.

Pergantian konsep tata kelola sampah di kota ini menjadi “kota tanpa sampah” berawal dari keprihatinan sang wali kota akan volume sampah yang terus bertambah. Wali kota mencoba langkah berani dengan menerapkan konsep zero waste. Langkah pertama yang dilakukan Pemko Thung Song adalah mendefinisi ulang masalah sampah. Selama ini semua pihak menyebut sampah sebagai “municipality waste” alias sampah kota. Dari definisi tersebut, Pemko Thung Song menjadi pihak yang harus bertanggung jawab atas tata kelola sampah di kota tersebut, mulai dari proses penyediaan tempat sampah, mengambil sampah yang terkumpul dari setiap tempat sampah di seluruh kota, kemudian memastikan bagaimana gunungan sampah yang terkumpul setiap harinya itu akan dikelola. Warga hanya perlu membayar 30 baht, maka persoalan sampah mereka selesai.

Wali Kota Thung Song mengganti istilah sampah pemko menjadi people waste (sampah warga). Definisi berganti, seketika mengubah arah kebijakan pemko mengenai tata kelola sampah di kota ini. Tanggung jawab pengelolaan sampah “dipindahkan” dari pundak Pemko Thung Song ke tangan warga kota. Di kota ini sampah bukan milik kota, tapi milik masing-masing rumah warga, usaha, atau kantor. Your waste is not my waste! Mengajak warga ke luar dari zona nyaman, untuk kemudian bersusah-payah mengedukasi mereka mengurus sampahnya sendiri, tentu bukanlah tugas yang mudah.

Kekaguman kami yang ketiga jatuh pada sosok sederhana orang nomor satu di panggung politik Kota Thung Song saat ini, Pak Wali Kota yang ramah dan tampak dekat dengan warganya. Bahkan kami mendapat kehormatan, ketika suatu kali beliaulah yang membukakan pintu minibus untuk kami semua. Pemimpin yang sangat merakyat!

Tak heran wali kota ini sudah terpilih untuk masa jabatan ketiga. Ya, untuk tingkat kota/kabupaten, tak ada batasan periode kepemimpinan di Thailand.

Luar biasa pula sikap rendah hati dan sigap melayani dari sang wali kota. Kepedulian, kesabaran, kerja keras, dan komitmen beliau terlihat ketika mencontohkan sendiri bagaimana warganya memilah sampah.

Tong sampah di depan balai kota dituang, lantas dengan mengenakan sarung tangan beliau mulai memilah sampah dan menjelaskan kepada kami. Program zero waste, hidup tanpa sampah, dimulai dengan cara berpikir tidak menciptakan sampah. Hal itu harus dimulai dan dicontohkan pertama kali oleh kantor pemerintah kota. “Dengan kerja keras dan contoh nyata, kita akan memenangkan hati mereka. Kita akan mendapatkan kepercayaan warga,” begitu katanya.

Sambil menjelaskan, kedua tangannya terus bekerja. Sampah pun selesai dipisahkan menjadi dua bagian utama. Bagian pertama sampah organik berupa sisa makanan. Bagian kedua, aneka pembungkus makanan, botol minuman, dan kemasan makanan cepat saji. Semua dicontohkan Pak Wali Kota tanpa ragu dan kikuk di depan semua tamu. Kalau mau dan peduli, Banda Aceh dan Aceh bisa seperti Thung Song! Bukankah sudah selayaknya sebuah kota madani seperti Banda Aceh adalah kota yang “beriman”? Selamat ulang tahun Banda Aceh! Mari bekerja dan berdoa, mewujudkan mimpi kita menjadikan kota ini kota madani, untuk semua.

* Jika Anda punya informasi menarik, kirimkan naskahnya, termasuk foto dan identitas Anda ke email [email protected] (uri/anni/addad/BH)

Komentar

Jadilah orang pertama yang memberikan komentar!

Aceh Uri.co.id